Sastra Lampung Post

Tampilkan postingan dengan label Sajak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sajak. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 Desember 2010

Puisi Agit Yogi Subandi


Copyright © 2003 Lampung Post. All rights reserved.
Minggu, 19 Desember 2010

Berjalan

seperti dugaanmu, aku telah menempuh jalan ini: berjalan dalam bimbang dan tetap sadar di dalam malam, meski akhirnya, kita memahami bahwa kata "sampai" akan tersuruk pula ke dalam makna yang selama ini acap kita cari-cari. seperti katamu dulu, jalanan ini memang begitu kedap. tak terhitung teriakan yang lesap ke dinding dan beton-beton di pinggir jalan, bahkan lorong-lorong, yang seharusnya memiliki gema di kala malam, telah mengecoh logika bahwa gema itu kosong. teriaklah sekuatmu, tak ada yang mendengar, karena setiap orang telah disibukkan dengan teriakan masing-masing. orang-orang hanya dapat melihat rautmu yang mengerut dan memancar. tak ada yang perduli, tak kan ada.

seperti katamu pula, menuju sebuah tempat yang dicita-citakan dengan menempuh jalan ini, kita jadi mengerti siapa yang pulang dan yang pergi dan siapa yang tak memiliki tempat kembali dan tempat untuk pergi. kini aku bersaksi, tentang jutaan debar di jalan ini yang hilang begitu saja, ada resah yang tak sempat sampai kepada gelisah, ada gelisah yang tak sempat termaktub ke dalam kisah. dan seperti katamu pula, bahwa di jalan ini, banyak orang menghiba pada sesuatu yang tak terduga. dan aku selalu mengingat kata-katamu, “berjalanlah, seperti orang yang benar-benar sedang berjalan.”

(Tanjungkarang, 2009)

-------

Agit Yogi Subandi, lahir di Prabumulih, Sumatera Selatan, 11 Juli 1985. Dibesarkan di Lampung. Alumnus Fakultas Hukum Universitas Lampung. Bergiat di Komunitas Berkat Yakin (Kober) Lampung.

Minggu, 18 Juli 2010

Puisi-Puisi Deny Tri Aryanti

Jawa Pos, Minggu, 18 Juli 2010

Karena Tahun Tak Pernah Berulang

saat kukenang kelahiranku yang terselip butiran tanah merah

yang nampak hanya roncean semboja

di antara keabadian tak terbaca

seperti teriakan ku yang masih saja menjadi teka-teki ''cinta maya''

adakah kemolekan dari sebuah tarian sunyi

saat berputar-putar mengelilingi mimpi

bercinta dengan abjad yang semakin renta

dan memberikan bayang-bayang sebuah ironi

adakah engkau di sini

saat tetesan pelangi mulai melahirkan kereta kencana

menembus fatamorgana

seolah merantas segala kemuskilan yang tengah kau tawarkan

munkin kelahiranku adalah tawa

munkin juga mengenangnya adalah sebuah luka dari seonggok nyawa

tapi aku mampu menundukkanmu dalam siluet kata-kata

dari detak angka dari detik waktu

semua legenda hanya sebuah dinasti tak bertuan

mungkin masa lalu adalah kesiaan

saat hanya kesepian yang mampu memberikan senyuman

Aku sadar doamu adalah sajak tanpa nyawa

melesatkan waktu dalam hentakan abad

saat terjalku menjelma mimpi dalam lorong masa lalu

dan bayanganmu hanya cerita yang sia

karena tahun tak pernah berulang

Sby- dari seberang mimpi

Dalam Diamku

Kubungkus resahmu dalam gulungan mimpi

Kutorehkan kematian pada sudut pelangi

Hingga sunyi pun tak mampu membaca tanda koma

Lautku mulai memerah

merapatkan sayap senja tanpa perisai kata

menuangkan buihnya pada lengkung cadas

Aku kehilangan luka

tentang darah

yang pernah engkau ceritakan pada air mata

tentang lorong

yang pernah kau sembunyikan di ketiak burung hantu

Aku memungut serpihan kaca

yang kau sebar di wajahku

kurajut dalam untaian fatamorgana

menjelmakannya pada sebuah siluet tentang kemuskilan

Aku masih berharap

laut menuangkan vodka di ujung bibirku

Aku masih berharap

buihnya akan menjadi kemabukan yang indah

aku pun masih ingin menganggap

tebingmu adalah kebosanan yang terlelap dalam resah

Aku masih menunggu detik ini

di ujung jarum jam yang menenggelamkanku pada kebisuan

Aku resah di ujung waktumu

aku gelisah di ketiak lentera angan-angan

Mimpi kita adalah dosa yang indah

Waktu kita...hanya malam tanpa kelambu

hanya sejarah tanpa tanda baca

yang tak mampu mengeja setiap kisah

tentang doa dan dosa

Oktober 2009

Deny Tri Aryanti, lahir di Trenggalek, 7 April 1980. Jebolan D3 Pariwisata Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga Surabaya. Belajar berkesenian dan menulis di Teater GAPUS Surabaya, tergabung dalam komunitas

@rek pilem Surabaya.

Sabtu, 10 Juli 2010

Sajak Iyut Fitra

Koran Tempo, 11 Juli 2010

DARI BEBERAPA BAGIAN


1. datang malam
di luar musik jazz mulai dimainkan. gerombolan lagu lama
atau mungkin seorang kulit hitam menjeritkan birahi malam
di teras, seekor capung terluka baling-baling kipas angin
sedemikian panjangkah waktu atau justru sangat singkat
malam mulai merambat. mulai lesat

2. larut malam
jangan kauduga itu suara ketitiran atau pipit sawah. hanya hempas
ombak yang ramah. dari waktu ke waktu kita senantiasa mengulang
kata pergi dan pulang. kini kau terhampar di ranjang
mimpi apa yang kau inginkan?

jangan kausebut ini sepi atau segerombolan laron yang tercampak
di trotoar. barangkali detak nadimu sendiri yang bergetar
seolah bunyi sitar. menggiring galau pada ujung yang kauusung
: kau menaiki kereta yang nyinyir

3. telah pagi
bunyi yang satu ini seperti uir-uir. (kuingat kampung halaman
tatkala melintasi tebing menuju sawah. sebatang pimping melukai jari
tanganku). ah, barangkali serupa dendang yang dilantunkan gadis kecil
di anak tangga. kampuang den jauah di mato...
lalu matahari yang menyapamu. adakah kaupahami makna rantau
bagi lelaki

4. terik siang
bayang-bayang tak mau tinggal
benarkah itu kesetiaan yang berceceran sepanjang jalan. atau...

5. menjelang dan sesudah senja
kaulihat awan berkemas. setelah upacara dengan matahari ia tinggalkan
waktu tergolek pasrah. alangkah banyak mimpi berkunjung
ke dalam hidup. tapi kita tak bisa meraih semuanya. sungguh tak bisa!
"lalu begitu setiakah kita dengan luka? begitu tak berdayakah kita
digiring bayang-bayang ke tempat-tempat semu semata?" teriakmu
sebelum orang-orang mulai menutup jendela dan pintu

senja lepas sudah. aku tak melihatmu lagi di antara pasir, capung-capung
dan debur laut. hanya sedikit pesan yang kau tinggalkan di sebuah
surat kabar sore: waktu tak selalu ada sebagai hitungan

2010

DAN KITA BERTEMU DI BALE TIMBANG

serupa gadis belia. harum putik padi, dan dada yang tumbuh
17 tahun jarak diperam dalam hujan atau asin garam. 17 tahun almanak tersimpan
sampai resan. dan kita bertemu di bale timbang
di malam tepi kota yang hampir kita lupa aromanya. kau ditemani seorang perempuan jepang dan pelukis burung hantu. aku masih dengan baju lusuh yang kemarin
"durian yang kita tanam sudah berbuah, tidakkah kaucemburu pada waktu?"
kau kembangkan lagi jalan-jalan. debu kota serta polusi yang berubah jadi pelangi

kemudian kita bercerita tentang pohon-pohon
sepetak tanah yang akan kautetesi susu. "aku ingin jadi ibu, meski cinta
adalah kata yang selalu terlambat!" katamu seolah mengukur-ukur sesal
(di matamu--dan itu jelas tak bisa kausimpan--ada gelegak amarah ingin
berloncatan). seekor kunang-kunang rebah di samping meja
perempuan jepang dan pelukis burung hantu memesan jus jambu
"mereka datang hanya untuk menyuburkan benci di tubuhku!"

17 tahun jarak diperam dalam hujan atau asin garam
17 tahun almanak tersimpan sampai resan
dan kita bertemu di bale timbang
bercerita tentang pohon-pohon

Denpasar, Mei 2010
Iyut Fitra lahir dan menetap di Payakumbuh, Sumatra Barat. Kumpulan puisinya adalah Musim Retak (Horison, 2006) dan Dongeng-dongeng Tua (Akar Indonesia, 2009). Giat di komunitas seni INTRO.

Puisi-puisi Tjahjono Widijanto

Jawa Pos, Minggu, 11 Juli 2010

Lukisan Perempuan di Museum Blanco

debu berebut merajam waktu

aku terpenjara mata perempuan

semata perempuan dalam kanvasmu

mata yang menari entah dalam irama

gamelan, jazz, bosanava atau salsa.

mata yang samar serupa kabut

memucat pada lembar biografi

mefosil dalam geletar ingatan

mata perawan menyimpan rahasia api

buah larangan yang disembunyikan dewa-dewa

pada bilik-bilik kahyangan yang pengap

ruas tubuhnya bergetar menafsiri rahasia malam

jejak-jajak malaikat tersesat

pada rambut yang berkibar-kibar

meramu wangi udara serupa harum sesajen

ditaburkan pada pori-pori di tubuhmu

di tengah ranum bola matanya

jalan-jalan rumpil berkelok-kelok,

sungai dengan jenggot sulur yang getas

di antara akar-akarnya

bayangmu bergoyang-goyang

bungkuk dan batuk-batuk di bangku batu

menganyam senja, jarak, peristiwa

juga warna malam dan awan

menunggu menjadi hantu di taman tua

merajam sunyi menjadi bunyi

Ubud-Ngawi, 09/010

---

Camar Mencari Ceruk Karang

waktu yang digaris gerimis mengingatkanku

ketika tapak kaki bergilir satu-satu menapak jalan setapak

mendadak matahari begerak pelan terbenam di wajahmu

bersama kleneng lonceng yang ditabuh bergantian

mengiringi lumut-lumut liar dibesarkan embun

bertumbuhan menggerogoti batu-batu tepian

''kuiringi perjalananmu bersama dongeng ibu selepas senja'' bisikmu lamat-lamat

sebongkah mesiu rindu meledak di pusat jantung: amis keringat bapa,

harum rambutmu, juga suara bocah-bocah main jamuran di pelataran

sebelum mengabur dalam lembar kalender yang berlepasan

dan kita terperangkap cuaca bersama getar kuncup bunga

kenangan purba yang berhamburan dalam warna tanah

selangkah lagi sampai di ujung belawan

angin menuliskan pesan di ranting-ranting: ini tak akhir perjalanan!

mendadak danau di kelopak matamu mengobarkan api

membuka kembali rute-rute perjalanan yang mesti dilalui

meski bumi menjadi murung kehilangan kata-kata

di ujung belawan di awal malam, seekor camar berputar-putar dalam gelap

mencari sisa ceruk karang yang akan ditatahnya jadi sarang terakhir

Ngawi, 2009/2010

---

Kunti di Tepi Kali

ranjang batu, ayunan batu, lumut di atas batu

kenangan yang akan setia mengunjungimu

dia akan mengingatkanmu tentang kalender yang pernah tanggal

segera musnah oleh taring rayap tapi angkanya tetap tinggal

alir kali jalan kenangan terpanjang

lurung waktu tak bisa dipagar kawat berduri

di laut gericiknya akan sampai

di hulu-hulunya kau akan menemu sampan

melayarinya seperti nahkoda haus mengangkat sauh

menitip rindu pada tajam cadas karang

rindu yang beku dan kelu

meledak dalam palung paling arus

kenangan akan turut meledak dijakunmu

membayangkan ibu mengibar-ngibarkan sejarah

pada secarik kutang di kain jemuran

melambai-lambaimu bersama angin

mendekam ngilu di sebujur pori-porimu

''Radeya, eja dan rapal namamu dengan benar meski lidahmu beku!''

Di gudang tua itu suatu saat akan kau dapati potretmu

ibu meletakkannya di samping pigura laki-laki

yang disebut-sebut sebagai suami

''Radeya, tak usah kau risau

toh sebuah nama adalah fana

seperti debu kelak turut larut

dibawa lari kereta kudamu

menuju dunia yang lain lagi''

Ngawi, 2008/2010

Tjahjono Widijanto , lahir di Ngawi, 18 April 1969. Buku puisi tunggalnya: Ekstase Jemari (1995) dan Dunia Tanpa Alamat (DKJT, 2003). Diundang menjadi pengajar di Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, Korea Selatan (Juni, 2009), peserta Festival Sastra Internasional Ubud Writter and Reader Festival 2009.

Puisi-Puisi Ulfatin Ch.

JawaPost, Minggu, 20 Juni 2010


Belum Tuntas Kata

Belum tuntas kata

yang berkelok di tikungan itu

jejaknya masih lekat di lengkuk mataku

sebagaimana dulu kita mengurainya dari kelam

hingga malam

dari siang hingga petang

Dan matahari itu sudah meninggi

meninggalkan kita

menyisakan bayangan menghitam

di belakang

2009

---

Membaca Batu

Akhirnya, wajah kita yang tertunduk

membaca batu-batu di sepanjang jalan itu.

Dingin udara malam melangkahkan kaki kita

berputar seperti piringan di taman

tapi, tak juga sampai pada kata

pada nada yang terkemas. Hingga kudengar lagu

Mestinya Tuhan menciptakan kita bahagia, katamu

tapi, angin yang kesiur hanya menjawab rindu

2009

---

Laut dan Nelayan

Seberapa dalam lautan, nelayanku

ombak pun seperti diam

saat kausentuhkan jala ikan di atasnya.

Dan dengan kesabaran rindu

kau menunggu

berlayar bersama camar-camar timbul tenggelam di atas samudera

Seberapa dalam sudah kau selam lautan, nelayanku

hingga badai hingga gelombang

menahan kokang

rindu pada dendam

2009

---

Rindu Yang Kutanam

Tak ada lagi prasasti itu di sini

di antara subuh yang kauketuk

dan kehadiranmu di pintu

tak ada lagi surat bertuliskan alamat

tak ada

Rindu, biarkan kutanam dalam

jangan kautanya pada buta mataku

2009

---

Aku dan Ismet


Ini hari matahari meninggi

Jejak pejalan terseok ke belakang

di antara susunan malaikat

dan penghianat

Tapi, aku dan ismet terus bernyanyi

melahirkan puisi

menuntaskan sunyi

berdzikir malambertasbih bulan

aku dan ismet bernyanyi

hingga hari mengukir pagi

2009

---

Catatan Cinta Tiga Baris


1

Seberapa dalam cinta kautanam

hingga jera

merampas luka

2

Sungguh aku mencintaimu

hingga waktu memburu

api membakar jiwa

---

Catatan Beranda

1

Tak ada jejak di beranda

tak ada juga lukisan bunga ungu

di halaman depan buku itu

tinggal goresan yang bernama rindu

dan kelopak menunggu

hujan

2

Jika beranda yang kautanya

tolong jangan kauhapus dulu air mata

Sebab embun tak lagi sesejuk pagi

sebab subuh tak kauingat lagi

Jendela yang kutatap hanyalah kekosongan

dan tak ada kehadiran yang bisa diharapkan

Tolong jangan kauseka air mata

3

Selepas subuh

beranda pun sunyi

Sajadah merapat raka'at

saat tahiyat

dan salamku padamu

2010

---

Dan Bunga

1

Dan bunga telah mati

Dan hari pun suri

Dan mimpi tak ada lagi

Dan sunyi itu pun

abadi

2

Mungkin

aku yang merindukan

sebuah taman dengan bunga-bunga

di jambangan itu

matahari jingga di atas kepala

bagai payung nirwana

Mungkin

aku yang merindukan

Kesunyian perpustakaan

yang mengantar kita pada kata

dan lipatan-lipatan kertas

tak terbaca

pada cinta atau pun luka

2009

---

Sajak Gugur

Satu kelopak bunga di taman gugur

satu sahabat, satu teman, satu saudara

dan, entah siapa lagi

menggenapkan hitungan ini

hingga nol di tangkai mawar

Aku sendiri entah kapan sampai

di urutan terdepan mengambil komando

dan kubilang 'siap'

Sedang tangan kita masih meraba

dengan sangat hati-hati sekali

menyisihkan lembar demi lembar buram masa lalu

untuk kita bakar sebagai kenangan

2009

---

*) ULFATIN CH. lahir di Pati, Jawa Tengah menulis sejak SMA dan lebih serius ketika hijrah ke Jogja dan bergabung dengan Teater Eska IAIN Sunan Kalijaga (sekarang UIN) 1989, SAS, dan Mitra Lirika. Kumpulan puisi tunggalnya: Selembar Daun Jati, Konser Sunyi, Nyanyian Alamanda, dan Perempuan Sunyi.

Hari Kusam

Adakah yang mesti kusiapkan saat kau pulang

sedang FB tak bisa kaulepaskan

Hari-hari penat di kepala yang ada hanya umpat

Setelah Kemarin

Setelah kemarin dan hari ini

apalagi yang kaupertanyakan tentang cinta

Keangkuhan telah menutup mata hati

hingga ke sudut paling tepi

Dan tak ada lagi bulan yang sempurna

Apalagi gerhana melunaskan igauan

tentang cahaya malam, riuh anak-anak

dan kelakar para santri di bilik sepi

Tinggal kepak kelelawar dan gema burung hantu

mengamini hingga subuh

tak ada lagi

2009

Akhir Tahun

Hari semakin tua membidik usia

bulan semakin dalam menusuk kelam

Jika kini kupilih sendiri

tak berarti aku kehilangan api

Terompet dan kembang apilah yang membuatku

sunyi menepi di akhir tahun ini

Orang-orang beramai-ramai datang

dari pelosok desa

bergerombol berpusat di kota

menunggu tengah malam tiba

Jika kini kupilih sendiri

tak berarti aku kehilangan api

Anak-anak dan suami membawaku

bermimpi berdzikir pagi

Catatan akhir

Semakin dalam kita

terperosok dalam lingkaran

semakin dalam cinta

menikam kelam

Usai Pesta Tahun Baru

Sudah tuntas bunga api semalam

anak-anak, aku dan suami bersama

dalam satu tikar dimusim durian

Di jalan Kaliurang di tempat para pendatang

bermalam

kami bersendau membelah malam

Dingin ilalang membawakan angin

dari puncak merapi hinggap ke pangkuan

Tak ada api di sana

hanya kerlip lampu dan riuh pejalan

mengantar lelah

pulang

2010

Biodata

ULFATIN CH. lahir di Pati, Jawa Tengah

menulis sejak SMA dan lebih serius ketika hijrah ke Yogya dan bergabung dengan komunitas seniman Yogya tahun 1989

di teater Eska IAIN Sunan Kalijaga (Sekarang UIN) dan SAS, Mitra Lirika, dll.

Karya-karyanya dipublikasikan di media lokal dan Nasional. Dan lebih dari dua puluh antologi bersama, al: Kafilah Angin (Eska), Sembilu (DKY, 1991)Delapan Penyair Baca Puisi (DKJ), Cakrawala (Horison), Festifal International (TUK, 2001), Antologi Puisi Indonesia-Portugal (2008), dll

Antologi Puisi tunggalnya: Selembar Daun jati, Konser Sunyi, Nyanyian Alamanda, Perempuan sunyi.

Sekarang tinggal di jl. Kaliurang Km 7 Gg. Anggrek I no.5 Babadan Baru, Condong Catur, Depok, Sleman, Yogyakarta

Hp. 081578879255


Rasa
Anak-anak Masa Lalu

* Rasa
* Anak-anak Masa Lalu
* Jejak Ditam
* Malam Rajam
* Puisi-Puisi Abdul Wachid B.S.
* L a n d o
* Sajak-Sajak Mashuri
* Menari di Padang Prairi
* Suara Serak di Seberang Radio
* Puisi-Puisi Mustofa W. Hasyim

Sajak-Sajak Mashuri

JawaPost, Minggu, 23 Mei 2010


Berguru pada Hujan

tidakkah kau tahu, betapa rintik itu 'lah menikam dadaku

sebentuk jarum yang runcing, dingin

menggigilkan segala dedahan, dedaun, rimbun tubuhku

hingga segala seakan hancur

dan tak terkenali kembali, lebur

tapi aku masih ingin menyapamu dengan sederhana

seperti dahi pada lantai, seperti matahari pada bumi

seperti telapak kaki pada tanah basah...

tapi mimpimu kabut, jiwamu berumput

kau kekal dan diam di pembaringan

bagai pengantin terpenggal dan tertikam kelaminnya

di gigir rintik, kusembayangi bayangmu

kematianmu

aku lalu berdoa tanpa air mata, agar kelak

wujudmu

masih maujud dalam satu kata

dan tak terkotak, terpeta

dalam kekaburan dan buta

kelak saat hujan menyerpih, dadaku pasti bergetih

namun aku berguru pada derasnya, suaranya

dan linangnya yang tertahan di udara

agar aku bisa melupakan apa yang lah berjejak

di tubuhmu

ihwal namamu, wajahmu dan sebentuk kenang

yang pernah kau pahat di kalbuku

meski perih

Surabaya, 2009

---

Tiba-tiba Kuingin Menggelung Rambutmu

tiba-tiba kuingin menggelung rambutmu, saat melati itu tumpah

dan meruapkan renjana

karna di kepalamu, aku bertemu gambar langit

hati, gelinjang harapan, gerak-gerak terdalam

dari malam

di sana, aku bisa berkaca tanpa suara

saat kuncup kuntum itu masih

dedahkan madah purba

hadirkan telaga, rahim purwa, amsal cinta

mungkin hanya dalam mimpi,

kubisa menggelung rambutku

kArna kau begitu bersetia dengan gelombang, hitam

dan menggeraikan segalanya

di udara

dan ronce melati itu akan sia-sia

tumpah sendiri, seperti hasrat membasuh diri

di padang kerontang

bagai keris kini yang mencari warangka

yang tersesat di sebuah abad yang terlupa

Surabaya, 2009

---

Rumah Kita


telah kugores pedang di aspal ini, dan wajahmu

bersua luka

aku lalu melangkah, saat senja menutup pintu

tinggalkan jejak abu-abu

seperti asap yang tiba-tiba berderap

di benak dan atap

tampak rumah kita di persimpangan

pohon randu alas meranggas, dan uap belerang

di antara kawah, di antara dua pegunungan

tak mengekalkan harapan

dan darah yang telah tumpah tak juga bangkitkah gairah

sungguh, tak ada yang terjanji di sana, saat api

padam dinihari

dan laut tak jua deburkan harum ombak

bagai bunga pudak

sungguh, tak ada ... kecuali luka yang memanjang

di jalan-jalan

dan luka wajahmu seperti perempatan penuh debu

terpatri di kamar kita, di antara dinding bambu

lantai tanah,

dan sebentuk bangku di ruang tamu

mungkin ada yang harus mengingat

lunas pohon-pohon

dan ada yang harus berangkat

ke tanah-tanah tanpa sekat

tuk bersawah dan membukitkan rindu

pada sejarah

: silsilah yang bersudah

Surabaya, 2009

Mashuri, penyair dan novelis Surabaya. Novelnya, ''Hubu'' dinobatkan sebagai novel terbaik Dewan Kesenian Jakarta (DKJ)

Puisi-Puisi Mustofa W. Hasyim dan LUBIS GRAFURA

JawaPost, Minggu, 09 Mei 2010

BERSAMA OMBAK

Bersama

ombak

gairah,

cakrawala

buih,

menghisap bayangan

Nyanyian

menempuh mata angin

2001

---

MENGAJAK CAHAYA


Mengajak cahaya

mendaki

rambut

mengibarkan kenangan

2001

---

POHON YANG TERLUKA

pohon yang terluka

hawa menerbangkan kata

ada masa silam

terserak di jalanan

jiwa-jiwa termangu

menunggu lagu asing

menyergap rindu

menyergap pilu

Wonosobo, 2005

---

AKU RINDU SENTUHAN TANGANMU


aku rindu sentuhan tanganmu di dahi

menghalau galau zaman

pada hari ini

alangkah sulitnya berkata

dan bertanya

yang tersisa hanya malam datang

dan datang lagi

keheningan menggenangi

ruang tempat kita bertatapan

butir-butir tasbih

pedih, mengemasi waktu

2005

---

GUBENG KERTAJAYA

Ada malam abadi

mencari sunyi

Wajah mirip kata

tak mampu dijadikan nada

Cukup sebuah lagu

memperluka waktu

Hutang cinta

tak terbayar oleh usia

2010

*) Mustofa W. Hasyim, penyair Kotagede, Jogjakarta

---

LUBIS GRAFURA:


Perumpamaan Hasut


Pecahkan cermin. Rangkai kembali.

Tataplah wajahmu.

Nglegok, 2010

---

Inisial A.

Kalau saja pertapaanku ini,

melebihi batas usiaku

barangkali nanti kan kutitipkan jasad

agar aku leluasa menemui: mu!

Nglegok, 2010

---

Sendiri

Kadang kita butuh waktu:

bermeditasi, mencari persejatian diri

mencari jalan kembali

namun, tanpamu di sini

hidup seolah memilih berhenti

Nglegok, 2010

---

Sajak Kematian


Menanti dirimu

seolah menanti fajar yang menggulung sinar

Hanya saja,

fajar datang sesuai waktunya

Sementara dirimu,

kedatangannya tak tertandai waktu

Penataran, 2010

---

Dalam Sujud


yang berperang tanpa pedang

yang musuhnya arupa mamang

Penataran, 2010

---

*) Lubis Grafura, penyair yang juga guru di SMKN 1 Nglegok. Buku antologi puisinya, Ponari For President (2009) dan Kenyataan dan Kemayaan (Fordisastra, (2009), serta antologi cerpen Ketawang Puspawarna (2009).

Puisi-Puisi Abdul Wachid B.S.

Jawapost, Minggu, 30 Mei 2010

Jalan Menuju Hatimu

Jalan ke arah rumahmu

Begitu mendaki dan berliku

Jalan menuju hatimu

Begitu mencari dan semoga ketemu

Jalan aspal jalanan berlobang

Jalan penderitaan tak berkesudahan

Kulalui di siang ke malam, harap-harap cemas

Jauh pun ditempuh, ada janji belum berbalas

Di belakang jalan tak kutengok sejarah

Di hari kemarin berporsi percintaan berserah

Kepada rasa, ke duli naluri Adam-Hawa yang

Diasingkan dari pintu-pintu surga

Jalan hidup kau aku

Jalanan berbecek, mendaki, melingkar-lingkar

Tapi kau aku tak pernah terasa sakit

Sekalipun percintaan begitu terjepit

Jalanan hari berganti ruang

Jalanan ruang berubah jarak

Sampailah dipisahkan tembok-tembok

Sekalipun percintaan kau aku terus saja mabok

Jalanan cinta

Jalanan penuh kasih sayang

Kau aku menolak sekian kehancuran

Kau aku hidup dalam bayang-bayang kebersamaan

Jalanan angan jalanan kenyataan

Jalanan impian terbentur jalanan bebatuan

Tetapi jalan menuju hatimu

Setidaknya pernah lebur di dalam penyatuan

Yogyakarta, Januari 2009

---

Di Ujung Nun

Di ujung nun

Jalan bercabang dua

Bila yang satu naik, bila yang satu turun

Lalu langkah kaki bertemu di mana?

Di ujung nun

Jalan mengapa menjelma dua?

Di atasnya ada satu titik takdir

Matahari: di mana cinta tak harus berakhir

Yogyakarta, Januari 2009

---

Hari Ini Adalah Puisi Indah

Tiap bangun tidur, masih di atas dipan

Kuhadapkan wajahku ke cermin

Maka di dalam cermin itu kulihat wajahmu juga

Yang meniatkan bahwa hari ini adalah puisi indah

Lalu berlalu aku menuju kran air

Kubasuhkan wajahku dalam urutan wudlu

Kusahadatkan hatiku agar kembali segar

Yang menyaksikan bahwa hari ini adalah puisi indah

Lalu berlaku aku dalam sujud

Kuhunjamkan keningku ke bumi

Ke dalam waktu di mana suara manusia masih dengkur

Yang terbaca bahwa hari ini adalah puisi indah

Betapa nyatanya terasa kata Gus Mus

Sampainya doa akibat tiga perkara

Lelaku siapa itu, di tempat mana dia sampaikan pinta

Dan waktu kapan dia tengadahkan harapan

Tetapi subuh masih jauh

Dan fajar menjadi jembatan cahaya antara bumi dan langit

Tatkala malaikat-malaikat saling ganti berganti

Dalam kerjanya yang tak habis-habis

Hatiku jendela yang membuka

Seperti kulihat wajahku ke dalam cermin

Maka di dalam cermin itu kulihat wajahmu juga

Yang menerangi bahwa hari ini adalah puisi indah

Yogyakarta, 6 Agustus 2009

Abdul Wachid B.S., l ahir 7 Oktober 1966 di Bluluk, Lamongan, Jawa Timur. Bukunya yang telah terbit antara lain Ijinkan Aku Mencintaimu (Penerbit Bukulaela, cet.III-2005), Tunjammu Kekasih (Bentang, 2003), Membaca Makna dari Chairil Anwar ke A. Mustofa Bisri (Grafindo Litera Media, 2005), dan Gandrung Cinta (Pustaka Pelajar, 2008). Kini mengajar di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Purwokerto.

Sabtu, 26 Juni 2010

Sajak Rio Fitra SY

Koran Tempo, 27 Juni 2010

HAL-HAL YANG AKAN IA YAKINKAN

tak ada badan, jelmaan yang merubuhkan tulang, di

sebuah lubang, sewaktu ia tak peduli dengan pulang. tak

ada rumah, dinding yang dibatasi perpisahan, saat dua lambai

lemah mengukuhkan ingatan. tak ada kenangan, di bantal

air mata yang menyembunyikan pertengkaran, ketika kalimatnya

memimpikan getar. tak ada kebisuan yang menggerakkan

isyarat, di sentuhan tuhan, sewaktu tahun-tahun saling jauh-

berjauhan. tak ada ruang, tak ada waktu yang mengambang,

di sisa angkasa, saat cahaya meluncur ke dalam umur. tak

ada masa meski ia telah tua, di antara banyak angka,

ketika ia menghitung jumlah badannya

Padang, 2010

RAHANG

hanya kunyah

dan kenyang mencoba

menarikmu dari kejang.

luar dan dalam pedas

melepas decas. sedangkan

decak nikmatku seperti kawat

yang lamat-lamat melumat

karat. sebatang terkerat

sebilah lagi jadi sekarat. tapi

aku bersikeras menahan serat

cicipan yang disisipkan ke

lubang gigitan. serat yang berkilau

barangkali. hanya kunyah,

setiap hari yang payah,

setiap pagi yang renyah,

berupaya menerkammu dari

perburuan. sehingga aku

takut mengejarmu sampai

ke sarang. hanya kunyah

yang tak hentinya bertanya

perihal suapan: suapan

puasa. hanya kunyah

yang kau percaya karena

aku puas menganga

untuk dagingmu

yang merah

Padang, 2010

RUMAH-RUMAH WAKTU

lampu merah

mungkin makin tinggi kaki ini setelah kautebas.

simpang jalan melintas-lintas. di sana, para pekerja

terlambat lewat ketika melompat dari jam pintas. adakah

dari mereka yang menjinjing sekantong penat dari

swalayan terdekat?

perhatikan. mata tanda tampak seredup kabut. aku

berhenti untukmu: tak mengerjapkan isyarat yang sekerat.

aku hanya sebatang kata yang ditanam di jalanmu untuk

mengeja, saat lidah menjulurkan pergi. entah menuju

simpang pemberhentian yang mana lagi

halte

kau dan aku selalu menjadi orang baru atau orang asing

yang bangkit dari usia masa yang lain. kau keluarkan bayang-

bayang matahari: condong ke kiri. bayang itu mampu juga

menghitamkan tubuhku

kau hendak menumpang, wahai penampung kepulangan?

sudahlah, aku tak mau mengenalmu dengan keteduhan sebab

seorang asing hanya menunggu hujan meredakanmu dari deru

bus kota yang tersesat

bus kota

baik-baik engkau naik. bila kaudaki berkali-kali, tertinggal

endap malam penuh dendam bergidik, dalam lelap

sopir terakhir

Padang, 2010

Rio Fitra SY lahir di Sungailiku, Pesisir Selatan, Sumatra Barat. Giat di Komunitas Ruangsempit dan Teater Noktah di Padang.

Puisi Inggit Putria Marga

Tiga Sajak Berawal dari Burung

Kompas, Minggu, 27 Juni 2010 | 04:21 WIB



Ketika Matahari Mati

: ahmad mudzil



gelombang burung terbang

warna-warni layang-layang



udara bau cendana

ribuan lilin menyala

pantulan bayang-bayang seroja



genderang dibunyikan

sitar disuarakan



para pelayan menari

ratusan lembu berjalan tenang

dikendarai ratusan bidadari



menyambut kau lahir

mengantar matahari berakhir



malam tak lagi gelap

karena matamu rumah bagi cahaya untuk menetap



di langit, indah bulan tersingkir

sebab senyummu mantra ampuh para penyihir



syair yang lahir dari tangan penyair

yang luka dan cinta dalam dan pada kehidupan



maka tertawa dan menangislah





menari dan terjatuhlah



ketika kau tertawa dan menangis

para bidadari penunggang lembu

akan menabuh genderang



ribuan pelayan akan memainkan sitar

lalu tawa dan tangismu jadi kidung



bergema, memantul ke gunung-gunung

meresapi samadi pendeta-pendeta agung



saat kau menari dan terjatuh

gelombang burung terbang

akan mengangkatmu



jadikan kau satu di antara

ribuan warna-warni layang-layang



tenang melayang lalu kembali jatuh



rebah di tanah

terkubur bagai sejarah



bagai udara bau cendana yang cepat hampa

nyala lilin yang pantulkan bayang-bayang seroja

lalu padam, segera atau seketika.







umpama burung pengepak sayap

ia berkidung setiap hinggap



di rumput-rumput lembab

rumah-rumah tak beratap

mulut-mulut gagap

pikiran-pikiran gelap



bulu-bulu merak

melingkari kepalanya



kekuatan dan keanggunan

menyatu dalam ia



sepasang mutiara

tergantung di telinganya



kedalaman dan misteri samudra

mewujud sebagai hatinya



cahaya purnama adalah tangannya

kelopak-kelopak padma adalah jemarinya



yang menggenggam suling

lalu ia tiup sambil menunggang sapi





















ke semua ruas semesta ia berkeliling

membuat segala yang keruh jadi bening













yang bising jadi hening













yang berpusing jadi bergeming



dilebur diri sejati

yang kerap terasing



pecah berkeping

di antara debu-debu musim kering



jika ia pijakkan kaki di rawa

mekarlah kuncup-kuncup seroja



bila tangan ia kibaskan ke udara

puluhan kupu-kupu bertukar warna



di cantiknya yang baka

gadis-gadis cemburu dan menangis



di wibawanya yang tak fana

para lelaki sujud dan terpana



kepadanya, hanya untuk ia



ribuan mantra dirapalkan

ribuan kidung dinyanyikan



agar sampai akhir usia semesta

suara sulingnya tetap bergema



menjadi denyut nadi

setiap makhluk pendengarnya



dari lembar-lembar buku tua

kubaca kisah tentang ia









: sang peniup suling







penghening segala yang bising



di kelopak-kelopak lotus

di udara pagi

di bentuk awan-awan yang tak pasti

di arus sungai yang tak mampu berhenti



ia kucari









sampai ketika aku berkaca

di jernih telaga:



bayang-bayang awan ungu

berpendaran di belakang bayang-bayang wajah:



kepalanya dilingkari bulu-bulu merak

sepasang telinganya digantungi



mutiara























taburan burung gereja

awan-awan nila

angin menggoyang tumbuhan liar

di dinding bangunan tua sebuah kota



sejauh apa pun ia pergi

sedalam apa pun ia sembunyi

ke panorama itu selalu ia kembali



pernah, ia pergi mencari panorama lain:



kapal berlayar lalu karam lebur di karang hitam

tari ribuan rumput yang ia cabut

saat bibirnya tak menemu tempat berpagut

barisan semut yang di tubuhnya kerap menyelimut



tapi, ia pengecut yang selalu mencari alasan untuk takut



pada karam yang kalut

pada maut yang pasti memagut

pada tali karma yang makin kusut



lalu, ia kembali pergi

mencipta panorama sendiri:



ia ciptakan sesuatu yang ia sebut puisi

membacakannya di depan tubuh-tubuh tak berpenghuni

berharap mereka percaya:

ia mampu merayakan luka di kelahiran yang entah keberapa.



di perut bumi,

ia bangun ruang terdalam untuk sembunyi

ia ingin dekat dengan ibu bumi dan merasa suci

terlepas dari lilitan temali karma yang menghantui



ribuan topeng bergantian digunakan

ribuan kata bersusulan diucapkan

ribuan hari habis untuk berlari

ribuan kelahiran hanya menggiringnya kembali



ke panorama yang ia lihat pertama kali:



taburan burung gereja

awan-awan nila

angin menggoyang tumbuhan liar

di dinding bangunan tua sebuah kota



kepada mereka, ia tanyakan:



apa arti pergi dan kembali, bagiku

jika setiap kepergianku adalah

awal kepulangan padamu?



tetapi, adakah kepulangan, bagiku

jika di tiap panorama yang terlihat dalam kepergianku

yang tampak hanya dirimu?



engkau, tanah kelahiran

yang membuatku dihantui kematian



dirimu, tanah kematian

yang tak pernah menolakku

untuk kembali dilahirkan



ia lepaskan lapis-lapis topeng di wajahnya

diam, membakar segala jenis puisi dan kata



pelan-pelan ia memburung

hilang tampak di antara awan-awan nila

melayang bersama angin

menggoyang tumbuhan liar



di dinding bangunan tua

sebuah kota.



2010

Inggit Putria Marga lahir di Tanjungkarang, 25 Agustus 1981. Ia aktif di Komunitas Berkat Yakin, Bandar Lampung. Buku puisinya berjudul Penyeret Babi (2010).

Sabtu, 19 Juni 2010

Puisi A Muttaqin

Penangkapan

Di ranting garing, gelap merambat bagai sayap codot Mendekap buah. Buah-buah membuka mata. Segerumbul Anggur terpekur dari tidur. Segantang kunang terlepas, bagai Bulir emas. Seekor jengkrik mengiris sepi. Sepi merenggang, Dan apel-apel pun berlubang. Daun delima berbisik pada Angin. Angin memainkan lagu lembutnya. Tomat, pepaya, Dan pisang yang mulai matang jadi tak tenang. Sebutir apel Mengintip bulan, betapa merah dan menggoda ia--o, sisa Sorga yang tetap terjaga. Sebiji bintang yang bergelantung Tegang di sana, lalu lepas ke bawah. Sementara, Aku yang Menyaksikan itu semua, berdoa, seperti berharap Keberuntungan menetas dari seberkas senja.

2009

Panduan

Dengan kesabaran, kita putar kaki pelan-pelan. Dua kaki Berkitaran, seperti laku matahari dan bulan. Kita bersepeda, Mengikuti rima jalan. Biar jalan bergeronjal dan berbenjol, Tak apa. Mari kayuh dengan tabah. Dengan kekhusukan yang Nyata. Tak boleh curang kaki sebelah. Karena akan melukai Kaki sebelahnya. Juga mengingkari kaki kita semua. Tak Perlu tergesa. Karena akan berat sendiri. Jadi dibutuhkan kaki Yang kompak, seperti pribahasa tentang ringan dan berat. Sabar adalah kunci. Nikmati saja pemandangan sekitar: buah-Buah mangga yang sedang bertapa, kebun kelapa yang Menanti air sorga, atau sedap kamboja yang setiap malam Sampai ke ranjang kita. Kayuh terus. Dan santai saja. Itu jurus Membunuh bosan. Juga demi perut yang gampang gendut. Tak perlu gupuh ke jalan pulang. Semua jalan adalah pilihan. Tugas kita hanyalah jangan sampai sepeda tabrakan.

2010

Perlawanan

Kupakai jaket panjang, bertabur kunang-kunang. Kupadu Kaos kutang bergambar codot terbang. Celanaku cingkrang Bermotif ganja jarang. Kukalungkan ranting mawar di leherku Jenjang. Kulubangi hidung dan bibir, agar umang-umang Sesekali bisa mampir. Kutampung tawon dan laron yang tak Punya pohon, di dadaku yang monoton. Kupasang walang Garing dan kepinding di dua kuping. Darah meninggi. Hati Dan paru mekar. Dan nafas pun terdengar kembar, seperti Babi lapar yang diseret sepanjang pasar.

2009

Pelepasan

Datang ya angin. Leburkan segala ingin. Datang ya bulan. Balur sekujurku dengan kelembutan. Datang ya matahari. Ajari aku memberi dan membagi. Datang ya air. Mahirkan Aku mengalir dan mendesir. Datang ya kembang. Ajak Kumbang. Kupu juga. Juga ulat dan telurnya. Biar pada Mekar kekuncup habbah. Datang ya buah. Bawa bijimu. Biar Tumbuh di perutku. Hingga tak sendiri daun hatiku. Datang Ya burung. Tetaskan jantung. Setelah itu kita terbang. Tinggalkan usus yang tak kunjung lurus. Menyusul sepasang Mata yang telah jadi kupu kurus. Menyusul telinga yang Menjelma lelawa halus. Menyusul nafasku ungu ke daur Debu. Menempel di pucuk-pucuk wuku, di pohon-pohon Waktu.

2009
A Muttaqin lahir di Gresik, tinggal Surabaya.
kampung dalam akuarium

Kompas, Minggu, 20 Juni 2010 | 03:59 WIB

Zelfeni Wimra

ke pemancingan mana lagi kautumpahkan rindu

melumutkan kecemasan pada lendir umpan

dan mata kail yang lapar

agar ikan-ikan mau kaubujuk bercerai dengan lubuk

dan pulang ke kampung penggorengan

pelengkap hidangan di meja makan



kau tahu, sejauh-jauh pergi menyisir bibir sungai,

hanya untuk mencari air keruh,

ikan-ikan pilihan tak akan memakan umpan dalam kejernihan

kau tinggalkan hulu yang hening-bening

muasal segala arus terus menghanyutkan

anak-anak pantau dengan sejarah hambar

entah arah mana akan dituju

sebut saja, kampung berair jernih berikan jinak;

berair keruh berikan liar;

berair tawar berikan banyak

alamat kepulangan yang pahit



aku beritahu, andaikata usahamu sia-sia, pulanglah.

aku dan ikan-ikan yang kauburu

setelah penggusuran itu

kini tinggal di kampung baru

mendekam di kamar air empat persegi

pada sebuah ruang tamu tidak berhulu-bermuara

hanya gelembung-gelembung dihembus tenaga listrik

juga kincir-kincir plastik

batu-batu buatan dan lukisan karang di balik kaca

terasa seperti menyelam-melintas di antara

tanjung dan teluk kampung pesisir yang tenang

meski tidak ada kapal-kapal berbenah

bagi pelayaran para pelaut

apalagi jejaring pukat ikan karang



bertandanglah, oi pemancing

bukankah sungai-sungai yang menghilir

dari hunjaman kaki-kaki hujan

sudah tidak mampu menafsirkan kehendak air matamu

dan kerinduan tidak selamanya mesti dipuaskan

dengan tancapan mata kail di rahang ikan yang rakus



aku bayangkan kau datang

sebelum insangku sempurna jadi karang

menyematkan mata kail

di setiap saku baju para tamu

2010

Zelfeni Wimra



pada sebatang tubuh yang tidak lagi muda

ia kini berkurung, menujum bunga, meninggam buah

mengurut cemburu ke sekeliling

ke batang lain, beragam buah bergelantungan



riwayat bunga putik dan burung

burung yang gemar mematuki madu di benang sari

telah lama berlalu

bunga putik berubah bentuknya

dari kelopak yang merekah

kini meranum sebagai buah yang sempurna

meski sebagian bergelimpangan

menghitam, tak mampu mengubah diri

dulu kelopak yang gemilang

kini lendir sekarat, meradang di pangkal batang.



seseorang, belakangan sering datang, duduk mengenang

menimbang setiap cabang:



”ini kebun sungguh rindang

tangan siapa yang dingin dan suka menanam batang-batang;

tubuh-tubuh indah dan riang? buahnya, aduhai, rindu yang matang.”



”mereka menanam tubuh mereka sendiri,” ingin ia jawab begitu

tapi undur ketika melepas pandang ke sekujur batang yang berliang:

dari bengkalai badan yang sunsang

entah apa kelak akan dipetik orang?



ia idamkam sebatang lain dalam waktu yang baru

tumbuh memayungi pagar halaman,

pintu kamar seorang pencinta

telah lama menanti kepulangan kekasihnya

membawa jinjingan, buah tangan perantauan



tapi apa yang meletup

berdentang tak henti di balik kedua buah dadanya

telah kekal sebagai cikal bunyi

seperti tonjolan talempong yang dipukul tak beraturan

mengundang orang berdendang tari selendang



sebelum sampai ke gendongan, merasakan geliat

dan rengek, juga jemari kecil yang lunak

buah hati tak lebih dari dongengan para nabi dalam kitab suci



melewati pagi dengan segelas pergunjingan

mengaduk buah bibir dengan buah pikiran

meski pada akhirnya jadi buah angan saja



seorang yang belakangan sering datang memegang cabang

sementara tubuhnya terus meliuk ditunda angin

musim yang tentu akan selalu berganti



2010

Gunawan Maryanto





Wong lanang lara atine --------------------------



Seorang lelaki yang sakit hati

Melaku ning tengahing wengi



-------------------Berjalan di tengah malam buta

Gerimis lan melu nangisi ------------------------ Gerimis pun ikut menangisinya

Uripe wis kerasa mati

-----------------------------Hidupnya terasa sudah mati



Dewi Kirana, 30 tahun, menyapa penggemarnya yang berkerumun. Sebuah kebetulan, mendadak hujan turun. Seperti menegaskan bahwa lagu itu nyata hadir malam itu. Para lelaki yang merasa terwakili menggoyangkan dadanya. Ada juga yang mengeras di dada saya. The queen of Pantura datang pada mereka malam ini bersama the best of music yang paling eksis Puspa Kirana. Bagai Dewi Padi yang dirindukan para petani–mereka yang datang dari abad lima belas. Keributan sempat terjadi di pinggir panggung antar-remaja tanggung. Tapi hiburan terus berlangsung.



Empat anak Sang Dewi duduk di belakang panggung berjajar seperti pagar ayu, menyaksikan ibunya bertarung. Entah berapa lama lagi ia sanggup bertahan. Mau tak mau perahu yang mereka tumpangi malam itu akan tenggelam. Beberapa musim panen lagi mungkin. Akan segera tiba perahu yang lain dengan dewi yang lain–yang lebih muda yang lebih menggoda.



Jerite sajeroning ati





--------------------------------Ia menjerit dalam hati

Banyumata bli bisa mili

---------------------------Airmata tak bisa keluar lagi

Larane disimpen neng dada -------------------- Sakitnya disimpan di dada

Ngakoni sabar lan nerima -------------------- -

Mengakuinya dan sabar menerima



Tak ada kabar gembira sebenarnya. Tapi mereka melagukannya dengan gembira. Hasilnya adalah kesedihan yang asing– entah punya siapa. Yang jelas bukan milik mereka malam itu. Sang Dewi terus bergoyang. Tato di punggungnya berkilat oleh cahaya bulan. Pemuda di samping saya memanjat ketinggian. Ia melemparkan uang ribuan dan menjerit kesenangan. Seandainya ia jatuh, ia jatuh dalam kemenangan.

Jogja, 2010



Gunawan Maryanto bergiat di Teater Garasi sebagai penulis dan sutradara. Buku kumpulan puisinya adalah Perasaan-perasaan yang Menyusun Sendiri Petualangannya (2008).

Zelfeni Wimra lahir di Sungai Naniang, Luak Limopuluah Koto, Minangkabau, 26 Oktober 1979. Sutradara Teater Cabang dan penggiat Komunitas Daun serta Magistra Indonesia, Padang.

Puisi Oky Sanjaya

Konsisten


kita telah memilih jalan ini untuk berbalapan.

tanpa percakapan; atau sebuah pukulan.

tak ada yang terpaksa; atau sebuah pistol di tangan.

selintas memang, kau melihatku agak marah,

rumah yang telah lama kita bangun,

hancur; atau terlanjur digusur.

“surat rumah kita tidak lengkap,” katamu.

tapi cinta kita lengkap.


seseorang, yang mungkin kamu, terlanjur

tidak berkata-kata; atau menanyakan

silsilah tanah, keringat tumpah, sesayat darah

yang turun-temurun terkubur bersama,

seseorang yang mungkin kamu; tetangga.


kita, atau mungkin kamu, telah memilih jalan ini,

yang terlanjur diproyek menikung, dan tentu tahu

resiko salah berhitung.

-----

Oky Sanjaya, lahir di Sanggi, Lampung, 13 Oktober 1988. Sedang belajar di Jurusan PMIPA Fisika Universitas Lampung. Bergiat di Yayasan Sekolah Kebudayaan Lampung (SKL).

Sabtu, 12 Juni 2010

DUA SAJAK :Laila Awalia dan Fitri Yani

Laila Awalia

Di Liang Cerita

Di mana kan kukubur duka?

di liang ceritamu yang kau pesan beberapa hari yang lalu

di pekuburan luka tempat kau biasa memetik kamboja:

bunga mati yang tak bisa diam melihat sejarah

selalu ada kisah sebelum kamboja jatuh ke tanah

Natar, 10 Maret 2010

FITRI YANI

Malam di Atas Sampan

bintang di angkasa berserakan

berjatuhan di sungai

lelaki tua memungutnya

ke dalam sampan

(2009)

Puisi Afrizal Malna

Kompas,

Minggu, 13 Juni 2010 | 03:43 WIB

Stasiun Terakhir

Untuk Slamet Gundono

Aku hanya gombal yang tergeletak di lantai 230 kg namaku. Nama yang setengahnya terbuat dari air mata dan azan subuh. Gombal yang bisa tertawa dan bernyanyi dari hidupku sendiri. Gombal dari tembang-tembang pesisiran yang membuatku bisa tertawa bersama Tuhan. Melihat surga dari orang-orang yang bertanya, kenapa ada gema kesunyian ketika aku berdiri dan menggapai semua yang buta di sekitarku, kenapa aku bertanya seperti tidak mengatakan apapun.

30 hari aku lupa caranya tidur. Dinding-dinding mulai berbicara, membuat gravitasi terbalik antara tubuhku dan malam yang tersisa pada jam 11 siang. Seluruh dunia datang dan berebut masuk ke dalam telingaku. Aku tarik rem kereta api, berderit, besi berjalan itu berhenti mendadak, berderit, seperti besi besar membentur stasiun terakhir. Aku muntahkan tubuhku bersama dengan suara-suara yang ingin mendapatkan nama dari kerinduan.

Aku hidup bersama Bisma yang berjalan dengan 1000 panah di punggungnya, kesetiaan dan kejujuran buta 23.000 kaki di atas permukaan laut. Kesunyian memukul-mukul 230 kg berat tubuhku. Istana Jawa yang terbuat dari gamelan, seorang perempuan menari dengan air susu yang terus tumpah dari buah dadanya: aku berada antara batu yang akan pecah dan belum pecah.

Telapak tanganku telah penuh cairan ludahku sendiri. Satu mangkuk teh untuk sintren yang tersesat dalam tembangku. Aku lihat tubuhku dalam TV seperti sebuah negeri yang sedang diperkosa rakyatnya sendiri. Gravitasi TV yang membuat tubuhku jadi 2 meter, sompret, kencing dalam celana.

Di stasiun terakhir itu, aku menggambar paru-paruku sendiri, tanah terus mengelupas tak henti-henti mengelupas tanah mengelupas. Hingga aku mencium bau hujan dari wayang- wayang yang bermain sendiri, antara batu yang akan pecah dan belum pecah, antara tembang yang akan mantra dan belum mantra, antara keris yang berjatuhan dari kesunyianku dan belum berjatuhan.

Naik Motor ke Suroloyo

Lehernya mengeluarkan warna biru kelabu. Ia coret lagi warna merah di dadanya, seperti stempel pos 50 tahun yang lalu. Besok kita akan ke gunung lagi besok, melihat kabut memindah-mindahkan kaki gunung. Jiwa di puncaknya yang tetap ingin sendiri, yang ingin menggunakan suara-suara serangga sebagai telinganya. Yang ingin kunang-kunang memindahkan bintang-bintang di malam hari. Yang ingin sapi terbang dari bukit-bukit ke bukit. Dan aku memotretmu setelah merapi mengeluarkan kabut merah. Lehernya mengeluarkan warna biru kelabu. Ia tanam lagi udara dingin di dadanya, bau cengkeh dan tembakau dari mulut anjing. Besok kita akan menjadi kunang-kunang, menziarahi orang- orang gua dari mata air. Melihat kabut perak turun seperti sihir dari kesunyian. Yang mendengar air mata menyelimuti tempat tidurnya. Yang mendengar bau gunung dari dongeng- dongeng tua. Yang mendengar suara motor membelah bukit. Yang mendengar bau bunga melati di telapak tangannya. Dan aku memotretmu dari atas bukit ini ke bawah, ke bawah, ke bawah, tempat kunang-kunang menanam bintang.

Berita Rahasia dari Darmo Gandul

Ia mengatakan 100 tahun, aku ingin jadi manusia baik ia mengatakan. Dan aku menyimpan lidahku di dahan pohon randu di halaman belakang rumahku aku mengatakan. Ia mengatakan 100 tahun, aku ingin jadi manusia yang indah ia mengatakan. Dan aku menyimpan mataku dalam sebuah lampu neon di halaman belakang rumahku aku mengatakan. Ia mengatakan 100 tahun, aku ingin jadi manusia yang mengucapkan selamat datang kepada setiap yang datang ia mengatakan. Dan aku menyimpan kakiku dalam sebuah batu tempat hantu-hantu mengenang manusia.

Aku ingin jadi manusia yang mengatakan semoga kamu selamat kepada setiap orang yang ditemui ia mengatakan 100 tahun. Dan aku menyimpan tanganku di sebuah sungai tempat ikan-ikan dan pasir mengenang manusia. Kini tubuhku tanpa mata lidah kaki tangan aku simpan dalam hujan di halaman belakang rumahku. Aku berbisik pada ginjal dan paru-paruku aku berbisik pada jantung dan ususku aku berbisik ... kaulah hujan dari sebuah senja yang belum pernah diciptakan.

Kini kau bawa senja itu sebuah telinga dari keheningan paling bening. Telinga yang terbuat dari rumah yang telah dihancurkan dari tanah yang mengeras angin yang tidak bisa lagi berhembus. Daun-daun membuat pohon dari awan. Aku memasuki berita rahasia untuk melupakan diri sendiri. Dan besok–mari–aku telah menjadi dia yang melupakan bahasa.

Mantel Hujan Dua Kota

Kota itu telah jadi Semarang sejak air laut ingin mendaki bukit, dan pesta tahun baru di ruang dalam bangunan- bangunan kolonial. Minum persahabatan dan melukis fotomu pada dinding musim hujan. Sepanjang malam ia mengenakan mantel dari listrik: kota yang mengapung 45 derajat di atas sejarah. Dalam mantelnya rokok kretek dan kartu atm. Mahasiswa bergerombol di warung kopi, mengambil ilmu sastra, ilmu komunikasi, antropologi dan jam-jam belajar dari pecahan kaca. Akulah anak muda yang bisa memainkan bas elektrik, blues dengan sisa-sisa kerusuhan dan sisir yang patah. Aku telah banjir di lapangan kerja dan kenaikan gaji pegawai negeri. Para arsitek yang membuat desain kota bersama air laut dan hujan.

Biarlah aku sampai ke batas tepi ini, untuk jejak yang membuat lubangnya sendiri.

Kereta keluar dari mulut stasiun Yogyakarta, bau tembakau dari pesta seni rupa dan sapi goreng. Aku kembali bernapas setelah ribuan billboard kota adalah mataku yang terus berputar, waktu yang terasa perih. Rel kereta masih menyimpan saham-saham VOC sampai Semarang. Tanah keraton yang menyimpan telur ayam, mantel biru masih menyanyikan keroncong Portugis. Bau tebu, bau padi, bata merah yang dibakar. Aku telah Yogyakarta setelah berhasil menjadi orang sibuk tidak mandi 2 hari, menggunakan excel untuk agenda-agenda padat. Dan bir dingin di antara janji- anji.

Aku telah dua kota dalam perjalanan dua jam bersambung sepeda jam 6 pagi. Biarlah aku sampai ke batas tepi ini, untuk jejak yang membuat lubangnya sendiri. Sebuah kota yang terbuat dari jam 6 pagi, dan aku mempercayainya seperti genta yang berbunyi tanpa berbunyi, bayangan gunung sebelum biru dan sebelum kelabu dan sebelum di sini.

Afrizal Malna lahir di Jakarta, dan kini tinggal di Yogyakarta. Kumpulan puisinya antara lain Abad yang Berlari (1984), Arsitektur Hujan (1995), Dalam Rahim Ibuku Tak Ada Anjing (2002), dan Teman-temanku dari Atap Bahasa (2008).

Sabtu, 08 Mei 2010

Eko Putra

lampungpost, Minggu, 9 Mei 2010
SENI BUDAYA
SAJAK-SAJAK

Eko Putra

Getaran Hujan
: kepada Orin

bagai getaran hujan

yang melenyapkan

sebuah janjiku kepadamu

rasa dingin begitu sulit

kuterjemahkan. walau kau beri

aku selusin selimut menutupi

sekujur tubuhku yang gigil.

rindu ini telah merobek

kamar dan jendela

dan tetesan hujan di luar

mengantarkan aku pada sepi

yang dipenuhi hawa gaib.

bila, sebuah sajak mampu menjaga

lelapmu malam ini. akan kupotong

seluruh jemariku. dan hujan

akan membawanya kepadamu.

sembari dituliskannya

doaku paling biru.

menuju amin ibu-bapakmu.

21 Maret 2010

Melankoli

keluasan, bukan milik siapa pun

di antara segala tatapan

yang telah dijatuhkan ke rongga dadaku.

serupa getaran mantera

yang melambatkan malam

aku hanya ingin keluar

dan membuat sebuah perhitungan

yang menjadikan aku terusir

dan tak tahu jalan pulang

yang entah di mana engkau

menyembunyikan sebuah alamat

yang kau curi dari ibuku

ketika aku diselimuti

hawa dingin yang gaib

yang menjadikan tarikan napasku

mengeraskan malam-malam jauh

kau menyelamatkan aku dengan satu kata saja. cinta.

di antara yang demikian

sesungguhnya siapa di antara kita

yang berhasil mengalahkan kekeliruan

sebab udara di seluruh kampung

telah menumbuhkan sebatang pohon di kepalaku

yang memaksa aku untuk bunuh diri

dan menuliskan huruf-huruf

yang memantulkan namamu.

saat ini, aku ingin mengunci pintu

dan mengurung diri

dengan sebuah mantel pemberian ibuku. tangisan.

(15 Maret 2010)

Hening

selembar daun kamboja

jatuh di halaman rumahmu.

angin betina membawa wangi dupa

menuju perkampungan.

alam lengang, langit rendah.

hanya tanda tanya

yang menguasai gelap malam.

mengantarkan hawa semedi yang terurai

di telapaktanganmu yang dingin.

bulan hanya bayang-bayang

tergantung di pohon bacang

dan tetaplah di sini

meski selalu asing

dan kosong

(16 Maret 2010)

Kabut Ungu

sesal. di sini, ketika embun menerka isi pagi. ada yang mendesah di penghujungnya. yang membuat matari tak tinggi, dan langkah terhenti.

engkau mungkin. Gadis manis yang membiarkan aku tak mampu menuju hari. karena fajar tampaknya melelapkan mimpi tak kembali. menemukan isyarat yang lewat dalam luka dan pedih.

jalan setapak yang dulu kubangun sebelum lelap. kini terbongkar oleh kabut, entah bagaimana aku dapat menjangkau matahari lain, selain menundukkan keangkuhan pada langit yang mengaramkan bulan-bulan

2010

------------

Eko Putra, lahir di Kertajaya, Musi Banyuasin, Sumsel, 19 Juni 1990. Sekarang menetap di Keramat Jaya, sebuah desa definitif dari desa kelahirannya dan mengabdi sebagai sekretaris desa di desa tersebut.

Avianti Armand





















Puisi

kompas, Minggu, 9 Mei 2010 | 04:37 WIB

Avianti Armand

9000 Km

Suara pintu terbuka. Seorang perempuan.

Di sini sebuah jeruk terbelah dua –

separuh untuknya, separuh untukku.

Lalu seorang lelaki berkata,

“Aku telah menempuh 9000 km untuk

memberikan ini padamu.”

Jeruk itu menengadah, seolah lupa.

Perempuan itu mengelupas jarak dan

membuangnya ke lantai. Di lantai,

merah jadi latar dan sepasang sepatu.

“Apakah dia baik-baik saja?” Tak ada jawab.

Tanganku meraih ruang di sela paha.

Tangannya menggenggam jeri

yang segera meleleh.

Selalu ada satu titik di awal.

Sebelum sela pada senar cello dan

nafas tergesek. Satu satu.

Sebelum potongan adegan terakhir –

kaki-kaki yang berselingkuh dan bibir

yang bertumpang tindih.

Sebelum 9000 km.

Di lantai itu butiran jeruk menggelinding

ke bawah kursi.

Aku sekali lagi tertunduk.



Avianti Armand

Satu Matahari


Di batas itu, aku memilih menjadi buta.

Kenapa? Tanyamu.

Setahun yang lalu aku telah melihat sesuatu

yang tak seharusnya kulihat.

Mereka bilang: matahari.

Mataku menangkap: dia.

Tubuhku seketika mengerang oleh cahaya yang terlalu terang. Dan terlalu gelap.

Lalu dia bergantian mendenyutkan ingin yang akut – seperti desah dalam lipatan daging.

Terang – gelap – terang – gelap.

Cadar ini terlalu tipis untuk menyembunyikan rasa.

Apa yang kau lihat di jalan itu?

Genangan air yang jadi hijau?

Merah, kataku. Hujan merah.

Di balik garis-garis basah, dia indah

dan selamanya berpendar.

Di sini, gambar-gambar memudar.

Setelah itu, mereka mencoba menghilangkan cahaya dari ingatanku.

Tapi aku masih bisa merasakan panasnya.

Kata mereka, cuma ada satu matahari.

Kataku, itu milikku.

Dan aku tak mau berbagi.

Di batas itu, aku memilih menjadi buta.

Kenapa? Tanyamu.

Entahlah. Mungkin cinta memang begitu



Avianti Armand

Menit


Di kotak telepon, cahaya membiru seperti memar. Di dering ketiga, kita sama-sama tahu –

huruf-huruf setebal kitab itu tak akan bersahabat. Cuma nama-nama yang tak kita kenal.

Dan siklus yang tak putus dari perpisahan,

hujan, musim panas dan insomnia.

Suatu hari seseorang menunjuk arloji di tangannya dan berkata, ia akan mengingatku di menit itu selamanya. Sejak itu, selalu ada yang membersihkan jam di ujung lorong agar tak jadi abu.

Enam belas april. Jam tiga siang tahun lalu. Ingatkah kamu?

Tidak. Tapi menjelang malam,

akan ada jalan yang basah

dan trem yang membelah.

Aku telah membeli tiket untuk menjemput

menit yang mati yang terselip di obituari

surat kabar hari ini.

Kamu memang tak akan datang.

Siluetmu saja yang kerap berhenti

di depan titik hilang.

Dan tepat di atas besi penutup jalan,

perpisahan terjadi lagi, hujan jatuh,

dan musim panas tertinggal.

Sesudahnya, kamu tahu, kita takkan sanggup mengingat apa-apa.

Seperti apa matahari tenggelam hari itu?

04.12 – 17 Januari 2010

“9000 Km” terinspirasi film pendek Wong Kar-Wai I Travelled 9000 Km To Give You This.

“Satu Matahari” terinspirasi film pendek Wong Kar-Wai There’s Only One Sun.

“Menit” terinspirasi film Wong Kar-Wai Days Of Being Wild.



Indrian Koto

Kopi Panas dari Bekas Planet Terbakar


aku melihat planet-planet sedang diciptakan

dari gelembung air matang untuk seduhan kopiku.

sepanjang dua puluh empat jam aku bolak-balik

ke dapur yang kurasa seperti toko yang bangkrut.

aku melihat cakrawala membentang dalam periuk.

api menciptakan sabda lewat asap kompor.

aku merasa seperti sebuah keberangkatan yang jauh.

pergi yang tak pernah pulang. pergi sebagai orang terusir

ketika semua genap diciptakan. dinding dapur menggelupas

seperti toko yang habis dijarah.

penghuninya bertahan hidup dengan menjelma hantu.

di tanganku, gelas kopi menjadi gelombang sunyi.

sebuah kota tenggelam di dalamnya. aku merasa

kesedihan mencuat dari adonan gula

bagai kuburan tua yang sebentar lagi akan dibongkar.

aku menciptakan kopi

dari bekas planet yang tak jadi.

kompor terus membakar penciptaan demi penciptaan.

2010



Indrian Koto

Menjelang Ajal


mereka urung menekan pelatuk dan membiarkannya melenggang

menuju malam yang tak pernah tidur di jalan-jalan keramaian

pecah setelah lama ia tidak melihat bentuk trotoar deretan toko

serta kerumunan para gadis ia ingin berjalan terus melewati

tembok penuh coretan poster iklan di tiang listrik lampu jalan

yang tak menyala tikus berlarian dari satu selokan ke selokan

lain tak akan ada yang menyapanya tak akan ada yang

mengenalnya dunia telah lama menguburnya koran dan televisi

mengabaikan dirinya setelah mengambil untung atas

kejahatannya lalu membunuhnya diam-diam diganti dengan lebih

sadis lebih hangat lebih ngeri sekaligus menakjubkan ia

terabaikan di sel sempit bertahun-tahun membayangkan masa

lalu dan menghidupkan semua kenangan di kepalanya menghibur

maut yang tak kunjung mengetuk

tapi malam ini ia bisa mencium rumput bau malam yang

membuatnya akan terus mengenang sebelum ia berhadapan

dengan maut yang menunggu dan ditunggu ia membayangkan

mereka urung menekan pelatuk dan membiarkannya melenggang

menuju malam yang tak pernah tidur

2010



Avianti Armand tinggal di Jakarta. Ia kerap menulis catatan perjalanan dan ulasan arsitektur. Bukunya adalah kumpulan prosa lirik Negeri Para Peri (2009).

Indrian Koto lahir 19 Februari 1983 di Kenagarian Taratak, Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Mahasiswa Sosiologi di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, ini aktif di Rumah Poetika dan Rumahlebah Yogyakarta.

Minggu, 02 Mei 2010

Puisi-puisi Ook Nugroho

Puisi-puisi Ook Nugroho

kompas, Minggu, 2 Mei 2010 | 03:26 WIB

Dalam setiap sajak

Dalam setiap sajak

Selalu ada bayangan

Seorang lelaki yang gemar berlagak

Dan mengaku saya



Seteru pun sekutuku berseru

Sungguh betapa ia mirip

Lihat gayanya berjalan

Yang limbung di antara awan-gemawan



Wajahnya memang samar

Sebab derai hujan dan kelebat topan

Kerap menaungi arah pandangnya

Yang ditumbuhi ilalang petang



Ia juga gemar

Memainkan waktu di tangannya

Mengubah warna-warni musim

Menukarnya dengan raut malam yang pejam



Aku tak pernah tahu

Sesungguhnya ia siapa

Setiap kali kutanya ia tertawa

Seraya lindap nyelinap ke dalam kata

2010

***

Tengah Kumasuki Malam

Tengah kumasuki malam

Dari mana sajakmu bermula

Tanganku meraba judul

Ingin memindai parasmu



Di sana kujumpai bulan

Pelan berlayar dari kata ke kata

Bayangan musim yang tak utuh lagi

Menggasing dalam gelap



Tengah kususuri kelam

Ke mana kutahu jejakmu berbelok

Lalu seakan raib, sesudah baris

Yang menandaimu dengan derai gerimis

2010

***

Agar Menjadi Kisah

Agar menjadi kisah

Kau harus menjadi sungai

Bersekutu dengan musim

Dengan cuaca sepanjang tebing



Agar menjadi sungai

Kau harus kembali

Ke puncak sepi berkabut itu

Menemukan sumber awal tak terduga



Alasan-alasan tersembunyi

Di belakang setiap desah bunyi

Isyarat-isyarat kekal purba

Di sebalik rerimbun waktu



Agar memahami waktu

Akar-akarnya yang menjalar

Pada setiap lembar halaman kisah

Kau harus menjelma huruf-hurufnya

2010

***



Pelajaran Pertama Menulis Sajak

: Frida Nathania



Untuk menulis sajak, kita tak perlu

Meja yang lapang, pun tak butuh liur bir

Guna merangsang sang syair terlahir

Dari kelangkang takdirnya kelabu



Tapi mungkin kita perlukan sunyi

(Barangkali dalam secangkir kopi):

Kelam, pekat, mengepul dari pori bumi

Dari kolong waktu yang kenyang dilukai



Jadi kita akan duduk bersama, merenungi

Di meja lapuk yang tak teramat luas ini

Memutuskan sesudah merundingkannya masak

Kata-kata terbaik bagi sebuah sajak

2010

***

Batuk

Jauh di kolong rongga

Ada suara bertalu-talu

Seorang yang lama menunggu

Terus menggedor mencari jalan keluar



Kalau saja aku bisa menolongnya –

Tapi hanya kupunya sedikit kata

Itu pun terganjal dahak waktu

Mengental jadi jarak yang kekal



Seorang yang lama mencari

Gemanya tertahan di bawah rongga

Seperti tak asing bagiku ia siapa

Seperti padaku parau ia memanggil

2010



Ook Nugroho lahir di Jakarta, 7 April 1960. Buku puisinya, Hantu Kata, akan terbit tahun ini. Ia tinggal dan bekerja di kota kelahirannya.

Minggu, 18 April 2010

Sajak Hanna Fransisca

koran tempo, minggu, 18 April 2010
BULU KAKI MATA SIPIT
Hanna Fransisca

"Perempuan tanpa bulu,
membawa derita yang tak bisa diburu!"

Mari kuajak kau meneguk racun dengan secangkir kopi pahit,
dan kuceritakan padamu tentang bulu kaki
yang membikin lelakimu mati. Di langit-langit ruang lapang
bunyi gemerincing uang, dan waktu serentak menjadi angka.
Atas impian menjadi kaya, kaupuja Dewa yang kadang iseng tapi kalian harus percaya:
para lelaki itu tiba-tiba menjadi beriman, menjadi yakin pada
kepastian tuah yang dimiliki kaki perempuan. Bulu-bulu dipuja
di depan Dewa mereka. Ular dan serigala dalam diri kau mengamuk
di malam pertama, menghitung kelamin perempuan menjadi angka,
menjadi impian belantara dari jalan kaki hingga menuju kepala.
Amboi, kauhirup tuak dan menari-nari, lalu kau menyesali sabda Dewa
jika perempuanmu polos dan putus asa. Kausesali ibu yang melahirkan perempuanmu,
kaucaci leluhur yang menjadikan kau pengantin mati hingga pagi hari,
"Ada apa dengan Tuhanmu? Adakah Tuhanmu tak sanggup
menumbuhkan sebiji bulu?"

Mari kuajak kau melihat pengantinmu yang berlari di pagi hari,
"Adalah layak bagi kau, jika pengantinmu
menjual diri di jalan raya."

Jakarta, 2009

KEPADA KERBAU

Pada keluargamu, pada ladang, pada mimpi sebuah negeri

Burung-burung selalu berpindah saat berganti musim. Katak
berganti rumah untuk waspada dengan cuaca. Tapi
kerbau bisa datang begitu saja tanpa alasan hujan
atau kemarau.

Di pintu rumah peladang ia datang. Dituntun lelaki dari pasar,
dan wajah istri anak-beranak yang menyongsong suami dengan berseri, "Ai,
akhirnya kita miliki juga. Alangkah gagah, tak rugi hilang sepetak sawah.
Maka di sini engkau akan tinggal, sayang. Menjadi keluarga
seadanya."
Sejak itu, setiap pagi adalah riwayat
yang terus berganti.

Bulan April mimpi menguning padi di ladang terang.
Jejak riwayat kegagahannya tak habis-habis dibilang: "Kita beruntung, sayang,
lantaran engkau tanah lumpur bakal jadi gembur."
Maka langit dan rumah dipenuhi ungkapan rindu.
"Anak-anak akan tumbuh, seiring tumbuhnya ladang. Anak sulung,
tahun depan dipinang orang."

Bulan September menderas hujan teruslah berderai.
Jejak riwayat keringat dimulai, membajak tanah harapan,
menabur biji-bijian.
Maka tak henti-henti sanjung dan puji, "Engkau nadi yang merestui hati
kami. Jejak kakimu menggali-gali, pupuk perutmu berkilo tahi,
menumbuhkan biji bersama matahari. Sabarlah sayang, terus bekerja
sambil bernyanyi. Bergerak dan bernyanyilah bersama kami."
Maka jejak tanah berpagar tak lagi menuai sendu yang samar.

Sepetak tanah selalu tumbuh dengan cinta yang sederhana. Bersama
hidangan rumput hari-hari, yang dipangkas seperti kasih tangan ibu,
bersama petang yang selalu benderang di tanah lapang,
bersama rendam segar air lubuk dan usap sentuhan
jemari ayah.

Ia telah resmi
menjadi keluarga.
Tapi tahun ini badai datang melanda tomat.
Padahal ia mulai belajar menulis, "Aku mencintai
rumah ini." Badai tomat membuat ikan di dapur menjadi tiada.
Semalam ayah bicara cabai, lalu jagung pengganti beras. "Cabai tak
ada harga. Apa kita biarkan membusuk di kebun seperti tomat yang
kita rawat sepenuh hati?" Ai, malam bicara badai, duka di wajah ke tepi-tepi.
Pagi memanggul sepikul gabah, diubahnya jagung menjadi mendung.
"Kita lelang berpikul gabah, tapi sekarung beras tak sanggup beli. Sungguh
mulai celaka ini negeri!"

Anak gadis ranum tiba dipinang umur. Kering di bulan Juni, ibu menangis tepi
jendela. Tak patut memandang ladang, ia bergegas pergi ke kandang. "Aduhai
engkau yang kusayang. Lihat mataku, adakah engkau mengerti?" Rumput
mulai kering, bahkan air irigasi pun kini harus beli. Anak gadis nyaris dipinang,
apakah nasib yang lebih buruk dari seorang petani?

"Di pejagalan kudengar orang memilih kulit yang tebal: sebagai kerupuk
atau dijemur menjadi beduk. Orang kaya di kota amatlah bangga, memajang
ukiran tanduk dari kerbau-kerbau perkasa. Bagaimanakah rupa dan lezat rasa,
daging muda yang dibalut tulang perkasa?" Sayang, lihatlah mataku sayang, adakah engkau mengerti?

Ia tidak melihat mata ibu menjadi kejam. Ia tak kuasa,
memandang wajah ayah yang berlinangan. Ia hanya mendengar suara derum
mesin truk di depan rumah, di tempat ia telah menulis, "Aku bahagia
menemu surga di tengah keluarga."

Ayah yang lelah, membisikan kata sayang begitu pasrah, lalu menggiringnya
untuk pergi
menjadi tiada.

Jakarta, Februari 2010

Hanna Fransisca lahir pada 1979 di Singkawang, Kalimantan Barat. Kini tinggal di Jakarta.

Sajak-sajak Ari Pahala Hutabarat

Lampungpost,Minggu, 18 April 2010

SENI BUDAYA
Peramal

:hudan noer
Ada sungai, awan merah, dan saudagar yang ziarah

di pasar tua. Ada retak batu kecubung, asmara renta

serta rejeki yang tertunda

di telapak tanganmu

di kampung halamanmu

karena aku takut tenggelam

ada sungai dan janji di gurat tanganmu

ada sangsi yang tak selesai di sungai itu

2010

Catatan ke 23

Suatu hari, dimana kami, mempertimbangkan kembali akar. Suatu hari – kondisi telah menentukan takdir kami secara alami; law of nature. Suatu hari sastra, yang dipertimbangkan secara estetispun. Sesungguhnya landasan “pengetahuan”. Kita bergerak “mengetahui”. Sastra adalah upaya membicarakan law of nature. Jangan terjebak dengan pemahaman ini!


17 Juni 2010


Laman