Sastra Lampung Post

Sabtu, 06 Maret 2010

Puisi-puisi A Muttaqin

Kompas, Minggu, 7 Maret 2010 | 04:19 WIB

Pagi

Aku ingin mengejarmu. Kau yang berjalan sedap dan mantap. Mencuri ilmu dan imanmu. Agar aku selalu muda. Semata mula. Sepertimu. Tak termangsa aus dan usia lalu.

Lngkahmu lembut. Teramat lembut bagi kakiku yang luput terpaut. Kau bangunkan aku dari dingin. Dan tubuhku jadi hijau. Hijau bersemu ungu oleh nafasmu. Kau panggil lamat matahari. Dan ia pun hangat terurai. Mencucup bening cintamu yang mengembung hening di dadaku. Lalu kau dan matahari bercakap. Sebagaimana kawan akrab. Angin pun datang. Dan burung-burung terdengar girang. Tapi kau berangsur menjauh. Dengan kaki yang sungguh gaib. Dengan arah yang teramut tertib. Hingga kami, aku, angin dan burung-burung sekali lagi kehilangan jejakmu. Ada yang terjatuh dariku. Sebidang tanah merasa basah. Dan debu diam dalam debarnya. Seperti kelopak langit, kuncup-kuncup wingit mulai terbuka. Menebar serbuk sari doa yang membuat bunga-bunga jadi buah. Yang membuat tangkainya ikhlas melepas merah. Dan kau, pagi, yang membangunkan itu semua, telah entah di mana. Kau seperti sebentuk rindu. Berjarak dariku. Tinggal seberkas panas. Yang mengaku sebagai sodaramu tua. Bercerita tentang senyum

dan kerling dalammu. Ungu. Bagai birahi seorang ibu. Membangunkan malam dan membuat aku hijau. Menunggu. Di pokok pohonku. Tempat telur dan waktu. Menantimu.
2010


Pada Penyadap

Kubiarkan batangku lencir meninggi. Agar angin leluasa menyuir daun- daunku. Agar aku bisa mencuri air surga untukmu.

Minumlah. Airku segar, lagi baik, lagi mampu menawar racun dan rabunmu. Potong tangkai tanganku. Belah juga batok kepalaku.

Sebagai buah pohon teguh, akan kutunjukkan betapa senja tak mampu meredam serabut cintaku. Hikmati daging deganku yang putih

dan lendir cengkirku yang bersih. Makanlah olehmu bila sudah. Dan biar kuteruskan kisah ini, sendiri

seperti kisah kintir yang melahirkan aku di kali-kali, sembari menyusun kenikmatan tanpa tepi, yang akan kauledakkan di rahim mimpi.
2010


Petani

Kami saling berbagi, aku dan sungai. Bunga dan rumput segar menjalar ke tidur kami. Kami saling mengerti dan tak ada maksud mengkhianati.

Seperti sulur nadi, sungai sering mengulur umur permai. Sungailah yang menjaga jagung, kacang dan padi bila hujan tertahan ke bumi.

Di lubuknya yang damai, kucuci daki dan benci. Agar bersih badan dan hati ini. Kugiring juga ternak untuk minum atau mandi.

Dan sungai slalu menyambut dengan riak gelak, yang memekarkan bunga semak. Di saat begini, kami sering tertawa walau tak sampai terbahak.

Tak pernah kami berbohong. Apalagi saling memotong. Tanpa banyak omong kami saling menolong. Kusingkirkan batu-batu di pelupuknya.

Ia beri ikan-ikan untuk mengisi sepi sawah. Kami tak ingin terpisah. Dan kami bahagia. Kami berjanji akan bertemu dalam tawa bidadari sorga.
2010

Semoga roda ini mencukupi putaran. Semoga kerbau ini tak gampang pikun dan lupa jalan. Semoga petani itu selalu dalam lindungan tuhan. Semoga singkong dan padi selamat sampai tujuan.

Sebagai harta petani, aku sungguh mencintai hasil bumi. Aku suka memboyong singkong. Apalagi jika cuaca cerah dan bau singkong begitu sedapnya. Aku bahagia membawa padi. Sebab pada padi kehidupan merangkum diri. Aku senang mengangkut pisang: buah kesabaran yang disayang tuhan. Aku juga tak keberatan memuat hewan buruan: celeng, cuwut, marmut, dan manuk bubut – yang kadang kali menyedapi tiga batu dapurmu. Sebagai harta petani, aku mencintai semua itu, seperti seorang ibu. Tapi sore ini

aku harus mengangkut mayatmu, petani yang selalu membimbing kerbau dengan kesabaran. Roda ini akan pecah sebelum kuburan. Dan tanpa kau, kerbau itu pasti mendadak pikun dan tak tahu jalan.
2010


Pulang

Aku telah berjanji akan mengembalikan bajumu. Aku juga berjanji akan meninggalkan kenangan tentang baju itu, seperti ingatan tentang kupu dan bulu-bulu. Sudah kubilang, semua hanya soal waktu. Dan akan kutanggalkan bajumu, seperti kelopak yang harus jatuh. Sebab, begitulah kembang berpulang dan biji tandang kepayang. Kini, saatnya aku jadi buah. Tak penting buah apa. Dan tak perlu kauberi nama. Seperti kupu dan angin yang melahirkannya
2009

A Muttaqin lahir di Gresik, tinggal di Surabaya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Catatan ke 23

Suatu hari, dimana kami, mempertimbangkan kembali akar. Suatu hari – kondisi telah menentukan takdir kami secara alami; law of nature. Suatu hari sastra, yang dipertimbangkan secara estetispun. Sesungguhnya landasan “pengetahuan”. Kita bergerak “mengetahui”. Sastra adalah upaya membicarakan law of nature. Jangan terjebak dengan pemahaman ini!


17 Juni 2010


Laman

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Newsreel

Loading...