Sastra Lampung Post

Jumat, 19 Maret 2010

DASAMUKA (Putu Wijaya )

DASAMUKA

monolog

Putu Wijaya


DASAMUKA SEDANG BICARA DENGAN KESEMBILAN BUAH KEPALANYA YANG LAIN YANG BERJAJAR DI MEJA. IA NAMPAK SANGAT KESAL, MARAH DAN TAK SABARAN, NAMUN BERUSAHA TETAP BERBICARA DENGAN JELAS TAPI TEGAS.

Setelah kupikir-pikir, ternyata kesepuluh kita semuanya menganut idiologi yang berbeda. Ada yang kiri, kanan, tengah. Ada merah, hijau, bitru, kuning, putih ada juga yang abu-abu. Ada lagi yang mengaku tidak berwarna. Pokoknya semrawut.
Maka sebaliknya dari bekerja dalam satu tim yang kompak, kita akan selamanya gontok-gontokan. Saling cacad, mencela, menghina, bahkan juga menyumpah, memaki dan kemudian mengutuk.Meskipun awalnya sudah ada kata sepakat akan memberikan aku yang terpilih sebagai pemimpin untuk berkuasa, pada prakteknya kalian terus saja mendongkel. Jadi praktis tidak mampu meramp[ungkan apa-apa.
Berunding, berunding saja terus. Sudah banyak sekali uang habis untuk biaya siding. Peraturan juga sudah berhasil kita buat. Tapi tidak ada yang jalan baik. Karena, kita selalu berbeda dan mau menang sendiri.
Walhasil, perang mulut itu ternyata tidak bisa diselesaikan hanya dengan mulut. Kata-kata dan kalimat yang paling tajam, kasar, berbisa dan pedih sudah diobral, tetapi hati belum puas. Perbedaan idiologi memang tidak akan mungkin menemukan kesepakatan, kecuali kalau ada yang menang. Tapi kalau menang pasti hanya satu, lainnya kask-kusuk dan itu. Akhirnya tangan tidak bisa lagi berdiam diri. Sepuluh pasang tangan yang harusnya kita pakai untuk banting tulang, kita pakai untuk memukuli kepala kita sendiri.
Perang saudara sudah meletus. Semua juga tahu perkelahian di antara saudara bisa lebih berdarah, lebih kejam dari persetruan dengan musuh sebenarnya. Seluruh tenaga dikerahkan untuk mengalahkan lawan. Tak cukup mengalahkam, kalau bisa melenyapkan sama sekali. Kemenangan menjadi cita-cita setiap kepala.
Tetapi kemenangan hanya ada di tangan satu juara. Sisanya berarti kalah. Hari gini, mana ada orang yang sudi kalah. Dalam pemilihan umum yang konon demokratis dan fair pun, yang kalah tak mau menyerah. Dia terus saja menyerang dengan garang. Dan kalau ada kesempatan pasti akan menerkam setiapsaat untuk merebut kemenangan itu, walau pun bukan haknya.
Jadi memang bikin pusing. Berat badanku sudah kontan melorot 100 kilogram. Makanan tidak ada yang enak lagi. Darah segar manusia sudah tidak manis. Perawan-perawan tinting yang dijarah dari mancanegara dengan kecantikan melebihi Dewi Shinta, juga tidak lagi menarik. Raja Alengkaini jadi kehilangan kesabaran.
Ya sudah kalau memang terus bertengkar, buat apa tinggal bersama-sama dalam satu badan. Pusing aku! Mulai sekarang terserah kalian semuanya! Kalau memang sudah berbeda dan tidak mau bertenggang rasa hidup berdampingan, ya sudah, kita berpisah saja. Terserah kalian masing-masing. Mau pergi ke mana saja, silakan. Ke Amerika, Rusia, Australia, Arab, Afghanistan, Cina, Singapura, India, monggo. Pergi sana!
Jangan bikin ribut lagi di sini, gua udah muak dengan semua itu! Emang cuma elhu-elhu yang gua pikirin?!!!!”

DASAMUKA MENGGEBRAK MEJA DAN MENENDANGNYA . MENUMPAHKAN SEMUA KEPALANYA. MEJA MENGGELIMPANG DAN KEPALA BERSERAKAN. SALAH SATU KEPALA MENYAMBUT. (DIMAINKAN JUGA OLEH DASAMUKA

DASAMUKA BERDIRI DAN KETAWA

Bagus. Meskipun keputusan itu terdorong emosi, tapi itu keputusan yang sah. Aku sambut. . Biar pun itu diucapkan oleh otak yang lagi senewen, aku tak ambil pusing. Kesempatan yang berabad-abad aku tunggu-tunggu barang sekarang ini sudah terbuka. Mimpi apa ini. Tak perlu lagi beradu argument, tak usah menyusun pembelaan, tidak perlu mencari timing yang pas, semuanya sudah bisa hengkang. Merdeka!
Detik ini juga aku minggat. Aku tidak perlu lagi beres-beres. Sudah sejak puluhan tahun semua barang sudah aku pak rapih. Tinggal cabut! Lebih baik kabur sekarang daripada berubah pikiran.
Selamat tinggal badan yang sudah memenjarakan aku bertahun-tahun! Tidak ada yang lebih membahagiakan dari kemerdekaan. Sekarang aku akan menentukan langkah dan tujuanku sendiri dengan bebas, tidak seperti dulu. Inilah baru kehidupan. Ini kehidupan baru!
Itu lihat! Semuanya meloncat ke arah yang berbeda-beda. Dalam sekejap mata, kebisingan yang biasa memekakkan sekarang sunyi. Sunyi yang menggigit-gigit, sehingga nafas waktu yang bergeser kedengaran jelas. Seperti katak yang nyemplung di danau hutan senyap dalam haiku Baso. (KETAWA) Hening dan sunyi sekarang menyanyi.

BERJALAN-JALAN.

Untuk pertama kali, sejak ribuan tahun yang penuh dengan kehebohan, aku akan bisa tidur nikmat. Aku akan mendengkur sepuas-puasnya, sehingga kaca-kaca jendela pecah.
Aku akan menancap dalam mimpi perjalanan ke surga dan tidak usah digebrak-gebrak bangun-bangun lagi untuk menebar kejahatan. Aku akan masuk ke dalam lelap yang dalam nikmat tanpa ujung. Badanku rindu meresapi tidur sempurna yang sempurna.


MELEMPAR BADANNYA DAN JATUH DALAM POSISI TIDUR, LANGSUNG MENDENGKUR. TIBA-TIBA DIA TERBANGUN. INI DASAMUKA YANG SUDAH DITINGGAL OLEH 9 KEPALANYA. TERKEJUT.

Sudah pagi? Kenapa tidak ada yang membangunkan aku? Fajar tidak pernah mendahuluiku.

BANGUN. BERJALAN DAN TERKEJUT.

Dan kenapa begitu sepi. Biasanya subuh-subuh sudah ada yang memaki-maki dan brrkelahi. Kenapa tiba-tiba lain. (SUARA KAPAL) Stop! (MENUTUP TELINGA) Dengung sayap nyamuk itu seperti satu skuadron helikopter. (SUARA LEDAKAN KERAS)


DASAMUKA LANGUSNG MENGGAPAI SENJATANYA. DAN BERSIAP.

Apa: bukan musuh? Hanya suara angin menggasak daun jendela? Gila, kenapa jadi seperti gedebur musik heavy metal?


DIA MENGAMAT-AMATI KEPALA SEBUAH . LALU MEMUNGGUTNYA.

Ya Tuhan. Ini kan anggota kepalaku?

MENOLEH DAN MENEMUKAN KEPALA-KEPALA YANG LAIN. DIA MENGUMPULKANNYA DAN MEMEMANGKUNYA.

Jadi aku sudah tidak punya sepuluh kepala lagi? Hanya tinggal satu? Sembilan kepala dan sembilan pasang tangan smbilan pasang kaki sudah kabur?! Ya, betul, mereka semua melarikan diri. Tidak mereka sudah izin baik-baik. Dan aku tidak peduli!

BENGONG

Jadi kalau begitu sekarang aku tinggal sendiri?

SUARA KETAWA DI KEJAUHAN

Itu mereka. Kalau sendiri, memang hidup menjadi lebih tenang. Tidak ada yang protes. Tetapi

SUARA KETAWA BERDERAI DI MKEJAUAHAN. DASAMUKA MEMEGANG KEPALANYA YANG BERDENYUT.

Kepalaku! Batok mkepalaku kosong. Rasanya seperti disedot. Aduh ini baru sakit. Hee ini sakit apa kok sakit sekali! Berhenti!!!! Tidak, tidak bisa! Aku sudah terbiasa dikepung keributan, dilontar ke tempat yang asing begini, aku jadi ngambang. Aduh! Aku tidak kuat! Sepi lebih menyakitkan dari keributan.


PANIK


Aduh! Telinganku ditusuki jarum! Kesepian ini liar, menggigit, berbisa. Sunyi ini seperti bor enusuk ke dalam rongga dada menyerang hati. Jantungku berdebar-debar. Nafasklu sesak! Pasti, aku bisa pastikan aku diserbu rongga kosong yang nyaring berdering. Jangan! Hentikan! Aku tidak kuat!

BUNYI NYARING MEMEKAKKAN. DASAMUKA MENUTU TELINGANYA DAN BERGULING-GULING MENAHGAN SAKIT. AKHIRNYA IA MENJERIT-JERIT

Stoooop!

BUNYI NYARING BERHENTI.

Edhan! Kenapa jadi begini? Kenapa jadi begini? Heee jawab!

MELIHAT KE SEKELILING

Biasanya kalau aku bertanya pasti kepala-kepala itu akan rebutan menyahut. Sekarang suaranya tidak ada yang mendengar. Tak ada yang menjawab. Tak ada yang memprotes. Tidak ada yang peduli. Sunyi sekali. Aku sendirian! Seperti keris panjang sepi menusuk menusuk jantungku perlahan-lahan.


KESAKITAN MEMEGANG DADANYA. KEPALA-KEPALA ITU TERLEPAS DARI GENGGAMANNYA, KEMBALI BERSERAKAN.

Gila, aku tidak bisa begini! Aku tidak kuat!

DIA BERGULING KARENA KESAKITAN.

Sudah! Sudah! Berhenti! Wah, wah, wah, kalau begini caranya, enakan juga punya banyak kepala!

DASAMUKA KEMBALI BERUSAHA MENGUMPULKAN KEPALA-KEPALA ITU. TAPI TAK SATU PUN BERHASIL IA JAMAH. LUPUT, MENGELAk, ATAU MENTAL KETIKA DIA SENTUH.

Ayo kembali!!! Pulangg lagi! Pulang!!!


BANGUN DAN MENGUMPULKAN KEPALA-KEPALANYA, TAPI TAK BERHASIL. IA MENGAMBIL SAPU DAN MENCOBA MENYAPU KUMPULKAN KEPALA-KEPALANYA, TAPI TAK BERHASIL. IA MENGAMBIL KAIN DAN BERUSAHA MENANGKAP KEPALA-KEPALANYA TAPI TAK BERHASIL. AKHIRNYA IA PENASARAN, LALU MEMUKUL-MUKUL KEPALANYA, SEPERTI MENANGKAP MAHLUK LIAR YANG TIDAK MAU DIKUASAI, TAPI TIDAK BERHASIL.

Ayo kenapa kamu? Aku rumah kamu! Aku trah kamu! Aku asal-muasal kamu! Kembali! Bersatu lagi! Bersatu!!!!!

IA MENJADI TERLALU CAPEK AKHIRNYA JATUH. DENGAN PUTUS ASA IA KEMBALI KE TEMPAT DUDUKNYA. IA HANYA BISA MELIHAT KEPALA-KEPALA ITU BERSERAKAN. LALU MENCOBA MEMBUJUK.

Kembalilah. Aku tidak kuat kesepian. Aku sudah terbiasa dengan kamu semua.. Ayo, aku mohon. Aku sembah. Kembalilah! Biar kita semua berbeda idiologi, tiap hari ribut, biar selalu gontok-gontokan, biarin, itu kan namanya romantika kehidupan, daripada sendiri begini seperti mati dan dibuang. Aku tidak mau mati!
Ayo kembali. Biar berbeda agama, berseberangan kepercayaan, berlawanan kepentingan, lain nkebutuhan, biar berbeda latar belakang, berbeda suku, berbeda bahasa. Biar berbeda nasib, tapi ayo, ayolah kembali. Jangan biarkan aku sendirian. Aku akan mati. Lihat baru beberapa hari aku sudah lemes. Ini hutan rimba buas, banyak macan di situ, kalau mereka tahu aku hanya punya kepala satu sekarang, mereka tidak akan takut lagi. Mereka tidak akan punya rasa hormat lagi terhadap kita yang mereka kagumi sebagai keajaiban, karena kita berbeda tapi dalam kesatuan.
Ayo. Kembali, kembalilah, Aku mohon kembalii!

TURUN DARI KURSI DAN MERAYAP.

Aku tidak akan memerintah-merintah lagi. Rezeki kita bagi sama-sama. Satu rasa, sama rata.

KARENA TIDAK BERHASIL, DASAMUKA MENCOBA MENDIRIKAN MEJA. LANTAS MENARUH KURSI DI ATAS MEJA. SUDAH ITU NAIK BERDIRI DI ATAS KURSI. DAN KEMUDIAN MERAUNG SEPERTI TARZAN.
.
Pulang, pulang semuanya! Aku membutuhkan kalian. Aku perlukan suaramu. Aku butuh pendapatmu, protes-protes kamu. Aku ingin lagi mendengar sumpah serapahmu. Bertengkarlah di sini, aku akan berikan kesempatan. Pulang semua! Gontok-gontakan di sini di rumahmu, jangan tinggalkan aku sendiri. Aku suka keributan. Aku perlu pergolakan. Aku suka didongkel, disumpah-sumpah, karena itu memang tugasku. Ayo pulang cepat! Aku sudah rindu! Aku akan mencintai perbedaan!

MERAUNG-RAUNG SEPERTI TARZAN. MERAUNG.
.


Astya Puri 27 Maret 08

Diperbarui 21 jam yang lalu · · · Laporkan Catatan
'-Winarna S Marmasiswaya-'
'-Winarna S Marmasiswaya-'
kereenn...sarat makna serta fiilosofi dan pesan moral!!!saluut buat bung PW..
Hari ini jam 12:56 melalui Facebook Seluler · Laporkan
Oky Sanjaya
Oky Sanjaya
mantap. Monolog ini aku bajak ke- cintakuwaktu.blogspot.com
beberapa detik yang lalu ·

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan ke 23

Suatu hari, dimana kami, mempertimbangkan kembali akar. Suatu hari – kondisi telah menentukan takdir kami secara alami; law of nature. Suatu hari sastra, yang dipertimbangkan secara estetispun. Sesungguhnya landasan “pengetahuan”. Kita bergerak “mengetahui”. Sastra adalah upaya membicarakan law of nature. Jangan terjebak dengan pemahaman ini!


17 Juni 2010


Laman