Sastra Lampung Post

Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 Desember 2010

Pohon Jejawi (Budi Darma)

CERPEN
Pohon Jejawi
Kompas, Minggu, 26 Desember 2010 | 03:10 WIB

Oleh Budi Darma

Jangan buka peta Surabaya hari ini, tapi, bukalah peta Surabaya pada akhir tahun 1920-an, atau paling muda awal tahun 1930-an, ketika Belanda masih menjajah Indonesia. Waktu itu, jalan dan kampung bernama ”kedung” tidak sebanyak sekarang. Hanya ada satu pada waktu itu, yaitu Kedung Gang Buntu.

Seolah-olah jatuh dari langit biru, tiba-tiba saja Kedung Gang Buntu ada di situ, di sebuah kawasan dari sekian banyak kawasan di kota Surabaya. Dinamakan ”kedung” karena di situ ada sebuah ”kedung”, yaitu sumber air jernih, dan dinamakan ”buntu”, karena memang gang ini buntu. Buntu karena ujung gang ini bertemu dengan sebuah makam kuno, dan di sebelah makam kuno ada sebuah sumber air bersih, dan di seberang sana sumber air bersih ada sebuah hutan lebat.

Untuk masuk ke Kedung Gang Buntu, seseorang harus melewati sebuah jalan, Kroepen Straat namanya. Di tengah-tengah Kroepen Straat, tepat di mulut Gang Kedung Buntu, ada sebuah pohon jejawi yang asal-usulnya, seperti juga asal-usul Kedung Gang Buntu, sama sekali tidak jelas. Mungkin di seluruh dunia hanya ada beberapa pohon yang sama tua, sama besar, sama kokoh, sama tinggi, dan sama anggun dengan pohon jejawi di hadapan mulut Kedung Gang Buntu.

Sudah beberapa kali pohon jejawi ini memakan korban, semuanya orang Belanda. Pernah ada seorang pemuda Belanda naik kuda putih besar dan anggun tiba-tiba raib, konon diisap dan kemudian dikunyah-kunyah oleh arwah-arwah gaib penghuni pohon jejawi. Ada pula seorang pemuda Belanda bertubuh gagah, naik sepeda motor besar, melintasi Kroepen Straat dengan kecepatan setan, tiba-tiba tersandung batu besar yang sebelumnya tidak ada, lalu tubuhnya melesat ke udara, dengan cekatan didekap akar-akar pohon jejawi yang bergelantungan di dahan-dahannya, dijepit keras-keras tanpa ampun, kemudian dibanting ke tanah dengan kecepatan setan pula. Tercatat pula paling sedikit lima orang Belanda gantung diri, salah satunya tidak lain adalah seorang perempuan muda yang ketahuan bunting, entah dibuntingi siapa.

Pemuda penunggang kuda tiba-tiba raib, sebetulnya tidak masuk akal, demikian pula mengapa ada paling sedikit lima orang Belanda mati gantung diri. Di bawah pohon jejawi selalu ada orang bergerombol-gerombol, bukan hanya dari Surabaya, tapi juga dari tempat-tempat jauh, bahkan dari luar pulau, untuk bersemadi. Pribumi, Cina, Arab, dan entah bangsa apa lagi pasti ada. Seharusnya ada kesaksian mengenai penunggang kuda, dan seharusnya bunuh diri dapat dicegah

Kamis, 31 Maret 1927, pukul 2.47 siang, seorang insinyur Belanda asal Amsterdam turun di stasiun kereta api Semut, Surabaya, setelah menginap dua malam di Semarang dalam perjalanannya dari Batavia menuju ke Surabaya. Wajah insinyur ini tampan tapi sombong, tampak pandai tapi konyol pula, jalannya digagah-gagahkan, potongan tubuhnya mirip pemain sepak bola, tapi bukan sepak bola kelas nasional, cukuplah kelas kampung saja.

Insinyur Henky van Kopperlyk, inilah wali kota baru Surabaya, menggantikan wali kota lama, Justin Verhaar, yang masih muda tapi uzur karena penyakit tuberkulosis. Dalam hati Henky van Kopperlyk berkata garang: ”Vini, Vidi, Vici,” dengan lagak Julius Caesar ketika Julius Caesar pada tahun 47 Sebelum Masehi dengan mudah mengalahkan Raja Parnaces II di Zile, wilayah Turki sekarang.

Tapi ingat, kendati sudah punya istri, Henky van Kopperlyk masih menyembunyikan istrinya di Batavia. Bukan saja dia tidak bangga mengenai istrinya, tapi juga, dan inilah yang penting, dia agak malu. Nanti-nanti sajalah, barang satu dua minggu setelah dia datang, istrinya akan diselundupkan ke Surabaya, langsung dibawa masuk ke rumah dinas wali kota.

Pikiran utama Henky van Kopperlyk terpaku pada, tidak lain dan tidak bukan, pohon jejawi di mulut Kedung Gang Buntu. Mungkin pohon ini sudah berumur lebih dari empat ratus tahun, pikirnya. Andaikata lima belas orang berjejer-jejer sambil merentangkan tangan mengelilingi lingkaran pohon ini, tidak akan cukup. Dua puluh orang pun mungkin masih kurang. Dan Henky van Kopperlyk tahu, di semua kawasan di Afrika, Asia, dan Amerika Latin bagian selatan, pohon jejawi dianggap keramat.

Tapi, mestikah pohon jejawi itu dibiarkan tegak, menelan korban orang-orang Belanda, dan siapa tahu. Siapa tahu karena dia sudah mendengar, banyak orang suka berkumpul di bawah pohon jejawi, menyembah-nyembah pohon jejawi, meletakkan sesaji dengan penuh khidmat di bawah pohon jejawi, dan saling berbisik.

Orang berdatangan kemudian berbisik-bisik, itulah yang terjadi menjelang Perang Diponegoro, sebuah perang dahsyat pada tahun 1825-1830, pemberontakan Sitti Margopoh di Lubukbasung, Kabupaten Agam, Minangkabau, pada tahun 1908-1910, serta perkelahian antara kelasi-kelasi pribumi dan perwira-perwira Belanda di atas kapal perang Belanda Lucas Roemeltje pada tanggal 4 Februari 1924 di Laut Jawa, tidak jauh dari Surabaya.

Contoh lain masih banyak. Semuanya diawali dengan segerombolan orang datang ke tempat-tempat tertentu, disambung bisik-bisik. Semua merugikan Belanda. Memang, akhirnya Belanda menang, tapi melalui akal-akal licik, yang menurut hukum internasional diharamkan. Pangeran Diponegoro, misalnya, diundang untuk berunding, dan sesuai dengan kesepakatan, Pangeran Diponegoro datang sendirian, sama sekali tanpa pengawal. Ternyata Pangeran Diponegoro tidak diajak berunding, tapi langsung ditangkap, digebuki, dirantai, kemudian dibuang ke Makassar.

Sudah beberapa kali Henky van Kopperlyk membaca laporan mengenai pohon jejawi di mulut Kedung Gang Buntu. Beberapa orang bergantian datang dan berbisik-bisik. Inilah awal gerakan sebuah komplotan. Dan yang berbisik-bisik itu datang dari berbagai suku. Inilah awal gerakan nasional Indonesia, yang menyangkut semua suku bangsa di Indonesia. Beda dengan Perang Pangeran Diponegoro, yang hanya melibatkan orang-orang Jawa. Tidak sama pula dengan pemberontakan Sitti Margopoh, sebuah pemberontakan suku bangsa Minang di Sumatera Barat, dan sama sekali tidak menyuarakan ke-Indonesia-an.

Henky van Kopperlyk juga sudah banyak mendengar mengenai ilmu-ilmu gaib di berbagai daerah di Indonesia. Ilmu ini diciptakan dengan melalui berbagai sesajen dan doa-doa yang diucapkan dengan berbisik-bisik pula. Setengah tahun sebelum Henky van Kopperlyk tiba di Surabaya, misalnya, ada seorang laki-laki Belanda yang tiba-tiba kehilangan kemaluannya. Konon laki-laki Belanda ini bertualang di Kalimantan, menginap di tempat tinggal kepala suku, lalu meminang anak perempuan kepala suku. Malam itu juga keperawanan anak kepala suku dirusak, kemudian laki-laki Belanda ini, dengan bantuan serdadu-serdadu Belanda, melarikan diri ke Surabaya.

Di atas kapal laki-laki ini dengan bangga bercerita mengenai cara dia memperdaya kepala suku dan anak gadisnya, sambil beberapa kali tertawa terbahak-bahak. Tidak ada peristiwa apa-apa pada laki-laki Belanda ini selama perjalanan dari Banjarmasin ke Surabaya. Sampai tiba di Surabaya pun dia tidak mengalami apa-apa. Malam harinya, ketika dia akan kencing, barulah dia tahu bahwa kemaluannya telah hilang, tanpa merasa apa-apa.

Peristiwa laki-laki Belanda kehilangan kemaluan ini makin meyakinkan Henky van Kopperlyk, bahwa tindakan tegas harus segera diambil: binasakanlah pohon jejawi itu sampai ke akar-akarnya, sampai tidak ada sisanya lagi.

Di luar dugaan, ketika Henky van Kopperlyk dengan menggebu-gebu memutuskan untuk membabat habis pohon jejawi di mulut Kedung Gang Buntu, semua anak buahnya, baik langsung maupun menyindir-nyindir, menyatakan tidak setuju. Berbahaya. Maka, setelah memberanikan diri, beberapa pembantu Henky van Kopperlyk memberi tahunya terang-terangan. Ada pembesar yang mati terpatuk ular liar, ada pembesar lain yang tiba-tiba linglung, ada pula pembesar yang tampak sehat-sehat belaka, tapi ternyata tanpa alasan jelas anak laki-lakinya lumpuh, dan banyak contoh lain.

Henky van Kopperlyk pura-pura dengan sungguh-sungguh mendengarkan semua peringatan itu, dengan menutup mulutnya rapat-rapat. Selama beberapa hari dia tidak mau diajak bicara oleh siapa pun, termasuk pembantu-pembantu dekatnya mengenai masalah-masalah penting di Surabaya. Dia menutup mulut, dan dengan matanya terbuka, dia sengaja tidak melihat apa-apa.

Selama beberapa malam berturut-turut dia membaca laporan-laporan wartawan Belanda, Willem Coorvaben, dan juga surat-menyurat Wille Coorvaben dengan beberapa orang Belanda di Indonesia, antara lain dengan Rob Nieuwenhuys, pengarang Indo Belanda kelahiran Semarang.

Willem Coorvaben sangat jijik dengan orang-orang pribumi, orang-orang yang menurut dia ”inlander”, yaitu orang-orang kawasan pedalaman hutan belantara dan karenanya sangat primitif, biadab, malas, dan, ini yang berbahaya, anarkis. Dalam suratnya kepada Rob Nieuwenhuys dia menyatakan, dalam kedudukannya sebagai wartawan, dia akan berjuang mati-matian lewat tulisan-tulisannya, agar Belanda, sampai kapan pun, kalau perlu sampai dengan terompet tanda kiamat ditiup para malaikat, harus tetap mencengkeram Indonesia. Bangsa inlander ini, tegas Coorvaben dalam suratnya, akan sangat berbahaya apabila dibiarkan di luar kendali Belanda. Karena biadab dan malas, kalau dibiarkan, maka bangsa inlander akan menjadi bangsa yang korup, dan apabila dibiarkan terus, akan menjadi bangsa anarkis, yang kalau dibiarkan terus-menerus justru akan menghancurkan bangsa ini sendiri.

Akan tetapi, Henky van Kopperlyk tidak habis pikir mengapa Willem Coorvaben justru bukan hanya mengkhianati dirinya sendiri, tapi malahan menusuk sesama bangsa Belanda dari belakang. Dia menusuk bangsanya sendiri bukan pada jantungnya, tapi pada punggungnya. Coorvaben justru jatuh cinta kepada Imih, perempuan pribumi asal Jawa Timur, dan akhirnya mengawini perempuan hina-dina ini. Kawin resmi, bukan kawin bohong-bohongan. Kawin resmi, bukan kawin dengan nyai, sebutan resmi gundik-gundik Belanda.

”Willem Coorvaben, binatang terkutuk itu, tidak lain hanyalah calon penghuni neraka,” pikir Henky van Kopperlyk, bukan sambil bergidik, tapi justru sambil tersenyum, seolah-olah habis memenangi sebuah pertandingan berbahaya. Henky van Kopperlyk merasa menang, karena, sebetulnya, setiap kali dia berhadapan dengan perempuan pribumi, jantungnya selalu berdegup-degup, dan semangatnya untuk mengawini pribumi ini hampir-hampir tidak dapat dikendalikan. Dalam kepalanya, hampir setiap hari, dia membayangkan mempunyai istri pribumi. Karena setiap kali dia melihat perempuan pribumi, orangnya atau gambarnya, langsung jatuh cinta dan ingin mengawininya, maka istri dia di kepala dia hampir setiap hari berganti-ganti pula. Hari ini dia membayangkan punya istri pribumi asal Krembangan, besok dia membayangkan sedang bercumbu dengan istri pribumi dari Perak, lusa dia membayangkan sedang bergulat dengan istri pribumi asal Mojokerto, atau mungkin Jombang, atau mungkin juga Sidoarjo.

Semua bayangan indah selalu membawanya kembali ke bumi tempat dia berpijak, yaitu bumi nyata penuh penindasan. Henky van Kopperlyk adalah suami, tapi istrinya, Anneke von Hubertus, anak saudagar kaya asal Tilburg, selalu siap menginjak-injak kepala suaminya.

Sebagai seorang laki-laki yang menurut dirinya sendiri cerdik, tentu saja Henky van Kopperlyk tidak kehabisan akal. Sekali tempo dia berhasil memperdaya perempuan pribumi, dan memperlakukannya sebagai kuda tunggangan. Bagaikan seorang joki gagah perkasa, dia tunggangi perempuan pribumi itu dengan gaya naik turun, seperti gaya naik turunnya seorang joki benaran di atas kuda pada pawai festival. Joki benaran pasti menengok ke kanan dan ke kiri sambil melambaikan-lambaikan tangan, dan Henky van Kopperlyk menengok ke kanan dan ke kiri dengan bangga, karena, inilah kebiasaannya, setiap kali dia berhasil menjerat perempuan pribumi, di kiri kanannya pasti dia pasang cermin ukuran besar.

Pagi itu, ketika cuaca Surabaya benar-benar cerah, Henky van Kopperlyk datang ke kantor lebih awal, dengan gaya percaya diri, dan jalan agak digagah-gagahkan. Bahkan, beberapa saksi mata menuturkan, sambil berjalan menuju ke ke ruang kerjanya, Henky van Kopperlyk sempat menggumamkan lagu ”Penebang Pohon Tua”. Untuk mendirikan kincir-kincir angin, babat habislah pohon-pohon tua. Kincir angin sumber kemakmuran, kincir angin sumber ketenangan. Pohon tua hanyalah sarang burung-burung jahat, pohon tua hanyalah rumah para iblis, pohon tua hanyalah persinggahan kelelawar-kelelawar besar sebelum menjadi vampir. Babat habislah pohon tua, babat habislah pohon tua. Gumam Henky van Kopperlyk benar-benar bersemangat.

Demikianlah, pagi itu juga dia memerintahkan anak buahnya untuk membabat habis pohon jejawi di mulut Kedung Gang Buntu. Alat-alat berat harus didatangkan. Dalam waktu paling lama lima jam, pohon jejawi beserta seluruh akar dan udara yang mengelilinginya, serta burung-burung jahat yang menghuninya, harus sudah selesai.

Sebelum gergaji raksasa digerakkan, Henky van Kopperlyk naik ke kendaraan berat, lalu berpidato. Suasana tenang, sunyi, senyap. Hanya kata-kata lantang Henky van Kopperlyklah yang menyalak-nyalak. Alam tetap tenang. Tidak ada satu burung pun yang terbang, tidak ada satu burung pun yang berkicau. Dan juga, tidak ada satu burung pun yang tampak. Lalu Henky van Kopperlyk turun dari kendaraan berat, memberi aba-aba: ”satu… dua… tiga!”

Mesin gergaji raksasa mulai meraung-raung.

Barulah ketika tangan-tangan raksasa gergaji akan menyentuh pohon jejawi, dengan sangat mendadak angin berderak-derak ganas, dan sekian ratus burung yang mula-mula bersembunyi dengan serentak beterbangan, sambil menjerit-jerit, memuntahkan sumpah serapah. Dalam waktu yang sangat singkat, hampir semua burung di seluruh Surabaya dan sekitarnya berdatangan dengan sangat cepat sekali. Langit gelap, bagaikan mendung yang menggantung.

Lalu, bagaikan mendapat komando dari kekuatan gaib, sekian banyak burung melayap mendekati Henky van Kopperlyk, tidak untuk memagut-magutnya, tapi hanya untuk mengelilingi tubuhnya, sambil menjerit-jeritkan sumpah serapah.

Penebangan pohon jejawi gagal. Gubernur Jenderal di Jakarta memarahinya, dan Gubernur Pantai Timur Jawa, berkedudukan di Surabaya, pura-pura memuji-mujinya. Istri Henky van Kopperlyk, yang sudah didatangkan secara sembunyi-sembunyi, seorang perempuan gendut dan berwajah berantakan, menertawainya dengan bumbu kata-kata ”sejak dulu saya sudah tahu kamu goblok.”

Sebagai wali kota yang ingin menunjukkan kepandaian dan wibawa besarnya, Henky van Kopperlyk berusaha keras untuk menutupi kelemahannya. Dia bersumpah untuk mengguncang-guncang bumi dan langit sambil berseru-seru dalam hati: ”Inilah Henky van Kopperlyk, wali kota yang namanya akan dicatat dengan tinta emas dalam sejarah kolonialisme Belanda!”

Benar juga. Hanya dalam waktu beberapa bulan Henky van Kopperlyk sudah siap untuk melaksanakan gagasan besarnya: semua klub sepak bola Belanda di seluruh Jawa dikumpulkan di Surabaya untuk bertanding memperebutkan Piala Gubernur Jenderal. Hari dan tanggal pembukaannya sudah ditentukan, yaitu Minggu, 17 Juli 1927, tepat pada hari ulang tahun Gubernur Jenderal. Acara pembukaan pun dirancang dengan sangat teliti: tempat duduk Gubernur Jenderal, para gubernur, para bupati, pawai drumband, paduan-paduan suara lengkap dengan lagu-lagu marsnya, penyanyi-penyanyi, penari-penari, dan semuanya sudah siap.

Seluruh kota Surabaya dihiasi lampu pijar, gedung-gedung pemerintah dibersihkan dan dicat baru, demikian pula semua sekolah, toko, rumah, dan bangunan lain. Gedung-gedung klub Belanda, kolam-kolam renang untuk orang Belanda, ruang tunggu khusus untuk orang Belanda di tiga stasiun kereta api Surabaya, dipasangi papan dengan huruf-huruf besar: ”Pribumi dan Anjing Dilarang Masuk”.

Tidak boleh ada satu acara pun yang gagal. Jangan sampai Gubernur Jenderal menganggapnya goblok. Tidak boleh ada satu gubernur pun di seluruh Indonesia yang tidak memuji-mujinya. Semua bupati harus bertekuk lutut memberi hormat kepada dia. Henky van Kopperlyk adalah nama yang tidak boleh dipandang sebelah mata oleh siapa pun, tidak pula oleh Anneke von Hubertus, istrinya.

Henky van Kopperlyk sadar perempuan bernama Anneke von Hubertus bukan hanya berwajah berantakan, tapi juga berhati duri, congkak, selalu menganggap dirinya benar, dan orang lain hanyalah kera tanpa otak. Ayahnya, Henricus von Hubertus, di mana-mana berusaha meyakinkan, darah dalam tubuhnya darah Belanda tulen asal Tilburg, dan sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan darah Jerman. Hubertus nama Jerman, tapi dalam darahnya justru mengalir kebencian terhadap Jerman.

Di ruang tamu dan ruang kerja rumah Henricus von Hubertus terpampanglah iklan rokok yang sudah dibesarkan, dan dibingkai dengan lapisan emas. Iklan rokok merek Ogden. Dalam iklan ada gambar kapten JR Jellicoe RN, seorang kapten kapal perang Inggris yang terkenal berani, dan terkenal pula sebagai perokok berat. Kapten Jellicoe ini, tidak lain, adalah nenek moyang Jenderal Angkatan Laut Inggris, yang dengan kapalnya, His Majesty Ship Centurion, mengobrak-abrik angkatan laut Jerman dalam Perang Dunia I.

Henky van Kopperlyk insinyur tamatan Universitas Delft, muda, berambisi, dan merasa tahu jalan paling baik untuk sampai ke puncak. Dia mengenal nama Henricus von Hubertus sebagai saudagar sombong tapi kaya, tidak punya saudara, keponakan, dan apa pun juga, kecuali istrinya yang raut wajahnya seperti orang akan menangis, tapi tahu bagaimana memuaskan suaminya pada waktu malam. Anneke von Hubertus satu-satunya anak Henricus von Hubertus, dan karena itu, tidak ada orang lain yang dibenarkan oleh undang-undang untuk menerima harta karun warisan kecuali Anneke.

Setiap hari, paling sedikit tiga kali, Henky van Kopperlyk berkeliling kota mengontrol persiapan acara besar hari ulang tahun Gubernur Jenderal. Dia sering naik kuda dengan sikap digagah-gagahkan, diiringi oleh beberapa ajudannya. Di tempat-tempat ramai dia memerintah kudanya berjalan perlahan-lahan bagaikan dalam sebuah parade, sambil mengangkat hidungnya tinggi-tinggi dan melambai-lambaikan tangan kepada khalayak ramai.

Dia selalu kurang puas melihat papan-papan besar ”Anjing dan Pribumi Dilarang Masuk” di tempat-tempat umum. Terlalu kecil, atau hurufnya kurang mencolok, atau tempatnya terlalu tersembunyi. Maka, atas perintahnya, papan-papan ”Anjing dan Pribumi Dilarang Masuk” menjadi benar-benar mencolok. Kisah tentang Belanda kehilangan kemaluannya dan pengalamannya sendiri dikerubuti sekian banyak burung membuat hatinya terbakar. Pribumi harus dihina, dilecehkan, dan dipermalukan, sebelum mereka dibakar hidup-hidup.

Para bupati adalah pribumi, kendati bangsawan, bagaimanapun mereka pribumi. Perintah langsung dari Gubernur Jenderal menegaskan, semua orang Belanda harus berbuat baik kepada para bupati, dan harus mampu membuat mereka makin setia kepada Belanda dan makin jijik kepada sesama pribumi. Henky van Kopperlyk akan membuktikan bahwa para bupati nanti akan bertekuk lutut menghadapinya.

Sejak hari pertama perkawinannya, Henky van Kopperlyk sudah bertekad untuk tidak mempertontonkan istrinya di depan umum, kecuali kalau terpaksa sekali. Dia tahu orang-orang akan mengejek-ejek istrinya dan menganggap dia goblok karena tidak mampu mencari istri yang pantas. Dan dia sadar orang-orang mempunyai hak penuh untuk mengolok-olok istrinya karena memang wajah istrinya berantakan, dan kalau berbicara kadang-kadang seperti anjing geladak sedang menyalak. Demikianlah, pada hari ulang tahun Gubernur Jenderal, Henky van Kopperlyk datang ke lapangan sepak bola, seperti biasanya, tanpa istri. Bagi pembesar-pembesar Belanda, datang ke acara resmi tanpa istri adalah perbuatan bejat. Tapi semua tamu sudah mafhum, Henky van Kopperlyk tidak akan berani mempertontonkan istrinya di depan umum.

Upacara pun dimulai. Drumband berjalan keliling lapangan. Anak-anak sekolah Belanda berjalan dengan semangat membara di belakangnya. Berangkai-rangkai mercon meledak-ledak di udara. Dua pesawat kecil pun berkeliaran ke sana kemari, menyebarkan potongan-potongan kertas beraneka warna. Lalu, pidato-pidato pun dimulai.

Akhirnya, tibalah acara yang amat penting bagi Henky van Kopperlyk. Bola dipasang tepat di tengah lapangan. Bunyi terompet dan tambur menggetarkan udara. Lalu, senyap. Henky van Kopperlyk berdiri dengan sikap gagah tidak jauh dari bola. Pistol pertama meledak. Senyap. Henky van Kopperlyk mengambil ancang-ancang untuk menendang bola. Pistol kedua meledak. Senyap. Henky van Kopperlyk makin siap menendang, menunggu pistol ketiga meledak. Begitu pistol ketiga meledak, dengan penuh semangat Henky van Kopperlyk lari menuju ke arah bola.

Nah, Henky van Kopperlyk makin mendekati bola, kemudian menyepak bola dengan kekuatan penuh. Karena tali sepatunya entah mengapa kurang kencang, bukan bolanya yang terkena tendangan. Justru sepatu Henky van Kopperlyklah yang terlepas, lalu melayang di udara, terus melayang, seolah-olah ingin menggedor-gedor pintu surga. Bola tetap berada di tempatnya semula.

Minggu, 18 Juli 2010

Ranggalawe Gugur

Jawa Pos, Minggu, 18 Juli 2010 ]

Bukan kematian benar menusuk kalbu

Keridlaanmu menerima segala tiba

Tak kutahu setinggi itu atas debu

dan duka maha tuan bertakhta1


---

Di atas panggung, beberapa kotak yang disembunyikan begitu saja di balik kain hitam, Ranggalawe gugur. Tujuh bidadari tua mengelilingi tubuhnya yang tegak berdiri -bahkan kematian tak mampu merubuhkannya. Mereka melempari tubuh yang mematung itu dengan bunga. Hanya angin malam yang sanggup menyaksikannya. Angin yang sejak 10 tahun yang lalu menggerakkan rombongan itu dari satu lapangan ke lapangan yang lain. Dari satu kesepian menuju kesepian berikutnya. Dan malam itu selesailah semuanya. Angin tak sanggup lagi menggerakkan mereka menuju pemberhentian berikutnya. Lalu angin pelan-pelan mati. Dan tak mampu menggerakkan dirinya sendiri.

''Malam ini adalah pertunjukan terakhir kami. Tak ada lagi yang menginginkan kehadiran kami. Tak ada lagi yang menyaksikan kami. Kami tak punya alasan lagi untuk berlama-lama di sini.'' Seseorang gendut berkaos hitam membuka acara. Di belakangnya berjajar para aktor mengenakan kostumnya masing-masing. Wajah-wajah yang tak bahagia telah disembunyikan sejak sore tadi di balik bedak. Kakek-kakek di balik wajah Menak Jingga yang merah mencoba berdiri tegak. Ranggalawe yang berdiri di sampingnya demikian pula. Sebentar lagi mereka akan bertarung untuk terakhir kalinya.

Lalu pertunjukan pun dimulai setelah beberapa orang naik ke panggung untuk menyampaikan simpati -sejumlah puisi. Mereka berduka atas kematian dan tak bisa berbuat apa-apa. Tapi siapa sesungguhnya yang harus bertanggung jawab atas kematian ini? Malam itu tak sebagaimana biasanya, mereka meninggalkan tobongnya -tobong yang sesungguhnya telah lama kosong. Kain-kain dekorasi mereka pasang di beberapa penjuru, layar-layar yang sudah tak sanggup menggambarkan apa-apa. Mereka telah lama kehilangan warna. Serupa bendera-bendera kematian. Gerbang tobong juga mereka pasang sebagai penanda merekalah satu-satunya rombongan ketoprak tobong yang tersisa.

Ratu Kencana Wungu duduk di atas singgasananya. Kursi kayu bercat merah yang terlambat dibawa masuk ke panggung. Kelihatan karena tak ada layar untuk menutup pergantian. Semuanya diputuskan untuk dibuka malam itu. Termasuk kegagalan mereka untuk bertahan sebagai seniman. Kencana Wungu lantas menembang menyapa yang datang. Patih Logender duduk di hadapannya, manggut-manggut menerima kenyataan bahwa suara Kencana Wungu terlalu lirih untuk sebuah pertunjukan di tengah lapang. Yang riuh rendah oleh suara kendaraan dan pasangan-pasangan muda yang pacaran di atas sepeda panjang. Rarasati si Patih Dalam tak kebagian kursi. Ia berdiri saja di samping Kencana Wungu. Sementara para ksatria duduk di bawah, bersesakan dan saling menutupi: Layang Seta, Layang Kumitir, Menak Koncar, dan beberapa prajurit tanpa nama alias bala depak yang senantiasa terdepak. Panggung sudah terlalu sempit untuk menampung tubuh-tubuh mereka. Negeri dalam keadaan baik-baik saja, demikianlah yang kutangkap samar-samar dari percakapan mereka. Rakyat hidup makmur kerta raharja. Tak kurang suatu apa. Mereka tampak gembira dengan sandiwara itu. Bercakap-cakap diselingi canda dan tawa. Patih Logender memamerkan kesaktian sepasang anaknya, Seta dan Kumitir. Hanya Adipati Tuban, Ranggalawe, yang tak kelihatan batang hidungnya. Adipati paling sakti itu konon sedang bertapa di rumahnya. Mungkin pula tak punya ongkos berangkat ke Majapahit. Bisa saja.

Kulihat ke belakang. Cukup banyak juga yang datang. Orang-orang yang sekadar lewat. Atau sejumlah orang yang melayat. Kabar kematian kelompok ini memang sudah disebar di koran-koran dan facebook. Seorang anak kecil yang duduk di belakangku bertanya pada bapaknya. Itu apa? Ketoprak, jawab bapaknya. Lalu Menak Jingga di samping panggung memukul kepraknya. Rupanya malam itu ia merangkap sebagai dalang sekaligus tukang keprak. Bunyi keprak itu membangunkan Angkat Buta yang sejak awal tiduran di belakang gamelan. Ia pun bergegas masuk ke dalam panggung untuk menyampaikan pesan junjungannya, Menak Jingga. Si Adipati buruk rupa itu menagih janji sang Ratu Ayu. Dulu semasa ia masih bernama Jaka Umbaran yang berwajah tampan ia pernah dijanjikan untuk mendapatkan Kencana Wungu jika berhasil mengalahkan Kebo Marcuet, pemberontak yang sakti mandraguna. Sang pemberontak berhasil dikalahkan, tapi Jaka Umbaran terpaksa pulang dengan wajah dan tubuh babak belur. Jika tak ada Dayun yang menolong mungkin ia sudah lama mati.

Rarasati merobek-robek surat itu. Layang Seta dan Layang Kumitir tanpa perintah selain karena pongah menghajar utusan dari Blambangan itu. Angkat Buta berlari ke alun-alun. Angkat Buta selalu menantinya di sana selama bertahun-tahun. Perang tak terhindarkan. Gantian para bala dupak mendapatkan ruang. Dengan gagah berani mereka berperang. Melakukan adegan-adegan berbahaya. Beberapa kali mereka terlontar ke luar panggung. Terkapar di tanah lapang lalu dengan cepat bangun lagi mengejar sang lawan. Ada juga prajurit yang kedua tangannya buntung. Ialah yang paling kerap terlontar keluar panggung. Penonton terbahak dan bersorak meski adegan perkelahian ini sama sekali tak menawan. Ada pula yang malah jatuh kasihan.

Bisa ditebak, mereka telah mengulanginya beratus kali, Layang Seta dan Layang Kumitir kalah. Logender menolongnya dan membiarkan utusan-utusan Blambangan itu pulang.

Di Lumajang enam perempuan menari-nari. Menari sejadi-jadinya.

Mas mas mas aja diplerok (Mas mas mas jangan dipelototin)

Mas mas mas aja dipoyoki (Mas mas mas jangan digodain)

Karepku njaluk diesemi 2 (Pinginnya minta disenyumin)

Ruang pecah berkeping-keping. Mereka menyebar ke segenap penjuru membawa piring. Mendatangi penonton satu per satu, menjual cendera mata: gantungan kunci bertuliskan Ketoprak is the place where we live and where we die... berlatar orang sendirian mendirikan atap tobong di langit yang biru cerah. Mereka terus beredar dalam kegelapan. Ada pula yang membawa bonang dan meminta uang. Lagu berlanjut. Apa saja yang penting berirama dangdut. Beberapa penonton naik ke panggung dan bergoyang. Lalu lampu tiba-tiba mati. Gamelan terus dibunyikan. Lagu terus dinyanyikan. Beberapa orang tampak sibuk mencari kesalahan. Menyusuri kabel demi kabel. Memeriksa bensin di dalam generator. Berkali-kali mereka pernah mengalaminya, mengulang kesalahan-kesalahan yang sama. Berkali-kali mereka ngebut di jalanan masih dengan pakaian wayang untuk membeli bensin agar pertunjukan tetap bisa dilanjutkan. Alhamdulillah, lampu mati tak lama. Lampu yang semenjana itu menyala kembali. Perempuan-perempuan itu sudah kembali ke panggung dan menjadi istri-istri dari Adipati Menak Koncar. Lalu adegan domestik di tengah lapangan, bocor-bocor tak karuan. Percakapan yang lamat-lamat itu terus berlangsung hingga Menak Jingga menabuh keprak untuk menandai kedatangannya sendiri. Ia masuk ditemani Dayun, abdinya yang setia.

Menak Koncar menyambutnya dengan hangat meski tahu tak berapa lama lagi mereka akan bertengkar dan ia akan kehilangan Mentarwati, istrinya yang pertama. Pertengkaran dimulai ketika Menak Jingga meminta bantuan Menak Koncar untuk mengawinkannya dengan Kencana Wungu. Menak Koncar meledak marah. Ia tak sanggup membayangkan ratunya yang jelita bersanding dengan manusia buruk rupa. Mentarwati bersedia mencarikan jodoh untuk Menak Jingga. Tapi Menak Jingga keras kepala. Sambil menyembah-nyembah kaki Mentarwati, Menak Jingga terus menyebut-nyebut nama Kencana Wungu. Mentarwati sebal dan memukul kepala Menak Jingga. Pertarungan kembali terjadi di atas panggung sempit itu. Kali ini yang tampil adalah prajurit-prajurit perempuan. Dengan gerak yang luar biasa kikuk -jangan dibayangkan pertarungan antara Lasmini versus Mantili dalam film Saur Sepuh- mereka saling pukul dan tusuk. Penonton yang jumlahnya sudah jauh berkurang kembali terbangun. Bertepuk tangan menyemangati pertempuran prajurit Lumajang dan Blambangan. Pertempuran itu berakhir dengan tewasnya Mentarwati. Menak Jingga menusuk tubuh perempuan itu berali-kali dengan kerisnya. Menak Koncar datang terlambat. Ia hanya mendapati tubuh istrinya yang dingin dan berlumuran darah. Ia menangis dan pelan-pelan mengangkat tubuh istrinya. Adegan yang direncanakan dramatis itu hancur berantakan. Menak Koncar ternyata tak kuat membopong tubuh perempuan itu. Makan nasi sehari sekali dengan selingan mie instan ternyata membuat Adipati Lumajang itu kekurangan tenaga. Tak ada yang datang membantunya. Penonton kembali bersorak. Mereka menyemangati Menak Koncar dengan tepuk tangan. Akhirnya dengan susah payah, juga didorong rasa malu, ia berhasil membawa istrinya keluar panggung. Dan buru-buru dijatuhkannya begitu sampai di tepian panggung.

Lalu lagu gembira mencoba membangkitkan suasana. Gending Badutan Sragen: Rewel. Omonga terus terang yen pancen kowe bosen. Ora perlu kakehan alasan... (Bicaralah terus terang jika kamu bosan. Tidak perlu banyak alasan...)

Seorang pelawak masuk ke panggung dan me­nari sekenanya. Ia pelawak karena kumisnya mirip Hitler. Entah sejak kapan pelawak-pelawak kita memakai kumis macam itu. Mungkin sejak mereka menonton Charlie Chaplin. Mungkin pula suatu kali seorang pelawak pendahulu secara tak sengaja mengusapkan jelaga di atas bibirnya. Lalu dua kawannya datang menyusul. Penonton menanti kelucuan apa yang akan mereka munculkan. Tapi tak ada. Mereka sudah terlalu lelah untuk mencari bahan lawakan. Mereka hanya bercanda tentang lapar. Mereka pura-pura makan sampai kenyang. Mereka memesan makanan-makanan terenak yang mereka impikan. Dua bungkus rokok dilemparkan kepada mereka. Seorang pelawak pun turun ke panggung, memungutnya. Ia melempar satu bungkus ke arah para penabuh gamelan. Di tengah mereka berkhayal makan sate kambing datang seorang penonton memberi amplop. Minta lagu Prau Layar, katanya. Am­plop itu pun dibuka. Berisi duit yang langsung me­reka hitung satu per satu. Lembaran-lembaran uang berwarna merah itu berjumlah tujuh lembar. Semua orang bertepuk tangan. Mungkin itu adalah saweran paling banyak yang pernah mereka dapatkan. Sayang mereka mendapatkannya di pertunjukan terakhirnya.

Malam ini mungkin mereka akan mendapat lebih dari 2.000 rupiah per orang, tidak seperti malam-malam biasanya. Mereka memanggil juragan mereka naik ke atas panggung. Sang juragan, lekaki berkaos hitam yang tadi membuka acara mengucapkan terima kasih atas bentuk simpati tersebut. Dan ia pun menyanyikan Caping Gunung karya maestro keroncong Gesang yang baru saja meninggal dunia. Para pelawak mengingatkan bahwa mereka seharusnya menyanyi Prau Layar. Tapi lelaki itu mungkin tak mendengarnya. Ia menyanyi Caping Gunung. Ia meminta para pelawak menari. Tapi tak ada yang menari. Setelah lagu selesai kembali ia mengulang kata pamitnya. Malam ini kami pamit mati. Seperti syair sebuah lagu, katanya. Lilanana pamit mulih... (Relakanlah aku pamit pulang...)

Lilanana pamit mulih (Relakan aku pamit)

Pesti kula yen dudu jodhone (Aku memang bukan jodohmu)

Muga enggal antuk sulih (Semoga segera mendapat ganti)

Wong sing bisa ngladeni slirane (Orang yang bisa mendampingimu)

Pancen abor jroning ati (Memang berat rasanya)

Ninggal ndika wong sing ndak tresnani (Meninggalkan orang yang kucintai)

Nanging badhe kados pundi (Tapi mau bagaimana lagi)

Yen kawula saderma nglampahi3 (Aku cuma sekadar melakoni)

Lelaki itu kemudian memanggil seorang tamu yang datang dari Jakarta. Seorang aktivis perempuan yang cantik. Ia meminta perempuan itu menyampaikan orasinya. Sang perempuan dengan berapi-api mengutuk kematian-kematian seni tradisi. Ia menyalahkan masyarakat yang tak lagi menghargainya. Ia menyalahkan pemerintah yang tak pernah merawatnya. Ia menyalahkan organ dangdut yang mematikan sawah para seniman tradisi. Lalu ia turun dan pertunjukan kembali berlangsung.

Malam sudah larut. Sebagian besar penonton sudah pulang. Sudah larut malam pula di Kadipaten Tuban. Sang Adipati Ranggalawe tengah bercakap-cakap dengan istrinya. Ia merisaukan keadaan Majapahit yang tak lagi tentram. Percakapan tampak dipercepat. Mungkin karena penonton yang semakin sedikit. Ranggalawe buru-buru ke sanggar pamujan. Berdoa dan membakar kemenyan. Ia bersila membelakangi penonton. Sebuah tembang palaran mengalun keras dari mulutnya. Menak Koncar datang menemuinya. Melaporkan kebrutalan Menak Jingga yang makin menjadi-jadi. Menak Koncar menangisi kematian istrinya, menangisi Lumajang yang sudah berada di genggaman Menak Jingga. Bergetar dada Ranggalawe mendengar tangisan Menak Koncar, kemenakannya. Segera ia memanggil Wangsapati ajudannya. ''Ambil Payung Tunggul Naga, malam ini aku akan berangkat ke Lumajang!''

Adegan pertemuan Ranggalawe dan Menak Jingga segera disusun. Menak Jingga menyambut kedatangan Ranggalawe dengan baik. Ia menghaturkan hormat pada orang yang paling disegani di Majapahit itu. Ranggalawe dengan tenang mendengarkan kisah Menak Jingga. Ia bisa mengerti perasaan Menak Jingga yang kecewa karena ditolak oleh Ratu Kencana Wungu. Dalam hal ini ia menyalahkan Kencana Wungu yang mengingkari janjinya. Tapi ia juga mengutuk Menak Jingga yang telah membuat huru-hara di Majapahit. Maka, dengan segala hormat ia minta Menak Jingga menghentikan pemberontakannya. Menak Jingga menggelengkan kepalanya. Ia meminta maaf tak bisa menghentikan semuanya. Maka keduanya pun berhadapan.

Tak ada yang bisa menandingi kesaktian Ranggalawe selama Payung Tunggul Naga tetap memayunginya. Menak Jingga yang terdesak segera menghujani Wangsapati si pembawa payung dengan panahnya. Pengawal nahas itu pun terjungkal dengan beberapa anak panah menancap di tubuhnya. Ranggalawe terus maju. Ia tak peduli dengan apa-apa lagi. Kematian Wangsapati begitu melukai hatinya. Dengan cepat ia berhasil menangkap Menak Jingga. Ia injak kepala adipati yang berwarna merah itu. Menak Jingga tak bisa bergerak sama sekali. Ia bahkan harus merelakan Gada Wesi Kuning andalannya direbut oleh Ranggalawe. Tetapi saat Ranggalawe mengangkat gada itu tiba-tiba tubuhnya kaku. Ia mati. Tubuhnya tanpa Payung Tunggul Naga adalah tubuh paling lemah yang pernah ada. Ia kehilangan nyawa karena mengangkat Gada Wesi Kuning. Bidadari-bidadari dengan rambut panjang terurai segera berlari mengelilinginya. Menak Jingga me­me­rintahkan agar tubuh pahlawan itu dibawa pulang ke Blambangan. ''Makamkan ia dengan upacara kehormatan!''

Pertunjukan selesai. Pertunjukan terkahir mereka. Dengan cepat mereka mengemasi barang-barangnya dan pulang. Aku juga. Malam menunjuk pukul 12 tepat. Di jalan aku berpapasan lagi dengan mereka. Ranggalawe berjalan sendirian lengkap dengan pakaian kebesarannya. Beberapa pemain lain menyusul di belakangnya. Aku tak tahu ke mana mereka akan pulang malam ini. Tobong yang sudah 10 tahun mereka diami telah mengusir mereka. ***

2010

(End notes)

1 Nisan, puisi karya Chairil Anwar, 1941

2 Aja Dipleroki, lagu karya Ki Nartosabdho

3 Pamitan, lagu karya Gesang, 1940

---

Oleh: Gunawan Maryanto

Sabtu, 10 Juli 2010

Cerpen Yanusa Nugroho: Tangga Cahaya...

Jawa Pos, Minggu, 11 Juli 2010

Tangga Cahaya...

DI mataku, bumi dan langit dihubungkan dengan begitu banyak tangga. Hanya tangga, terbuat dari -entah apa bahannya-- namun, sesuai dengan pengetahuanku, rasanya, mirip cahaya. Ya, cahaya. Agar mudah otakmu menerima gambaran yang kuberikan, maka, mungkin aku menyebutnya seperti cahaya neon (meskipun, menurutku, itu masih jauh dari apa yang kusaksikan ini).

Untuk mudahnya, maka kuberi nama saja itu tangga cahaya neon. Hanya saja, jika lampu neon itu menggunakan tabung, ini tidak. Hanya cahaya saja berpendar indah, berwarna-warni. Sungguh, seandainya saja kau bisa menyaksikannya, maka kau akan berjingkrak-jingkrak, atau malah terbengong-bengong, karena matamu menyaksikan pemandangan menakjubkan. Mungkin yang paling menakjubkan sejak kau mampu menikmati dunia ini.

Tetapi, sebentar, Kawan. Aku tak punya kekuatan yang mungkin bisa sedikit membantu orang lain, termasuk dirimu, untuk melihat apa yang kusaksikan. Jangankan kekuatan yang kuberikan, sedangkan aku sendiri saja tak tahu apakah ini sebuah kekuatan atau keanehan.

***

Sebentar, sebelum terlalu jauh aku meracau soal tangga ini, ada baiknya kau tahu sedikit ihwal semua ini.

Awalnya, seingatku, aku sakit keras. Mula-mula panas dan dingin menyerangku habis-habisan. Istriku mengira aku kena DB, lalu ketika dibawa ke dokter, dokter mengatakan gejala tipus. Lantas, ada seorang kawan membelikanku vermint, kapsul cacing tanah yang dikeringkan. Sembuh. Maksudku sejak kutelan obat itu, panasku berangsur-angsur turun, nafsu makanku meningkat, kemudian berkeringat dan tubuhku segar kembali.

Akan tetapi, baru kusadari beberapa saat kemudian, ada yang berubah dengan mataku; maksudku, pandanganku. Saat itu, aku dikunjungi Haji Beni, sahabatku. Dia berkunjung karena mendengar aku sakit panas. Dia orang baik, sangat baik, malah. Aku menjulukinya dengan sebutan saudara kembarnya Mas Danarto, yang seniman itu. Julukanku beralasan karena, baik gestur, wajah, maupun tutur sapanya, beda-beda tipis dengan Mas Danarto. Ketika kujuluki demikian, Beni tertawa saja, karena dia sendiri tidak kenal dengan Mas Danarto. Dia hanya berkomentar bahwa dia senang disamakan dengan seniman; dan bukan koruptor. Ah, Haji Beni...

Ketika mengunjungiku, waktu itu, wajahnya agak pucat. ''Capek, kurang tidur,'' begitu jawabnya ketika kutanya. Namun, yang membuatku ternganga adalah kilasan-kilasan cahaya putih berpendar-pendar di atas kepalanya. Semula aku mengira lantaran mataku memang masih sulit menerima cahaya siang yang menyilaukan. Tetapi, karena cahaya di atas kepala Haji Beni hanya menggelimang dan membentuk sesuatu, aku jadi mulai percaya bahwa mataku melihat sesuatu.

Seminggu sejak kunjungannya, Haji Beni meninggal. Aku takziah di pagi hari itu. Ketika kira-kira 50 meter dari rumahnya, aku tertegun. Kusaksikan sebuah tangga cahaya bersinar lebih putih dan lebih berkilau daripada cahaya matahari, memancar dari atap rumah Haji Beni, lurus menembus awan dan... aku tak tahu di mana tangga itu berakhir. Orang-orang yang sudah lebih dulu hadir di sana sempat menyaksikan kecanggunganku, lalu menggamitku menuju jenazah Haji Beni dibaringkan. Aku duduk di samping jenazah sahabatku sambil memanjatkan doa. Dia orang baik. Wajah, dan sekujur tubuhnya memancarkan cahaya, dan rupanya dari situlah tangga cahaya yang kusaksikan di luar tadi itu, bermula.

***

Sejak itu, aku jadi sering menyaksikan tangga-tangga cahaya. Dan sejak saat itu, manakala aku melihat ada kelebatan-kelebatan cahaya di atas kepala seseorang, maka bisa kupastikan, tak lama lagi orang tersebut akan dipanggil Tuhan.

Maaf, bukan maksudku menakut-nakutimu. Sama sekali tidak. Dan pengetahuan semacam ini bisa kuperoleh, juga bukan karena mauku, apalagi cita-citaku. Untuk apa? Aku tiba-tiba diberi kemampuan melihat sesuatu yang biasanya tak kasat mata, dan aku tak mampu menolaknya. Entahlah, aku sendiri sering menyesal mengapa menceritakan peristiwa ini kepada orang lain. Karena sejak pertama kali kukisahkan penglihatanku ini kepada orang lain, tidak satu pun yang percaya. Kalau kau pun tak percaya, aku paham sepenuhnya.

***

Seperti kataku tadi, bumi dan langit di mataku memang dihubungkan dengan begitu banyak tangga cahaya, cahaya neon tanpa tabung. Bersembulan, timbul tenggelam, berpendaran siang malam, mengantarkan orang-orang baik kembali kepada Tuhan. Sungguh, ketika kupandangi itu semua, tak terasa air mataku meleleh. Keangkuhanku cair oleh keagungan luar biasa yang dipertunjukkan Tuhan kepadaku. Hanya saja, aku tak bisa begitu saja mengatakan dan menggambarkannya kepada siapa pun. Aku hanya bisa menunjukkan beberapa bagian saja, yang mungkin memiliki ''kata'' sebagai wakilnya. Dan ''kata''', sungguh bukan sesuatu yang benar-benar mampu mewakilinya, aku tahu itu.

***

Suatu kali, entah berapa waktu silam, aku diminta untuk datang ke rumah seseorang.

''Untuk apa, ya?''

''Begini. Saya hanya diminta untuk menjemput Bapak, soal ada kepentingan apa, saya tidak tahu,'' ucapnya dingin, tetapi memaksa itu.

Kupandangi beberapa saat beberapa laki-laki berambut ijuk pendek dan bertubuh karang itu.

''Tapi... malam-malam begini?''

''Ini penting, maaf, saya hanya diperintah begitu.''

Hmm.. kata ''diperintah'' ini yang membuatku gelisah. Aku paling tidak menyukai manusia yang hanya menjalankan perintah, tanpa tahu maksud tindakannya.

Dan beberapa saat kemudian, mataku menangkap kilatan-kilatan cahaya merah, seperti cahaya laser pointer, berkitar-kitar gelisah di atas kepala para lelaki itu.

Wajah mereka pun kelihatan menegang. Mungkinkah cahaya itu menandakan akan terjadi sesuatu yang tidak mengenakkan, bahkan membahayakan mereka jika ''perintah'' itu gagal dilaksanakan?

Dugaanku benar. Ketika aku sudah berada di rumah si ''pemerintah'' yang minta ampun besar dan luasnya itu, kilatan-kilatan laser di kepala manusia karang itu lenyap. Bahkan yang tadi berkata dingin dan agak memaksa kepadaku itu, kini dengan keramahan yang kaku menawariku mau minum apa.

''Saya dengar Anda bisa meramalkan kematian?'' begitu ucapan berat si pemilik rumah besar itu, begitu para lelaki karang itu meninggalkan ruangan.

''Yang bilang begitu siapa, Pak?''

''Lho, jadi untuk apa saya undang Anda malam ini...''

''Yaa... maaf, Pak. Izinkan saya pulang, kalau begitu.''

''Hahahaha...nanti dulu, sabar, saya bercanda, kok, hahahahaha...''

Kusaksikan seorang Farao merentangkan tangannya, menunggu tundukan kepala budak-budaknya. Aku tak tahu mengapa langkahku sampai di istana Firaun ini?

''Begini. Yang saya dengar, Anda bisa melihat tanda-tanda kematian seseorang. Betul?''

''Bapak mendengar dari siapa?''

''Tak ada asap jika tak ada api.''

Aku terdiam. Apa maunya? Dan karena aku terdiam, dia kemudian mulai berceloteh tentang hidup dan mati menurut keyakinannya. Aku sendiri tak yakin soal apa yang disebutnya keyakinan itu. Aku hanya melihat manusia gunung karang yang merasa sudah mampu menyundul awan karena ketinggiannya. Aku pun mulai diserang rasa mual, mendengar bualan manusia ini.

''Anda pernah mendengar Wahyu Cakraningrat, kan?''

Kutatap saja wajahnya yang di mataku kian tampak tolol itu. Kisah pewayangan itu tentu saja kuhafal luar kepala, karena aku sering nonton wayang kulit di masa kecilku.

''Siapa yang mendapatkan wahyu itu, kok, saya lupa.. Mmm...siapa, siapa?'' tanyanya sambil memejamkan mata sementara jari-jarinya menjentik-jentik ke arahku, memaksaku ikut berpikir.

''Abimanyu, anak Arjuna...'

''Yaaaa... Tapi itu di wayang, di zaman kita ini, Anda tahu kepada siapa?'' ucapnya setengah berbisik dan mimiknya penuh kebanggaan.

Kau tahu jawaban yang diharapkannya muncul dari bibirku, kan? Mungkin jika kau ada di sana malam itu, tinjumu akan melayang ke wajahnya yang dungu itu.

''Tapi Abimanyu mati dengan tubuh terajam anak panah,'' jawabku dingin.

Dia terdiam, mungkin tak menyangka bahwa kata-kata itulah yang muncul dari bibirku.

''Jadi, Anda memang bisa meramalkan kematian seseorang. Jadi...'' setelah agak lama dia terdiam, ''seperti itukah kematian saya?''

Sungguh, aku berada di puncak mualku. Kepalaku berkunang-kunang, lantaran mendengar bualan terbesar yang pernah kudengar selama hidupku.

''Pak, saya tidak pernah bisa meramalkan kematian seseorang...''

''Bagaimana jika saya merencanakan membunuh seseorang, apakah Anda bisa melihat tanda-tanda kematian orang itu?''

''Pak, maaf, saya lelah. Saya minta izin pulang. Maaf.''

''Bukankah kematian memiliki tanda-tanda, sebagaimana sebuah kelahiran... Hah? hahahahahaaa...Dan dengan mengetahui tanda-tandanya, bukankah kita bisa memindahkan, bahkan menolak kematian itu, hah? Bagaimana? Hahahahahaha...''

***

Bulan Desember, angin mendesau-desau, terkadang membawa hujan bercampur panas. Seringkali pula panas berhujan deras. Di sebuah siaran televisi kusaksikan sebuah perkampungan dengan sekelompok orang, mungkin seratus jiwa, tengah gelisah. Mereka mempersenjatai diri dengan apa saja yang mereka punya. Rumah mereka akan digusur. Menurut berita, mereka sebetulnya penduduk liar yang menempati kawasan milik seseorang. Lahan seluas puluhan hektare milik seorang manusia? Di sisi lain, ratusan atau bahkan ribuan orang yang tak punya segenggam pun tanah? Mengapa ini yang kusaksikan?

Dan demi kusaksikan di televisi, siapa si pemilik lahan, mendadak mualku bangkit lagi. Nyaris aku muntah di ruangan. Gelak tawanya seakan kembali terdengar di antara wawancara yang menggebu-gebu, soal hak dan kewajiban, soal keadilan dan entah apalagi. Segera kuraih remote.

Tetapi, sesaat sebelum remote kutekan dan mencari saluran lain, mataku menangkap sesuatu.

Di kepala mereka, manusia yang tengah gelisah itu, ah... kilatan cahaya berwarna-warni mulai berpendar-pendar. Berkilauan cahaya-cahaya itu mengitari kepala mereka masing-masing, bahkan di atas kepala seorang bayi yang tengah menyusu.

Air mataku tak terbendung lagi. Kusaksikan langit malam yang terang benderang oleh tangga-tangga cahaya, meliuk-liuk lurus menuju langit, indah, agung, mempesona, memukau, menyihirku.

***

Sudahlah, di mataku, saat ini, bumi dan langit dihubungkan oleh tangga-tangga cahaya. Tangga cahaya yang mengantarkan jiwa-jiwa yang tenang kembali kepada sang Maha Pencipta. ***

Pinang, 982

*) Yanusa Nugroho , cerpenis tinggal di Jakarta

Sabtu, 26 Juni 2010

Gunawan Maryanto: Pergi ke Toko Wayang

Korantempo, Minggu, 27 Juni 2010

AKHIRNYA aku mengajakmu ke toko wayang. Itu janjiku sejak tahun lalu. Barulah sekarang aku bisa melunasinya. Betapa sulit menjelaskan kepadamu bahwa wayang kulit itu harganya mahal. Bahwa aku harus mengumpulkan uang berbulan-bulan atau terpaksa menghutang untuk bisa membelinya. Kamu hanya tahu bahwa aku sayang kamu dan aku akan memberikan segalanya untukmu. Kamu benar. Aku akan memberikan seluruh yang kupunya untukmu. Anakku satu-satunya.

Dan sekarang masuklah ke sana. Toko wayang yang sepi itu. Tak ada siapa-siapa di sana. Hanya tumpukan wayang, topeng kayu, wayang golek dan beberapa kelir ukuran kecil. Seperti yang kuduga kamu lantas berlari ke kelir itu. Kamu ingin memilikinya bersama sejumlah wayang yang terpajang di kelir putih ini. Ini mirip punya teman bapak, katamu. Ya, kamu masih ingat sebulan yang lalu aku membawamu ikut latihan wayang bersamaku. Di sana kau memainkan beberapa wayang di depan kelir. Kamu begitu kagum dengan bayang-bayang yang tercipta di sana. Dan meski kamu tak memintanya, aku tahu kamu begitu menginginkannya. Aku menggelengkan kepala. Tidak, Nak, itu mahal sekali.

Kamu menatapku. Lalu kembali menatap kelir itu. Pilih wayang saja. Bapak akan membelikan sepasang buat kamu. Kelirnya nanti kita buat sendiri. Kamu menatapku lagi. Memang bisa? Bisa, jawabku. Kita nanti beli kain dan kayu. Ya, ya, kamu setuju. Kini matamu beralih ke tumpukan wayang-wayang. Biarkan saja, Mas. Biarkan dia milih-milih sendiri. Seorang kakek-kakek muncul. Tampaknya ia pemilik toko itu. Iya, Pak. Lalu kubiarkan saja kamu berlarian ke sana ke mari, membongkar-bongkar tumpukan wayang yang terserak di seluruh ruangan. Diam-diam aku mulai memilih-milih sendiri wayang buat kamu, yang menurut perkiraanku harganya bisa terjangkau oleh uang yang hari ini kupunya. Apa pun yang kamu pilih nanti, akan kuganti dengan wayang pilihanku. Maaf.

Aku pun mulai membongkar-bongkar tumpukan wayang. Mencari yang bergagang kayu. Itu jauh lebih murah dari pada yang bergagang tanduk atau kulit penyu. Kucari yang berukuran kecil, yang tentu saja bukan wayang beneran untuk dimainkan Ki Dalang. Kucari yang pahatannya kasar dan catnya yang tak terlalu rumit. Aku tahu kamu akan memilih wayang-wayang yang bagus. Keindahan selalu menarik siapa saja. Tapi kenyataan sekarang jauh lebih menarik buatku. Benar, akhirnya kau membawa sepasang wayang: Arjuna dan Karna. Sementara aku sudah menyembunyikan Gareng dan Petruk ukuran kecil di salah satu tempat. Pilih ini, ya? Tanyaku pura-pura.

Kamu mengangguk sambil tersenyum lebar. Bagus, sih. Katamu dengan lucu. Iya, bagus. Pinter kamu milihnya. Kataku kemudian. Kamu tahu siapa itu? Kamu menggeleng-gelengkan kepala. Ini Arjuna, itu Karna. Mereka musuhan meski sesungguhnya masih bersaudara. O, ya? Lalu kenapa mereka musuhan? Tanyamu ingin tahu. Nanti bapak ceritakan di rumah. Panjang ceritanya. Sekarang balikin dulu wayang itu ke tempatnya. Bapak sudah milih wayang yang bagus dan pas buat kamu. Kamu dengan agak heran mengembalikan kedua wayang pilihannya itu. Sini. Kamu berlari mengikutiku. Sesampainya di tempat yang kutuju segera kutunjukkan wayang pilihanku. Siapa ini? Gareng dan Petruk! Jawabmu dengan cepat. Bagus, nggak? Bagus, jawabmu. Tapi lebih bagus tadi. Iya. Tapi kamu kan belum tahu ceritanya, jadi kamu belum bisa memainkannya. Kalau Gareng dan Petruk kamu kan sudah tahu. Kamu bisa mainkan mereka sesukamu. Dan wajahnya lucu-lucu.

Kamu diam. Tampak berpikir. Kenapa tidak yang tadi, sih? Kan nanti bapak mau cerita. Jadi aku akan tahu ceritanya. Kamu tetap tak gampang menyerah seperti biasanya. Akhirnya aku buka yang sebenarnya. Yang kamu pilih tadi mahal banget. Uang bapak tidak cukup. Kalau wayang yang ini bapak bisa beli dua. Kalau yang tadi kamu harus milih salah satu. Bagaimana? Terserah kamu. Dapat satu wayang. Atau dua wayang. Kamu berpikir lagi. Matamu melirik ke sana ke mari dengan lucu. Pilih dua wayang biar bisa dimainin. Sip! Sahutku. Ini sekarang kamu pegang. Lalu kamu bawa ke simbah yang duduk di sana. Kamu tanya harganya berapa. Kamu bergerak dengan cepat membawa Gareng dan Petruk di tanganmu. Aku mengikuti di belakang. Kakek-kakek itu tampak senang menerima kedatanganmu. Mbah, mau beli Gareng dan Petruk. Berapa harganya, ya? Tanyamu dengan gagah berani.

Kakek-kakek itu tertawa. Pinter kamu. Lalu ia memeriksa kedua wayang yang kamu sodorkan. Lalu matanya menuju ke arahku yang perlahan mendekat. Petruk. Gagangnya dari tanduk, Mas. Waduh, dari tanduk ya, Pak. Kataku spontan. Sebentar saya cari gantinya. Petruk yang bergagang kayu. Lalu dengan cepat aku memeriksa tumpukan-tumpukan wayang kembali. Kulihat kamu tengah bercakap-cakap dengan kakek-kakek itu. Tapi tak ada. Petruk bergagang kayu tak kutemukan. Mungkin aku tak teliti. Mungkin pula tak ada. Tapi aku terus berusaha mencari. Kalau tidak ada tidak apa-apa, Mas. Kata kakek-kakek itu dari kejauhan. Ya, memang tak ada, kataku kemudian dalam hati. Jadi berapa, Pak? Berapa, ya.

Kini gantian kakek-kakek itu yang bingung. Bisanya aku jual sangat mahal, Mas. Tapi untuk anak ini aku tidak akan memberi harga yang biasanya. Ia suka sekali dengan wayang. Terima kasih, Pak. Kataku. Kamu tersenyum-senyum. Muraaah, bisikmu keras-keras ke telingaku. Kakek-kakek itu tertawa mendengarnya. Besok kalau sudah agak besar bawa saja ke sini, Mas. Aku mau mengajarinya membuat wayang. Mau tidak? Tanya kakek itu kepadamu. Enggak, jawabmu. Buatnya kan tinggal ngeblat saja. Jawabmu. Kakek-kakek itu tertawa. Iya, diblat. Tapi tetap nanti kamu harus menatahnya dan memberi warna supaya benar-benar jadi wayang. Kamu manggut-manggut.

Setelah aku membayar sejumlah uang yang disebutkan kakek-kakek itu kita pun pulang. Kita langsung ke rumah bapak ya? Nanti kita main wayang. Iya, nanti kita langsung mainkan kedua wayang itu. Di atas motor kamu menagih kelir yang kujanjikan. Mungkin kamu baru saja ingat. Hari ini kita tidak pakai kelir. Sudah malam. Toko yang jual kain dan kayu sudah tutup. Kita nanti main di dinding saja. Lampunya pakai lampu senter dulu tidak apa-apa. Kamu mengangguk setuju. Motor kita terus melaju. Melintasi sore dan candik ayu.

Jogja, 2010

Gunawan Maryanto tinggal di Yogyakarta. Kumpulan cerita pendeknya adalah Bon Suwung (Insist Press, 2005) dan Galigi (Koekoesan, 2007).

Sabtu, 19 Juni 2010

Cerpen Cicilia ODAY

Solilokui Bunga Kemboja

Kompas, Minggu, 20 Juni 2010 | 03:56 WIB


Diriku sekuntum bunga Kemboja. Kelopak-kelopakku merah kesumba sewarna gincu wanita yang kerap memandikanku sekali seminggu.

Wujud rupaku menyerupai genta. Walaupun kami lebih identik sebagai bunga kuburan, tetapi oleh wanita yang memeliharaku, aku tumbuh di dalam sebuah pot cantik di teras depan rumahnya. Dari tempatku berada, aku biasa menatap bentangan langit malam yang berhamburan bebintangan.

Benda-benda angkasa yang terang benderang itu selalu mengingatkanku pada seseorang. Seseorang yang benarlah nyata, tetapi lebih tampak seperti fatamorgana. Aku selalu memandanginya tatkala ia sedang memandikan mobil kesayangannya dari dalam garasi.

Lelaki itu adalah anak sulung wanita yang warna gincunya sewarna diriku. Sempat kedengkian menghinggapiku melihat betapa kedekatan kedua manusia berbeda kodrat itu, sampai kudengar si lelaki menyapa wanita bergincu kesumba itu dengan panggilan ibu.

Dari wajah dan rekah senyumnya tahulah aku betapa kebaikan hatinya seperti kebanyakan manusia penghuni rumah ini. Dari caranya memperlakukan mobil kesayangannya, tahulah aku betapa ia tak pernah pilih kasih terhadap benda mati ataupun benda hidup.

Sampai detik ini aku masih memendam rasa cemburu terhadap benda mati bernama mobil itu. Setiap hari kulihat lelaki itu menumpanginya manakala hendak menuju suatu tempat yang tak pernah kuketahui juntrungannya.

Tiap kali ia kembali hari telah merangkak malam. Raut wajah dan bahasa tubuhnya memberitahuku bahwa ia kelelahan. Tetapi keesokan pagi ia akan mengulangi kebiasaan yang sama, sampai lantas kuhafal luar kepala pola kegiatannya meskipun sebatas teras dan garasi itu saja.

Sesekali kulihat ia pulang dengan mengajak beberapa orang lelaki seusia dirinya. Tak jarang terdapat satu atau dua orang perempuan di antara mereka. Percakapan yang diiringi tawa berlangsung tatkala mereka melintasi teras depan sebelum mencapai ruang tamu.

Betapa beruntung menjadi manusia lelaki dan perempuan yang dekat dengan lelaki itu, walaupun bagiku tetap tiada yang lebih beruntung daripada mobil yang selalu ia tumpangi. Tak jarang mereka berkumpul di kursi teras sembari bercakap ditemani penganan dan secangkir teh.

”Coba lihat. Kembang Kemboja itu seperti sedang menatap kita.” kata perempuan yang telunjuknya menunding ke arahku. Lantas seorang lelaki bertubuh ceking berjalan melintasi teras sambil menggenggam spidol di satu tangannya.

”Kamu mau apa?” tanya si lelaki, menyela langkah temannya.

”Aku mau bikin mata pada kedua kelopak Kemboja itu supaya kelihatan kalau dia benar-benar menatap kita.”

"Hey, itu Kemboja kesayangan Ibuku.”



Itulah hari pertama ia membelaku di depan teman-temannya. Kelopak-kelopakku mekar dan warnaku kian merona. Tetapi selain hari itu, lelaki itu tak pernah memperhatikan diriku secara khusus. Keindahanku hanya berlaku di depan mata para wanita sebab mereka lebih dapat menghargai keindahan. Bagi lelaki itu dan teman-temannya, aku tiada berbeda dari pot tempat tubuhku bertumbuh. Rasa kecewa yang hinggap dalam diriku semakin besar tiap kali lelaki itu lewat tanpa pernah sempatkan melirikku barang sekejap.

Betapa keindahan ini seperti tak berarti tanpa dihargai oleh lelaki yang kucintai. Atas kesadaran itu, suatu hari aku berhenti membuat diriku mekar, tak peduli berapa kali dalam seminggu wanita bergincu itu memandikanku dan memberiku pupuk untuk meningkatkan kualitas tanah di dalam potku, usahanya tetap tak bisa membantu. Aku telah kehilangan minat terhadap kehidupan.

Masa itu berlangsung berminggu-minggu lamanya. Rona pada kelopak-kelopak bungaku pudar. Wanita itu kini tak bergincu lagi. Wajahnya tampak selisut diriku yang tak mau mekar barang serecup saja. Seluruh bunga Kemboja di teras rumahnya turut merasakan dukaku. Mereka lantas putuskan tak mau mekar selama dukaku belum teratasi. Raut wajah sebam dan sepasang mata tanpa binar cahaya menatap iba kepada kami.



Belakangan lelaki itu pun tampak bermuram durja. Tiap kali melintasi teras menuju garasi ia tak lagi memutar-mutar seronce anak kunci di ujung telunjuknya sambil bersiulan. Jangan-jangan sesuatu terjadi pada mobil kesayangannya. Tetapi kepada seorang teman kudengar ia memberi tahu bahwa kesedihannya disebabkan oleh sikap murung ibunya.

Wanita yang telah malang melintang di dunia botani itu mendandak merasa dirinya tak becus mengurusi tetumbuhan di teras depan rumahnya sehingga nyaris seluruh Kemboja kesayangannya mati. Daun-daun meluruh nyaris tanpa bersisa, kelopak-kelopak bunga mengatup seperti gadis-gadis remaja yang merajuk.

Sumber terdalam kesedihan lelaki itu adalah keputusan sang ibu untuk menyerah dari hobinya bercocok tanam, hal mana yang menjadi satu-satunya hiburan di masa menjelang pensiun. Melihat kenyataan itu, yakinlah aku bahwa si lelaki lebih menyayangi sang ibu daripada benda mati yang ia mandikan setiap pagi, walaupun tampak ia lebih besar menaruh perhatian padanya. Tetapi ia tetaplah lebih mencintai perempuan yang mencintai diriku dan bunga-bunga Kemboja yang lain, bagaikan kami ini anak-anaknya sendiri.



Pagi hari adalah waktu terbaik bagi setiap bunga. Titik-titik embun menyaput sekujur kelopak yang baru separuh merecup. Kami lebur bersama gigil pagi. Tetapi pagi itu aku merekah mendahului yang lainnya. Kelopak-kelopakku bahkan mekar lebih lebar daripada biasanya. Dengan tak sabaran aku menantikan pintu depan di ujung teras itu dibuka untuk pertama kali.

Pada setiap pagi yang telah kulalui di teras rumah ini, wanita berginculah yang selalu membuka pintu depan untuk pertama kali bersama alat penyiram tanaman di tangannya, dengan bekal semangat berniat memberi kami makan. Minggu-minggu terakhir betapa pemandangan itu tak pernah tampak lagi, tetapi kujamin pagi ini keputusanku menjadi mekar kembali dapat mengembalikan semangat yang sempat redup wanita bergincu itu.

Matahari sudah setengah perjalanan melakukan patrol. Sinarnya menyapuh tiap lembar daun dan kelopak bunga kami. Siang hari menjelang. Aku gelisah menunggu pintu itu dibuka oleh si wanita bergincu. Akhirnya daun pintu terbuka, tetapi yang tampak olehku pertama kali adalah dia, lelaki itu! Kaus oblong yang membalut tubuhnya nyaris sewarna kelopak-kelopak bungaku. Ia berjalan gontai. Aku terus mengawasi wajah tampan lelaki itu. Sesuatu dalam diriku berdebar keras, sehingga menyebabkan kelopak-kelopakku bergoyang.

Tak kuduga gerakanku memancing lelaki itu menoleh. Matanya melebar pada detik pertama ia menatapku. Kutunggu lelaki itu menghampiriku, tetapi tubuh itu berbalik menuju pintu, berlari sepanjang ruangan. Kurang dari satu menit kemudian, lelaki itu muncul lagi bersama wanita bergincu yang masih belum lagi bergincu. Mata wanita itu melebar sambil mulutnya menganga. Perlahan ia melangkah menghampiri pot-pot berisi Kemboja sepanjang tepian teras, menyapuhkan tangannya di atas kelopak-kelopak kami secara bergantian.



”Bunga-bunga itu tak ingin berlama-lama melihat kesedihan ibu.” Lelaki itu berkata. Sebutir air susul menetes jatuh dari sudut mata wanita itu. Keterkejutan di wajahnya berubah haru atau apa pun itu yang sukar kujelaskan. Pelan bahunya lantas bergetar sebelum isak tangis menguasainya. Lelaki itu mendekap tubuh ibunya, merapatkan kepala pada bidang dadanya.

”Mungkin ini karena pupuk yang ibu beri waktu itu.” kata wanita itu.

”Mungkin karena ibu tak pernah berhenti mencintai mereka,” lelaki itu lebih yakin dengan pendapatnya. Mungkin baginya, kebahagiaan sang ibu membawa dua kali lipat kebahagiaan bagi dirinya, tetapi bagiku, betapa kebahagiaannya membawa berlipat-lipat kebahagiaan bagi diriku.



Aku mulai dapat memaknai diriku lebih dari sewujud bentuk yang menyerupai genta dan merah kesumba kelopak-kelopakku. Keindahan barulah bermakna ketika ia dapat bermanfaat bagi makhluk lain tak terkecuali manusia, terutama bagi wanita bergincu yang betapa kesedihannya adalah beban bagi anak laki-laki sulungnya.

Wanita bergincu itu kembali memoles bibirnya dengan gincu merah kesumba sewarna kelopak-kelopakku. Duka si lelaki kini lesap bersama duka sang ibu. Mulailah pola kegiatannya berjalan seperti biasa dengan semangat yang tak biasa.



Malam hari mobil kesayangannya memasuki garasi. Sesuatu dalam diriku berdebar keras menunggu sosok lelaki itu terlihat. Pintu kemudi terbuka, menyusul dirinya berjalan keluar mengitar mobil. Di luar kebiasaan ia membuka pintu di samping jok penumpang. Tampaklah seorang wanita berambut panjang ikal mayang, berdiri di sampingnya.

Kulihat wajah si lelaki sumringah tatkala menuntun perempuan itu berjalan melintasi teras. Tangan keduanya saling menggenggam. Di tengah teras mereka berhenti. Perempuan itu menunduk sambil menggigit bibir. Tangannya meremas tangan lelaki yang menggenggamnya. Kudengar ia mengeluh cemas.



”Tidak apa-apa, tidak apa-apa,” Lelaki itu berusaha menenangkan. Sehembus angin menyebabkan desir dedaunan yang saling menggesek. Dua helai daunku melayang jatuh, disambut lembab tanah. Tetes-tetes getah berjatuhan dari ujung lengan tempat pangkal daunku barusan jatuh. Sebelum malam ini angin sekencang apa pun tak dapat menyebabkan daun-daunku luruh. Melihat keadaannya sekarang, aku ragu bahwa anginlah benar penyebabnya. Siapakah yang patut kusalahkan di antara si lelaki dan perempuan berambut panjang ikal mayang? Barangkali takdirku sendiri karena tercipta hanya sebagai sekuntum bunga Kemboja.



Lelaki itu berjalan menujuku. Perempuan berambut panjang ikal mayang itu tetap terpaku di tengah teras, memperhatikan gelagat si lelaki. Tangan lelaki itu terangkat menuju sepal tempat melekatnya kelopak-kelopakku. Detik pertama ia menyentuhku, ia membawa serta seluruh kesadaranku dari lengan cabang tempat aku tertancap seorang diri. Betapapun, aku hanyalah sekuntum bunga Kemboja. Hidupku berakhir di ujung jemari lelaki yang kuncintai, yang dengan wajah direkah senyuman membawaku kepada perempuan berambut panjang ikal mayang yang tengah cemas menantinya di tengah teras.

Diselipkannya diriku di ujung pangkal telinga sang kekasih. Dari sana aku dapat menatap wajahnya lebih jelas dari yang sudah-sudah. Ia tersenyum menatap diriku di ujung pangkal telinga kekasihnya, bening matanya memantulkan seraut wajah perempuan yang balas tersenyum.



Aku sekarat. Perempuan itu luput merasakan getahku yang bertetesan di antara helai-helai rambutnya.

”Kamu tidak apa-apa sekarang?” lelaki itu bertanya.

Perempuan itu mengangguk pelan. Mereka lantas berjalan menuju pintu masih dengan kedua tangan saling menggenggam. Di ambang pintu lelaki itu memindahkan diriku dari celah di antara kuping kekasihnya ke dalam kantong depan kemejanya. Dari sana, aku dapat mendengar detak jantungnya yang bagaikan menghitung detik-detik kematianku.



”Jangan sampai dilihat ibu bunga Kembojanya dipetik,” samar-samar suaranya terdengar. Getahku berhenti menetes. Walaupun aku masih memendam perasaanku terhadap dirinya, kini yang terpenting adalah memberikan kepada orang yang kucintai sesuatu hal yang dapat mendatangkan kebahagiaan bagi dirinya. Seandainya aku tercipta sebagai seorang manusia tentulah aku dapat belajar lebih banyak tentang cinta daripada yang dapat terpahami oleh sekuntum bunga Kemboja.

Januari, 2010

Cerpen Clara Ng

Risalah Lidah


IA menemukan kota kecil di dalam mulutnya. Sebulan lalu, waktu Ibu selesai mengepang rambutnya panjang di kiri dan kanan, Asna mendengar suara tangisan bayi. Suara itu berasal dari dalam tubuhnya--betapa anehnya ungkapan itu, tapi rasanya benar. Setelah kebingungan beberapa saat, akhirnya Asna membuka mulut di depan cermin, memandang kegelapan di tenggorokannya sambil menunggu kesunyian lewat. Telah hilang semenit, suara tangis itu terdengar lagi.

Cepat-cepat Asna menjulurkan lidah. Pancaran matanya berkilat tak percaya ketika memandangi lidahnya. Ada sesuatu di sana. Air mukanya yang tadi merona merah jambu langsung luntur menjadi pias. Apa yang terjadi? Ia sedang berdiri di depan cermin sambil memandangi lidahnya yang padat dengan jalan raya, rumah, gedung, dan pagar. Ada kota mungil tumbuh di atas lidahnya.

Asna terguncang hebat, mundur selangkah. Lidahnya masuk kembali ke dalam mulut dengan kilat seakan tertelan. Seluruh pori-pori kulitnya gemetar. Apa itu tadi? Sebuah kota? Atau apa? Gadis delapan tahun itu tak bisa memikirkan apa yang barusan melintas di depan matanya. Otaknya membeku. Dengan gamang, ia mengalihkan pandangannya kembali ke arah cermin. Jam berdetik, tak bisa mengukur ketegangan yang ia rasakan.

Sekarang Asna baru tahu, ternyata lidah punya kejutan berbuncah. Pelan-pelan ia membuka mulut lagi, menjulurkan lidah sejauh-jauhnya. Sungguh, ia tidak salah lihat. Menakjubkan. Terpukaulah ia. Lihat, ada peradaban di lidahnya! Ada anak-anak kecil bersepeda di taman ditemani ibu-ibu muda mendorong kereta bayi. Pohon-pohon hijau melambai indah, berderet-deret di sepanjang jalan. Mobil-mobil berlalu lalang dengan santai, tidak ada kesibukan yang dikejar-kejar. Ada gedung-gedung jangkung seperti gedung-gedung di New York. Ada hotel-hotel mungil dengan jendela berbingkai seperti di Paris. Air mancur di kolam-kolam bening seperti di Madinah. Asna takjub tak alang kepalang. Ia seperti menemukan pintu ajaib menuju negeri dongeng.

Ini hal baru. Tentu saja Asna akrab dengan lidahnya, sama seperti manusia-manusia normal yang akrab dengan anggota tubuhnya yang lain. Ia tidak terlalu sering memperhatikan apa yang terjadi dengan lidahnya, tapi ia tahu lidahnya selalu ada di sana untuknya. Lidah selalu melakukan tugas dan pekerjaannya dengan baik, Asna tidak perlu protes dengan lidah. Hanya sekali-kali ketika sariawan menyerang, Asna membenci masa-masa itu, tapi tidak pernah membenci lidah.

Penemuan kota lidah berusaha Asna ceritakan pada ibu, tapi ibu tidak mau mendengar. Katanya Asna mengada-ada. Ia ceritakan pada ayah, tapi ayah hanya tertawa lalu sibuk menekuni ponselnya. Ia mau ceritakan pada guru mengaji, tapi kayaknya percuma karena bisa-bisa ia dipukul pakai penggaris. Akhirnya Asna tidak mau bercerita pada siapa-siapa.

KOTA itu terus tumbuh dan Asna menjadi saksi pertumbuhan kota itu. Bayi yang dilihatnya kemarin merangkak, esoknya sudah belajar jalan. Anak yang bermain bola ternyata minggu depannya sudah merokok. Lelaki berkumis yang rajin mengajar di sekolah ternyata dua minggu kemudian meninggal dunia. Waktu berdetik lebih cepat di sana.

Asna betah kembali ke lidahnya. Bagai magnet, ia tak bisa mengelak dari rasa ketertarikan pada kota damai yang pelan-pelan berubah menjadi bising. Hiruk-pikuknya menjadi tanda-tanda tragedi yang mengerikan. Mobil-mobil di jalan raya sering mengeluh dan melenguh keras. Anjing menggonggong mengancam, bercampur baur dengan bunyi-bunyi ganjil lainnya. Para penghuni kota berusaha menjinakkan teror yang tumbuh semakin besar.

Suatu hari, di tengah malam Asna terbangun oleh pekik kemarahan yang menggema di kepalanya. Ia turun dari ranjang dan berjinjit di depan cermin. Di sana tampak lampu-lampu jalan yang meredup, menjadi saksi keributan manusia yang terusir dari pinggir jalanan dan kolong jembatan. Wajah-wajah bengis dan paras-paras putus asa saling memandang satu sama Mereka dorong-mendorong dan caci-mencaci. Tangisan anak-anak dan jeritan kutukan sahut menyahut. Adegan demi adegan terus beralih, tiba-tiba terdengar suara tembakan. DOR!

Asna terpaku kaget, lidahnya nyaris tertelan. Cepat ia berbalik, terbirit-birit menuju kamar ibu. Ia menyusup di tengah-tengah orangtuanya, tak bisa lelap tidur sepanjang malam. Matanya berkaca-kaca. Ia mengompol pada dini hari.

Esoknya ibu marah sekali pada Asna. "Bagaimana mungkin anak kelas tiga SD masih kencing di kasur?" bentak ibu murka. Asna membela diri, ia tidak sadar kemarin malam. Ibu tidak menyimak perkataannya. Ibu terus membentak-bentak Asna, merepet-repet sambil mengganti seprai. Mbak Iyo sudah seminggu pulang kampung dan belum balik. Sepertinya Mbak Iyo mencuri kesabaran Ibu dan membawanya ke kampung untuk dibagi-bagikan kepada ibu muda di sana. Sungguh beruntung ibu-ibu muda di kampung Mbak Iyo.

Asna kagum dengan tsunami kata-kata ibu. Ia ingin tahu bagaimana seorang perempuan bisa berbicara secepat itu? Asna mendelik memperhatikan lidah ibu, seperti apa lidahnya. Lidahnya datar. Ya, ya, seperti apa kota yang tumbuh di lidah datar itu? Asna meminta ibu menjulurkan lidah. Oh, mengamuklah ibu! Ia tambah marah, mengira anak perempuannya menyepelekannya habis-habisan. Marahnya sambung menyambung, bergantian; seperti naga ia menyembur-nyemburkan api. Namun bukan ibu namanya kalau ia tidak mahapengampun. Setelah marah-marah tak berkesudahan, marah ibu disudahi juga. Ia menjulurkan lidah buat Asna.

Ada yang salah. Ternyata tidak ada kota apa-apa di lidah ibu. Asna malah terpaku memandang gurun pasir. Gurun pasir berwarna kuning keemasan tercadar oleh debu. Kaktus-kaktus berdiri kaku dalam keheningan, masing-masing sendirian dalam hamburan angin yang mengaum keras. Cahaya hanya redup di sana, kalah oleh kematiannya. Tidak ada keriangan, semuanya beku dan panas seperti api kebencian. Ibu bertanya apa Asna puas? Asna terlalu kaget untuk menjawab apa-apa. Ibu menarik lidahnya lagi, menelan gurun pasir ke dalam mulutnya.

Sejak hari itu, Asna mulai senang membujuk orang-orang untuk menunjukkan lidahnya. Asna menemukan permainan baru, menyadari bahwa lidah-lidah yang dimiliki manusia tidak ada yang sama. Ayahnya memiliki pasar yang teramat besar tumbuh di atas lidahnya. Di sana ada pedagang-pedagang yang suka saling tipu-menipu satu sama lain. Jalan-jalan besar lebar yang penuh dengan teriakan penjual merayu kebohongan. Keramaian tak tertanggungkan di bawah terpal-terpal yang gagah melindungi meja kayu dan daging ayam, kambing dari sengatan panas. Kekotoran dan kesemrawutan yang membusuk.

Lidah pamannya lebih lucu lagi. Tidak ada kota atau pasar atau gurun pasir di sana. Yang ada hanya lapangan luas dengan satu monumen agung di tengahnya. Setiap hari lapangan itu penuh sesak dengan orang-orang yang berlomba-lomba mengangkat spanduk dan kepalan tangan. Mereka berprotes dan berdemonstrasi, berpekik tentang demokrasi, revolusi, kekuasaan, kemerdekaan, kejayaan, kemenangan. Berulang-ulang kata yang sama dipanggil, pagi siang sore malam; tidak ada hal yang baru lagi. Manusia-manusi adalah poros alam semesta di dalam lidah paman, bukan yang lain.

Siapa yang percaya pada apa yang dilihat Asna? Mereka ikut-ikutan melihat di cermin, tapi yang ada di mata mereka hanya lidah biasa berwarna merah dengan bintil-bintil kecil seperti jerawat. Tidak kelihatan apa-apa. Lagian siapa yang mau memercayai anak kecil? Yang tidak tampak tapi dikatakan tampak bukan cerita istimewa yang layak didengarkan. Asna dituduh memiliki daya khayal dan tingkat lelucon yang terlalu kekanak-kanakan.

Tidak ada lagi yang mau percaya pada perkataan Asna, sebab itu Asna bosan memberitahu. Ia memutuskan hanya mengamati lidahnya saja, menonton dalam kegairahan yang tak berjumlah ketika kota di lidahnya tumbuh semakin serampangan.

ASNA tumbuh semakin besar, demikian juga dengan kota di lidahnya. Waktu ia berumur sepuluh tahun, kota itu semakin sesak. Jalan layang bertumpuk-tumpuk, sampah berkembang biak, mal-mal dengan etalase yang genit membakar setiap inci kota. Deru angin menggulung-gulung, menebarkan kengerian dan kebekuan di sepanjang trotoar. Waktu ia berumur lima belas, pohon-pohon gundul di sepanjang taman-taman. Penjara penuh dengan orang yang saling membunuh, tapi lama-lama satu per satu orang mati karena terbunuh. Gedung bioskop kosong melompong. Sepanjang gang, kekejaman meluap dari gorong-gorong tempat tikus-tikus raksasa hidup.

Sejak remaja, Asna tidak lagi meminta orang menunjukkan lidahnya pada Asna. Ia mual melihat lidah-lidah di dunia. Bertahun-tahun Asna mencari lidah yang menumbuhkan taman Firdaus di atasnya, tapi ia tidak pernah menemukan. Ia melihat ratusan kota pengap, gurun pasir mengerikan, ladang ilalang yang kesepian, berhektar-hektar payau, kebun yang hangus, sampai kubangan tinja. Ia tidak sanggup melihat lagi.

Dalam kesendiriannya, Asna menonton kehancuran kota lidahnya yang merayap dengan cepat pada usia tujuh belas tahun. Tidak ada yang bisa ia lakukan untuk menolongnya, seakan-akan kotanya memiliki takdirnya sendiri. Mustahil menyelamatkan, bahkan ia sendiri tidak tahu harus bertanya kepada siapa. Kotanya mati setahun setelahnya. Tembok cat mengelupas, menelanjangi dinding-dinding yang runtuh perlahan-lahan. Jendela kosong memandangi gema. Pintu retak-retak, membisu sepanjang malam. Pabrik berhenti menggerutu dengan asapnya. Tidak ada manusia yang hidup di kota itu lagi.

Hati Asna hampa melihat kota lidahnya lenyap. Ia ingat bayi-bayi lucu yang tumbuh besar, bekerja, lalu mati. Ia juga ingat rumah-rumah kecil yang berkembang menjadi semakin tinggi dan luas, dengan keluarga-keluarga yang membengkak. Ia ingat bunga-bunga yang mengembang bersama embun. Tapi kenangan adalah seperti kertas yang tersiram air, melumatkan kata-kata yang tertera di atasnya, dan lama-lama menghancurkan kertas itu sendiri. Di usia dua puluh tahun, Asna lupa akan lidahnya. Boro-boro ingat kota, ia bahkan tidak ingat memiliki lidah. Berbaring dengan ringan setiap malam tanpa terganggu suara-suara berisik yang dulu berasal dari lidahnya.

Suatu hari keponakannya yang mungil memasuki kamar Asna, menatap tantenya dengan pancaran mata misterius, pekat oleh kabut rahasia. Asna bangun dari ranjang, menyambut Ratri. Biasanya keponakannya pasti hendak mengajaknya bermain atau mengobrol tentang pelajaran menggambar. Tapi kali ini Ratri tidak mengajaknya bermain, ia malah meminta Asna membuka mulut dan menjulurkan lidah. Masih tersenyum Asna mengangguk, mengabulkan permintaan Ratri. Ia menjulurkan lidahnya.

Ratri bilang lidah Asna menakjubkan. Ada kuburan besar di dalamnya. Ada deretan nisan putih pualam yang seakan-akan mengeja sendiri kata-kata yang tertulis di sana. Daun-daun merontokkan dirinya di atas pekuburan, meliuk-liuk dan berbisik-bisik menjadi gerimis. Semuanya mendesing seperti peluru dalam kesunyian.

Asna memandang Ratri dengan tatapan heran. "Kuburan di lidah?" tanyanya.

Ratri bilang, "Coba lihat di cermin, Tante."

Asna pergi ke cermin dan menjulurkan lidahnya sekali lagi.

"Sayang, tidak ada kuburan di sini."

Keponakannya tetap ngotot.

"Tapi Tante tidak melihat apa-apa."

Ratri memberikan tatap kecewa kepada Asna. Asna balas memandang Ratri dengan senyum lebar. Ratri melengos. Gadis kecil itu tidak mengatakan apa-apa lagi, mungkin menyerah meyakinkan Asna atau tidak punya ketekunan memberitahu. Ia melompat-lompat keluar seperti kelinci, terus berjalan menuju ke kebun belakang.

Sekeluarnya Ratri dari kamar, Asna berbaring di ranjang dengan senyum yang masih dikulum. Anak-anak, pikirnya sambil mendengus, tidak pernah berbicara benar. Mereka selalu berkhayal yang aneh-aneh. Mereka... ah. Mendadak sesuatu menyisiri pikirannya, ada yang berdenting di sana. Asna mengingat kupu-kupu, mengingat rumah, mengingat kota, mengingat lidah, sepertinya terjadi beberapa dekade lalu. Terasa samar-samar, tapi ada. Seberapa kuatnya ia berusaha mengingat, Asna tidak pernah bisa kembali ke jejak masa lalu.

Asna segera melupakan perkataan Ratri tentang kuburan, dan juga tentang imaji hujan daun di musim gugur. Sudah terlalu siang, ia tidak mau berpikir terlalu berat. Ia hanya ingin menikmati tidur yang tak terganggu sampai matahari turun. Hari ini adalah hari cutinya, enaknya dinikmati di rumah seharian. Biarkan saja atasan dan rekan kerjanya menjadi besi karatan, tenggelam di lautan hiruk pikuk kesibukan kantor. Asna mematikan Blackberry-nya. Matanya terpejam pelan-pelan, kegelapan menghunuskan pedangnya. Sayup-sayup terdengar gelak tawa Ratri dari arah kebun dan teriakan pembantu bersahutan di antaranya. Asna tertidur, lidahnya berdecak-decak dalam mimpi.
Clara Ng tinggal di Jakarta. Telah menerbitkan 11 novel, antara lain Jampi-jampi Varaiya (Gramedia Pustaka Utama, 2009); dan sebuah kumpulan cerita pendek, Malaikat Jatuh dan Cerita-Cerita Lainnya (Gramedia Pustaka Utama, 2008).

Sabtu, 08 Mei 2010

CERPEN Mata Sayu Itu Bercerita

CERPEN
Mata Sayu Itu Bercerita

kompas, Minggu, 9 Mei 2010 | 04:14 WIB

Oleh Guntur Alam

Mata sayu itu banyak bercerita. Walau kami sekali pun belum pernah bertegur sapa, apalagi berbincang-bincang bak kawan lama.

Ia selalu duduk di sana, di meja paling pojok. Sering kali ia menyandarkan kepalanya di dinding kaca, membiarkan rambut panjangnya yang terurai menyentuh dinding itu, seakan mewakili dirinya untuk selalu mengawasi jalan di luar sana. Seperti itu. Selalu seperti itu.

Awalnya, kupikir ia seorang karyawati baru di salah satu kantor yang ada di seberang jalan. Ya, tentulah aku menduga serupa itu. Sebab baru kali itu kulihat ia di café ini. Telah berapa lamakah aku menghabiskan hari-hariku di sini? Tiga tahun, empat tahun, atau mungkin telah lima tahun? Aku sendiri hampir lupa, berapa lama aku mendedikasikan hidupku untuk sesuatu yang disebut pekerjaan dan pastinya, baru kali itu aku melihatnya di sini, di café langgananku.

Ia selalu duduk di bangku yang sama, menu yang sama: secangkir kopi dan sepotong kue—yang nyaris selalu tak ia sentuh. Mata sayunya selalu fokus menatap jalanan di luar sana, seolah-olah tengah menghitung berapa mobil yang lewat. Ah, tidak. Tentu dia menunggu seseorang.

Ya, mungkin saja ia tengah menunggu seseorang. Kekasihnyakah? Suami. Teman. Rekan bisnis. Ah, aku lebih yakin ia tengah menunggu kekasihnya. Mungkin mereka telah membuat janji untuk bertemu di café ini. Sayangnya, duga itu harus kubuang jauh-jauh. Berapa lama seseorang mau menunggu kekasihnya menempati janji kencan mereka? Satu hari, satu minggu, satu bulan, atau seperti perempuan itu yang telah tiga bulan setia menunggu di sini. Saban petang saat jam berada di angka empat sampai enam. Ah, tentu ia seorang kekasih yang demikian setia.

Namun, lama-lama aku menjadi iba dengan dirinya. Ah, tidak. Mungkin pula tertarik atas perilakunya. Oh, tidak-tidak. Aku, aku suka dengan matanya. Sepasang mata sayu yang setia mengawasi jalan di luar sana, mata sayu yang tiba-tiba begitu banyak melontarkan cerita. Mata sayu itu begitu mencuri perhatianku.

Mulanya, aku tak bisa memahami cerita dari mata sayu itu. Lalu, mataku menafsirkannya dengan begitu baik. Dan aku terhanyut, tersentuh hingga selalu rindu untuk mendengar cerita dari mata sayu itu.

Cerita pertama yang aku dengar dari mata sayu itu adalah tentang alasan mengapa perempuan itu duduk di sini, menatap jalanan, dan memilih jam di antara pukul empat sampai enam petang.

Rupanya, dugaku sedikit benar. Ia memang menunggu seseorang. Sayangnya, ketika kutanya mata itu: siapakah yang ia tunggu? Mata itu bungkam dan tak ingin bercerita. Mungkin, terlalu sukar baginya untuk menyebutkan nama seseorang yang ia tunggu itu.

Ketika aku tak memaksa untuk menyebutkan orang yang ia tunggu itu, mata sayu itu kembali mau bercerita. Katanya, ia selalu datang ke sini untuk menjumpai seseorang, seseorang yang telah mencuri perhatiannya. Seseorang yang telah menorehkan sesuatu yang begitu dalam di hatinya. Ah, tentu itu cinta, tebakku. Mata sayu itu terdiam, cukup lama dia diam, mungkin ia mengingat atau merenungkan ucapan yang baru saja aku lontarkan: apa mungkin memang cinta yang tertoreh di sana?

Bisa jadi. Bisa jadi memang cinta yang tertoreh di hati, ujar mata sayu itu. Aku tersenyum kecil mendengar itu. Ya, siapa yang sudi menunggu berhari-hari untuk seseorang yang tak begitu penting? Tentulah hanya karena cinta yang dapat menyebabkan seorang perempuan seperti pemilik mata sayu itu, rela menghabiskan tiap petangnya hanya untuk menunggu seseorang yang tak pasti kapan datangnya. Cinta. Hanya alasan itu sajalah yang bisa membuat orang berbuat serupa itu.

Tentu seseorang itu lelaki yang tampan. Oh, apakah ia laki-laki? Ah, mata sayu itu tiba-tiba merona, seperti ada binar-binar yang meletup dan begitu bergairah di dalam retinanya saat aku menebak seseorang itu lelaki yang tampan. Baru kali itu, ya baru kali itu, aku melihat mata sayu itu berbinar: cantik dan terasa sangat hidup, menyulut suatu gairah yang bersemayam dalam dadaku. Pipinya ikut-ikutan merona, mata itu mengangguk kecil. Ah, ia mengiyakan tebakanku. Aku tepat menebak seseorang yang ia tunggu itu: seorang laki-laki tampan yang telah mencuri hatinya. Oh, ini kisah cinta yang romantis.

Tapi, bukan ketampanan lelaki itu yang membuat mata sayu itu tertarik kepadanya. Aku jadi terdiam ketika mata sayu itu mengungkapkan hal itu. Lantas, apa penyebabnya? Apa wangi tubuh seseorang itu? Ya, ya, bisa juga. Bukankah perempuan suka dengan bau laki-laki? Bau yang menggelitik hidung dan menggelinjangkan jantungnya. Oh, rupanya bukan pula, mata sayu itu menggeleng. Kalau bukan wangi tubuhnya lantas apa? Aha, biar kutebak lagi, tentu postur tubuh seseorang itu. Apakah ia lelaki berbadan atletis? Dada bidang yang begitu kekar, banyak bulu di sekujur tubuhnya, rahang kuat yang menonjol. Oh, perempuan memang akan tergila-gila dengan lelaki serupa itu, berbadan bagus, wajah tampan, apalagi? Tentu ia lelaki yang sempurna.

Bukan pula! Lalu, apa penyebabnya? Mata sayu itu tersenyum malu-malu, ah manis sekali ketika ia tersipu seperti itu. Seperti gadis ABG yang kali pertama jatuh cinta dan seorang pemuda impiannya mengirimi sepucuk surat.

Oh, kau suka matanya. Ya, aku tahu. Mata memang sesuatu yang indah. Apakah mata lelaki itu indah? Mata sayu itu mengangguk, ia melukiskan betapa indah mata seseorang yang ia tunggu itu. Matanya coklat dengan bagian putih yang teramat bersih. Mata yang begitu mempesona, mata yang sangat pandai mengisahkan segala harapan yang ada, mata yang selalu membuatnya tak sabar menunggu hari esok untuk berjumpa, mata yang menyemangatinya untuk datang lebih awal, mata yang selalu mengajarinya untuk tak lelah, mata yang kerap melambungkan imajinasinya. Mata itu, mata sayu milik lelaki yang ia tunggu. Ah, mata sayu itu kembali berbinar ketika ia menyebut keindahan mata seseorang yang ia tunggu itu. Aku jadi membayangkan mata seseorang itu.

Apa matanya seperti mata sayumu? Mata yang begitu indah dengan kisah-kisah yang sangat menghanyutkan. Oh, tidak. Benarkah? Benarkah jauh lebih indah dari matamu yang sudah begitu mempesona? Ah, mata sayu itu mengangguk penuh keyakinan. Tak dapat aku bayangkan mata seseorang itu kalau matanya jauh lebih indah dari mata sayu perempuan ini. Alangkah sulit melukiskan mata yang jauh lebih indah dari matanya, sebab bagiku mata sayu itu sungguh mata yang luar biasa indahnya, kalau ada yang lebih indah. Oh, kanvas mana yang bisa menampungnya? Kuas mana yang bisa menggoreskannya? Pantaslah kalau mata sayu itu begitu menyukai seseorang yang ia tunggu itu. Pantaslah. Sangat pantas.

Kini, barulah kupaham, mengapa perempuan pemilik mata sayu itu rela berhari-hari menunggu seseorang itu. Ia seseorang yang sangat istimewa, seseorang yang telah menorehkan sesuatu dalam hatinya, mencuri perhatiannya. Seseorang yang memiliki mata yang begitu indah, mata yang telah membetot mata sayu perempuan itu. Mungkin, jika aku yang menjadi perempuan itu, aku pun akan melakukan hal serupa, menunggu dan akan selalu menunggu seseorang bermata indah dan penuh cerita itu kembali dan bercerita lagi.

Itulah mengapa aku semakin rajin datang ke café ini setelah pulang dari kantorku di seberang jalan sana. Aku ingin menemui mata sayu itu, mendengarkan kembali cerita-ceritanya dan menikmati betapa indah bola matanya. Selain itu, aku ingin menemaninya menunggu seseorang itu, tentu ia lelah dan kesepian jika menunggu seorang diri. Dan juga, aku penasaran dengan seseorang yang ia tunggu itu: apa benar seseorang itu memiliki mata sayu yang jauh lebih indah dari matanya? Aku ingin menyaksikan sendiri keindahan mata seseorang itu dan juga menyimak cerita-cerita dari mata itu, tak hanya sekedar cerita dari mata sayunya.

Sejak jarum jam tepat di angka empat sore, aku telah duduk di bangku ini. Sengaja aku memilih meja yang paling dekat dengan meja yang saban petang ditempati pemilik mata sayu itu. Niatku telah bulat, aku ingin sekali bercerita langsung kepadanya, bukan hanya lewat mata sayunya. Sayang, rupanya petang ini aku harus kembali kecewa. Lagi-lagi, ia tak datang. Seperti petang-petang sebelumnya. Satu minggu sudah mata sayu itu hilang dari pandanganku.

Oh, ke mana rupa mata sayu itu? Apakah ia mulai lelah bercerita? Mungkin pula ia telah letih menunggu seseorang yang tak kunjung menemuinya itu. Atau, ceritanya telah tamat, hingga ia merasa tak ada gunanya duduk di café ini lagi sebab tak ada cerita yang bisa ia uraikan kepadaku.

Ah, aku tak akan menyerah begitu saja. Aku akan setia menunggunya, mungkin bukan petang ini, bisa jadi ia tengah sibuk, banyak pekerjaan, atau ada halangan yang menyebabkan ia tak bisa datang. Mungkin. Mungkin saja. Mungkin saja ia akan datang besok petang. Besoknya lagi atau besoknya lagi.

Aku akan menunggu mata sayu itu kembali, kembali bercerita banyak hal kepadaku, tentang seseorang yang ia tunggu. Tentu saja, untuk memastikan apakah ia datang atau tidak, aku harus menunggunya di café ini, di meja paling pojok. Meja yang bisa membuatku leluasa menatap jalanan di luar sana. Dari jam empat sampai enam petang, aku harus di sini, memesan kopi dan sepotong kue, lalu menyandarkan kepala di dinding kaca sembari memutar kembali semua cerita yang ia uraikan di mataku: mataku yang menjadi sayu karena hanyut akan cerita-ceritanya itu. (*)

/C59, ditulis dari pojok café yang sepi, Januari 2010.

Share on Facebook
A A A
Ada 2 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
Siti Maryam Purwoningrum @ Minggu, 9 Mei 2010 | 09:23 WIB
cerpen ini seperti "memutar-mutarkan" kisah tokoh-tokohnya, sebuah pilihan unik dalam bercerita dan menjadi trik menarik perhatian pembaca. Sukses buat Guntur!
Ujang @ Minggu, 9 Mei 2010 | 07:58 WIB
Huhh...perempuan, mata, menunggu, cafe? kayaknya sudah sering baca. Kurang greget cerpen ini.. :-(

Minggu, 25 April 2010

Sang Kolonel Menembak Seto dan Membuat Pikun Istrinya Sendiri

A.S. Laksana

SESUNGGUHNYA ia berpangkat mayor, tetapi saya akan menyebutnya sebagai kolonel demi kenikmatan pembacaan. Itulah alasan resmi kenapa saya tidak menyebut pangkat orang itu apa adanya. Alasan yang lebih jujur adalah karena kosakata "kolonel" sudah memukau saya sejak lama; seperti ada gema panjang di benak saya ketika saya membaca dalam hati kata itu atau mendengar orang lain menyebutkannya. Saya kira itu terjadi karena ada sejumlah kolonel di muka bumi yang membuat saya takjub: Kolonel Khaddafi, pemimpin yang makin tua makin panjang bicara sampai-sampai penerjemahnya jatuh pingsan, Kolonel Jose Aureliano Buendia, pemimpin revolusi di Macondo yang mengurung diri di masa tua dan menjadi pengrajin ikan-ikan kecil dari emas, dan Kolonel Sanders, penjual ayam goreng yang sama sekali bukan tentara.

Maka, dengan alasan yang sepenuhnya pribadi itulah Mayor Basuki dalam cerita ini akan saya sebut sebagai Kolonel Basuki atau sang kolonel saja (tanpa Basuki). Dan, karena saya sudah menyampaikan alasan saya menggunakan sebutan kolonel, anda mestinya bisa selalu ingat bahwa jika saya menyebut sang kolonel maka orang itu sesungguhnya berpangkat mayor. Sampai di sini saya yakin kita bisa bersepakat.

Sekarang, silakan anda buka peta kota Semarang dan temukan Tugu Muda sebagai titik keberangkatan. Kita akan bergerak dari sana ke selatan, mengikuti jalanan menanjak menuju Candi Baru (di daerah ini sang kolonel tinggal), dan kita akan memulai cerita dengan percakapan yang berlangsung pada suatu hari di tahun 1986 di rumah sang kolonel. Hari itu sang kolonel, yang sebenarnya mayor, mengatakan kepada istrinya bahwa apa yang terjadi pada Tari, anak bungsu dan satu-satunya anak perempuan mereka, bukanlah sesuatu yang berhubungan dengan karma. "Semua karena ulah Pramono," kata sang kolonel. "Kalau dia tidak membawa bajingan kribo itu ke rumah kita, Tari tidak akan mengalami nasib seburuk ini."

Sang kolonel tidak suka pada kosakata karma yang sering diulang-ulang oleh istrinya; ia merasa perempuan itu sedang menghujat atau, paling tidak, menyindir kedekatannya dengan perempuan Kaligarang yang beberapa tahun lalu menjadikan hubungan mereka berkobar sengit. Sementara itu istrinya tidak suka pada sebutan bajingan yang keluar dari mulut sang kolonel. Bagaimanapun, kata istrinya, si kribo itu ayah dari cucu mereka dan sampai sekarang Tari terus menunggu kedatangannya. "Kau sendirilah yang memintanya tinggal di rumah ini," kata perempuan itu. "Dan, kausebut apa pun dia, kalau bukan karena karma tak mungkin dia datang ke rumah kita."

Mereka membicarakan Seto, anda tahu, pemuda kribo yang pernah menyelamatkan Pramono, anak kedua mereka, dari keroyokan para kroco dan kemudian mengantarnya pulang. Di depan sang kolonel Seto menceritakan kejadian sesuai yang diwanti-wantikan Pramono sepanjang perjalanan. Karena itu sang kolonel tidak pernah tahu bahwa anaknya dikeroyok para kroco hingga lebam karena berniat kabur dari losmen tanpa membayar pelacur yang ditidurinya. Selebihnya, Seto menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai dirinya secara jujur sesuai versinya sendiri, di antaranya adalah fakta bahwa ia diusir dari rumah oleh ayahnya dan sekarang tidak punya tempat tinggal.

"Tinggallah di sini kalau begitu," kata sang kolonel. Seto berterima kasih dan sejak itu ia tinggal di rumah sang kolonel, menempati kamar belakang yang diapit oleh gudang dan kamar pembantu. Pagi-pagi ia mencuci mobil sang kolonel, malam hari ia menemani Pramono kelayapan, beberapa bulan kemudian ia meninggalkan rumah tersebut: meninggalkan benih di rahim Tari dan secarik kertas berisi puisi.

Tari berubah sejak itu. Ia enggan berangkat sekolah dan malas keluar kamar. Ketika kandungannya memasuki bulan keempat dan ujian kenaikan kelas tinggal enam minggu lagi, siswi kelas satu SMA itu mulai menunjukkan tabiat seperti anggota fanatik sebuah sekte: ia benar-benar mengurung diri di dalam kamar dan membaca berulang-ulang puisi yang dibuat oleh Seto untuknya. Ibunya, yang khawatir si bungsu menjadi gila, membuat keputusan yang ia pikir bisa menyelamatkan anak itu dari kegilaan. Ia menyuruh pembantu, yang mengantarkan makanan ke kamar Tari, untuk mencuri kertas yang dibaca anaknya kapan saja ada kesempatan. Dan si pembantu berhasil. Pada Kamis sore ia menyerahkan kertas kumal yang dicurinya dari kamar Tari kepada istri sang kolonel.

Namun upaya pencurian itu tak membawa hasil sebagaimana yang dibayangkan. Tanpa kertas puisinya, Tari kian fanatik memendam diri. Ia mengunci pintu kamarnya pada hari Jumat dan membaca puisi seperti orang mengaji seharian kendati tak ada kertas di tangannya. Sang kolonel mendobrak pintu kamar anaknya pada malam Sabtu setelah istrinya melaporkan, dengan mata sembab dan kalimat tersendat-sendat, bahwa Tari mengunci diri dan tak mengizinkan siapa pun masuk ke kamarnya. Tari, yang sedang mengaji puisi, tidak terkejut sedikit pun ketika pintu kamarnya berderak jebol. Pada hari Minggu pagi sang kolonel mendatangkan tukang kayu untuk memperbaiki pintu; pemilik kamar terus berpuisi selama tukang itu bekerja.

Sampai anaknya lahir dan seterusnya, Tari tetap begitu dan ia baru membuat sedikit perubahan ketika anaknya memasuki usia lima tahun. Pada suatu hari di bulan Agustus, ia keluar kamar setelah selesai azan magrib dan bertahan di teras kamar hingga tengah malam, duduk di kursi goyang miliknya dan merajut kain flanel di tangannya. Anda tak akan bisa tahu apa yang ada dalam pikiran anak itu ketika ia duduk berjam-jam di kursi goyangnya; ia tak pernah membicarakan isi pikirannya kepada siapa pun. Paling banter kita hanya bisa menduga, demi kepentingan dramatik, bahwa mungkin Tari sedang membayangkan dirinya naik kuda yang mencongklang ke langit, meyakini bahwa jaraknya semakin dekat dengan juru selamat yang ia tunggu-tunggu.

Dan, jika kemungkinan itu benar, alangkah kasihan anak itu sebab sesungguhnya Seto kian jauh. Pada bulan yang sama ketika Tari mulai keluar kamar, si kribo menikahi perempuan kurus yang dijuluki cacing. Anda tahu, itu hanya pernikahan demi menyelamatkan muka. Si cacing, adik kepala gali yang menguasai bagian utara Semarang, sudah hamil enam bulan dan tidak pernah mau mengaku siapa yang telah mencangkul dan menghamilinya. "Perintahkan salah satu anak buahmu untuk menikahinya. Tidak apa-apa kalaupun hanya bertahan seminggu, yang penting ia resmi menikah," kata ayah si cacing kepada anaknya yang menjadi gali.

Kakak si cacing meminta Seto. Dan itu permintaan yang susah ditolak. Kepala gali daerah utara itulah yang menjadi pelindungnya di awal-awal Seto menguasai Kandang Wong, markas para gali Semarang Barat, setelah Marsudi ditemukan mati di selokan. Maka, Seto menikahi si cacing meski ia tidak lagi memiliki batang lingga. Perangkat itu, yang membuat Tari hamil, telah dipotong tiga tahun sebelumnya, pada dinihari di dekat kuburan, oleh dua algojo suruhan sang kolonel yang selama berbulan-bulan melacak jejak Seto.

MENGENAI pernikahan Seto itu, tak seorang pun di rumah sang kolonel tahu atau mendengar kejadiannya. Saya kira itu sebabnya kenapa istri sang kolonel sesekali masih mendesak suaminya agar menemui Seto (bahkan sampai bertahun-tahun setelah si kribo tertembak mati) dan membawanya pulang demi keberesan Tari, namun sang kolonel memiliki gagasan yang berbeda tentang cara menyembuhkan anak bungsunya. Pada Selasa pagi, sebelum ia dan istrinya sepenuhnya terjaga, sang kolonel menyampaikan bahwa sebaiknya Tari diperiksakan. Gagasan itu membuat mata sang istri berpijar seperti matahari pukul sembilan kendati saat itu baru pukul setengah lima.

"Jadi kau menganggap anakmu gila?" istrinya melengking. "Aku tidak akan membawanya ke dokter mana pun selama aku masih sanggup mengurusnya sendiri. Ia hanya menderita karena karma darimu."

"Aku hanya usul," kata sang kolonel. "Kenapa kau selalu menyalahkan aku?"

"Kau main serong dengan perempuan itu dan sekarang anakmu menanggung akibatnya," kata istrinya.

Sang kolonel bersumpah bahwa hubungannya dengan perempuan Kaligarang sudah berakhir. "Kau tahu, aku meninggalkannya sehari setelah kita ribut," katanya. Itu pernyataan bohong, anda tahu, sebab sang kolonel sebulan sekali masih menjumpai pacarnya, perempuan Kaligarang yang sekarang tinggal di Ungaran.

"Maafkan aku," kata istrinya.

Perempuan itu mengatakan bahwa ia sangat tertekan sejak Tari mendapatkan nasib buruknya. Sang kolonel, di saat istrinya melunak, memberi saran-saran klise kepada istrinya untuk tabah dan selalu berpikir positif. Dan ketika ia melihat istrinya sudah agak tenteram, tumbuh lagi keinginannya untuk membuka pembicaraan tentang kemungkinan membawa Tari ke dokter--kali ini dengan cara yang agak melingkar. Ia mula-mula menyampaikan rasa kasihannya kepada Tari. Menurutnya, tidak mungkin anak bungsunya itu dibiarkan menunggangi kursi goyang seharian, menusuk-nusuk kain flanel untuk membuat kruistik dengan gambar perahu atau gunung dan membongkarnya lagi setelah gambar itu jadi. "Kurasa tidak baik jika ia terus begitu," kata sang kolonel. "Jadi, menurutku, ia tetap perlu diperiksakan."

Menanggapi perkataan suaminya, sang istri tetap mengatakan, di tengah isak yang belum reda seluruhnya, bahwa itu juga kesalahan sang kolonel. "Kau juga yang memberikan hadiah kursi goyang itu di hari ulang tahunnya," katanya.

"Karena aku kasihan ia duduk seharian di kursi biasa," kata sang kolonel.

"Jika kita membawanya ke dokter, semua orang akan menganggap anak kita gila," kata istrinya. "Lebih baik kautemui Seto dan bawa ia kemari."

"Bajingan itu tak pernah bisa kutemui sejak ia meninggalkan rumah ini," kata sang kolonel.

Itu pernyataan yang sama bohongnya dengan sumpah sang kolonel tentang perempuan Kaligarang. Dua tahun sebelum pagi itu, kira-kira enam bulan sebelum dilangsungkannya pembantaian terhadap para gali pada tahun 1984, sang kolonel sudah pernah menemui Seto di Kandang Wong. Ia mencabut pistol dari pinggangnya dan mengarahkan moncong senjata tersebut dekat sekali ke kepala Seto. "Sampaikan salam saya untuk Tari seandainya hari ini saya mati," kata Seto. "Sampaikan maaf saya kepada ibu dan seluruh keluarga. Sampaikan rasa cinta saya kepada anak yang dilahirkan oleh Tari. Sampaikan...."

Sang kolonel seperti mendengar seseorang yang mengigau sebelum mati dan menitipkan banyak sekali pesan dalam racauannya. Amarahnya membludak tak tertahankan; tubuhnya gemetar hebat dan sebentar kemudian ia pingsan. Sang kolonel tidak pernah menceritakan peristiwa tersebut kepada istrinya. Ia hanya menyesali kenapa tidak menembak mati bajingan itu. Ia tak tahu kenapa tangannya gagal menarik pelatuk. Dan, lebih dari itu, ia bahkan meluluskan permintaan istrinya ketika perempuan itu memohonkan hidup bagi Seto. "Bantailah semuanya, tetapi jangan Seto," kata istrinya. "Ia ayah cucumu."

Maka Seto selamat ketika sebagian besar anak buahnya mati dalam operasi pembantaian. Ia menghilang dan baru muncul lagi di Semarang satu setengah tahun kemudian di sebuah toko lemari besi. Di situ ia berlagak hendak membeli lemari besi yang paling kuat dan peti kecil untuk menyimpan uang. Pemilik toko menunjukkan barang yang ia tanyakan dan mengatakan bahwa itu lemari dan peti besi paling kokoh dan paling aman dibandingkan yang lain-lainnya. Kepadanya Seto meminta ditunjukkan cara kerja kunci lemari dan peti itu sehingga ia bisa yakin bahwa kedua barang yang hendak dibelinya itu benar-benar kokoh.

Setelah permintaannya dipenuhi, Seto meminta ditunjukkan model pengamanan pada lemari-lemari besi yang lain. Dan ia kemudian membuat kesimpulan: "Memang yang paling mahal itulah yang terbagus pengamanannya. Aku akan meyakinkan bosku untuk membeli lemari dan peti yang paling mahal itu. Besok aku kemari lagi."

Ia keluar dari toko itu dan tidak pernah kembali pada hari berikutnya atau kapan pun. Ia justru muncul lagi di pabrik kunci dan gembok dan diterima bekerja di sana. Di antara teman-teman sepabriknya, ada satu orang yang terdengar sangat takabur dan mengakui bahwa ia sanggup membongkar kunci apa saja. Katanya, ia telah menolong banyak orang di kampungnya dan orang-orang di kampung sebelah yang kehilangan kunci lemari atau kunci rumah. Kepada orang itu Seto mengatakan bahwa kelihatannya mereka bisa bekerja sama.

Istri Seto tampak lebih tenteram sejak suaminya bekerja seperti orang-orang lain--berangkat pagi, pulang sore, dan menerima gaji yang tidak besar di akhir bulan. Di luar jam kerjanya di pabrik, Seto menghabiskan waktu di kamar untuk menekuni segala jenis kunci dan gembok. Lihatlah, ia menghadapi kunci dan gembok seperti anak sekolah menghadapi kertas ulangan. Si cacing merasa kehidupan sedang berjalan menuju normal. Di mata perempuan itu, suaminya tampak mulai menyukai rutin dan keajekan, dan itu sungguh perubahan yang besar.

Dan si cacing keliru.

SETO memang sedang berubah, namun bukan untuk menjadi buruh pabrik. Dari buku Bagaimana Para Detektif Bekerja, yang ia beli suatu sore sepulang dari pabrik, Seto menjadi tahu bagaimana tidak membuat kesalahan yang biasa dilakukan oleh para penjahat ulung. Kini ia menjadi orang yang sangat berhati-hati dan penuh pertimbangan. Ia memperhitungkan segala hal, termasuk bagaimana melatih sikap tenang jika kelak ia menjalankan apa yang ia rencanakan.

Sebuah buku lain, Tata Rias dalam Perfilman, yang ia pungut dari rak toko buku beberapa saat sebelum toko itu tutup, memberinya gagasan tentang pemalihan rupa. Untuk mudahnya, kita sebut saja bahwa ia mencuri buku tersebut karena ingin menjadi Dasamuka. Menurutnya, jika orang memiliki sepuluh wajah, ia niscaya bisa melakukan apa saja lebih leluasa dan tak akan ada orang lain yang bisa mengenali wajah aslinya sebab esok hari ia sudah berwajah lain. Atau mungkin tiap hari ia bisa menampilkan wajah yang berbeda, sehingga orang yang ia temui kemarin tak bisa mengenalinya hari ini, dan yang ia temui hari ini tak akan mengenalinya besok, dan seterusnya. Dan Seto mulai mewujudkan gagasan tersebut dengan memotong rambut kribonya dan selanjutnya berusaha mendapatkan, dengan segala cara, beberapa model rambut palsu untuk ia kenakan berganti-ganti.

Kelak, dengan bantuan dua orang, yakni temannya di pabrik yang mampu membongkar semua jenis kunci dan seorang perias artis yang sudah jarang mendapatkan pekerjaan, Seto menjalankan aksinya untuk membongkar pelbagai lemari besi dan peti uang. Sepanjang kariernya sebagai pembobol, ia berhasil membongkar 14 lemari besi, mengeruk isi 12 peti uang, dan mengumpulkan sekitar Rp 230 juta yang sebagian ia habiskan untuk berfoya-foya dan merias wajahnya.

Ia mati dalam rupa pedagang barang rongsokan, lima hari menjelang ulang tahun kesepuluh anak Tari. Sang kolonel menembaknya pada sebuah petang, tepat di jidat, ketika kepala Seto menyembul dari balik tembok belakang rumah. Anda tahu, Seto tidak berniat menggarong di rumah sang kolonel. Ia hanya merasakan dorongan kuat untuk datang lagi hari itu ke rumah sang kolonel, menjenguk Tari dan anaknya, namun ia tidak memiliki keberanian untuk mengetuk pintu depan. Begitu kepalanya menyembul, ia menyaksikan Tari menunggangi kursi goyang di teras kamar dan anaknya berlari-lari pecicilan di pekarangan. Dan ia terpaku beberapa saat oleh pemandangan itu.

Pada saat yang bersamaan, istri sang kolonel hendak menutup jendela kamarnya dan ia terkesiap menyaksikan sebutir kepala menyembul dari balik tembok belakang. Sang kolonel, yang baru pulang dari kantor, segera meraih pistolnya dan menembak kepala tersebut. Sampai datang mobil jenazah yang membawa mayat Seto ke rumah sakit, dan mungkin sampai bertahun-tahun kemudian, sang kolonel tetap menyangka bahwa petang itu ia menembak seorang pemulung yang berniat menggarong rumahnya.

Tari terus menunggang kursi goyangnya. Dan istri sang kolonel menjadi tampak pikun di usia 55; ia semakin sering mendesak suaminya agar menemui Seto dan membawanya ke pulang demi anak bungsu mereka.

A.S. Laksana tinggal di Jakarta. Buku cerita pendeknya adalah Bidadari yang Mengembara (KataKita, 2004).

Pada suatu hari di bulan Agustus, Tari keluar kamar setelah selesai azan magrib dan bertahan di teras kamar hingga tengah malam, duduk di kursi goyang miliknya dan merajut kain flanel di tangannya. Anda tak akan bisa tahu apa yang ada dalam pikiran anak itu ketika ia duduk berjam-jam di kursi goyangnya; ia tak pernah membicarakan isi pikirannya kepada siapa pun. Paling banter kita hanya bisa menduga, demi kepentingan dramatik, bahwa mungkin Tari sedang membayangkan dirinya naik kuda yang mencongklang ke langit, meyakini bahwa jaraknya semakin dekat dengan juru selamat yang ia tunggu-tunggu.

Catatan ke 23

Suatu hari, dimana kami, mempertimbangkan kembali akar. Suatu hari – kondisi telah menentukan takdir kami secara alami; law of nature. Suatu hari sastra, yang dipertimbangkan secara estetispun. Sesungguhnya landasan “pengetahuan”. Kita bergerak “mengetahui”. Sastra adalah upaya membicarakan law of nature. Jangan terjebak dengan pemahaman ini!


17 Juni 2010


Laman